Ashoka pun melangkah ke dalam, mendekati ke tempat ibunya bekerja. Dharma memperhatikan Ashoka. Ashoka berhenti di depan ibunya, dibatasi tuas kayu penggiling. Ashoka menatap ke tangan ibunya, menyentuhnya, ibunya meringis, Ashoka mengangkat tangannya. Kemudian dengan hati-hati, memegang punggung tangan ibunya, membalikkannya, terlihat telapak tangan ibunya dekat pergelangan, yang menumpu tuas, terluka. Dharma hanya bisa menundukkan pandangannya, menahan kesedihan melihat Ashoka yang sedih.

Ashoka menatap Dharma, “kenapa kau dihukum seberat ini ibu, katakan, apa yang terjadi”. Dharma menunjukkan wajah senyum, “setiap manusia punya batasan, dan aku sudah melanggarnya”. Ashoka menahan perasaannya, “kenapa aku merasa bahwa ibu saat ini menjalani hukuman atas kesalahan yang tidak ibu lakukan”. Dharma menghembuskan nafas, “aku melakukan hal yang ku anggap baik, dan belum tentu, apa yang kuanggap baik, dia akan baik juga bagi orang lain. Aku ingin tau, apa yang kau katakan saat rapat tadi”.

Ashoka #151 10 episode

Ashoka menjelaskan sampai batas yang ibunya boleh tau, “semua itu benar bu. Permaisuri Dharma mempunyai seorang putra, dan dimana mereka berdua, tidak ada yang tau sekarang”, sambil menatap ibunya dengan tatap kesedihan yang dalam. Dharma menatap Ashoka dengan mata ingin tau apa yang dipikirkan anaknya itu. Ashoka mengangkat separoh patung wajah Dewi Dharma yang selama ini dia bawa-bawa, kepalanya menggeleng, “aku tidak berhasil mencarinya”. Dharma menatap Ashoka dengan tatap sedih, tak bisa berbuat apa-apa.

Ashoka kemudian menatap ibunya, “dan hari ini kasih sayang yang aku lihat dimata Yang Mulia bagi putranya, keinginan Yang Mulia untuk bertemu putranya, setelah itu aku punya niat agar mereka dapat secepatnya di pertemukan kembali”. Prajurit yang berjaga dipintu berteriak, “waktu pertemuan sudah habis”. Ashoka pura-pura menjatuhkan patung yang dipegangnya ke arah kaki ibunya. Dharma memperhatikan, Ashoka tanpa kentara berlutut, seakan mengambil patung itu, padahal ujung jarinya menyentuh kaki ibunya, meminta restu. Dharma berdiri menahan diri agar tak spontan menyentuh kepala Ashoka, seperti yang selama ini ia lakukan.

Ashoka #151 11 episode

Ashoka sambil menyentuh kaki ibunya, membathin, ‘aku berjanji padamu, selama aku belum menghilangkan segala penderitaanmu, selama aku tidak mempertemukanmu dengan ayah, selama aku belum membuktikanmu tidak bersalah, dan selama aku tidak mengembalikan hak dan kehormatan padamu, selama itu, aku juga akan menjauh dari kasih sayang ayahku bu”, dengan mata penuh tekad. Dharma menahan tangis, tanpa kentara ia mengusap kepala Ashoka.

Ashoka berdiri, menatap ibunya dengan tatap sebuah tekad, “aku akan menyelesaikan kisah cinta Yang Mulia yang terganggu itu bu. Aku akan mempertemukan ia dengan permaisurinya dan juga putranya bu”. Dharma terpana mendengar tekad yang diucapkan Ashoka. Ashoka kemudian melangkah keluar ruangan ibunya bekerja dengan wajah kaku.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :