Cansu-Hazal Sinopsis: Awal Kisah Tertukarnya Cansu & Hazal, Kecelakaan Membuka Tabir Itu (episode #1)


Kisah serial Cansu dan Hazal diawali saat Gulseren yang sedang hamil tua berbelanja buah dan sayuran di pasar. Seorang ibu usia lanjut yang juga berbelanja dengan temannya berkomentar melihat perut Gulseren yang membuncit, “sudah bulannya ya”. Gulseren tersenyum, “sudah menunggu hari”.

Cansu Hazal #1 00

Si ibu bertanya lagi, “sudah tau laki-laki atau perempuan?”. Gulseren dengan senyum penuh kebahagiaan mengangguk, “perempuan”. Si ibu ikut tersenyum bahagia, “syukurlah, semoga berbahagia bersama keluarga yaa”. Gulseren yang sudah menenteng beberapa kantong belanjaan tersenyum, “aamin”. Ibu yang tadi bertanya melanjutkan memilih sayuran.
Bapak-bapak penjual yang sudah selesai mengantongi belanjaan Gulseren, menyerahkannya, “silahkan”. Gulseren dengan wajah dihiasi senyum mengambilnya, “ini uangnya”. Si bapak memberikan kembaliannya. Sebelum jalan meninggalkan kios belanja Gulseren menoleh ke ibu yang bertanya tadi, “sampai nanti”, kemudian pada bapak si penjual, “terima kasih”. Si bapak dengan tersenyum membalas, “sama-sama”.

Gulseren dengan langkah ringan menenteng kantong belanjaan di kedua tangannya. Ia kemudian menyebrang jalan, melihat ke kiri, saat ada mobil yang memberi tanda kedipan lampu, ia tetap melangkah, tanpa di duga dari arah kanan ada sebuah mobil yang melintas, merem mendadak, tapi tetap menyenggolnya. Karena terkejut, Gulseren berteriak kaget, kantong belanjaan yang ada di kedua tangannya terlempar, ia tergolek di aspal.

Orang-orang datang berkerumun, “ya ampun, lihat kondisinya”, pengemudi mobil yang menyenggolnya juga turun dengan teman wanitanya yang sangat terkejut, “ya Tuhan”. Orang-orang menyimpulkan, “ia akan segera melahirkan, kita harus menolongnya cepat. Ayo cepat!”.

Cansu Hazal #1 02

Tak berapa lama, Gulseren sudah di bangku belakang mobil yang mengenainya, disebelahnya duduk teman wanita si pengemudi. Gulseren menahan sakit akibat mules akan melahirkan, “aaaauuuu”. Wanita yang duduk di sebelahnya ikutan panik, “tenangkan dirimu nyonya, tenanglah”, sambil merebahkan punggung Gulseren agar bersandar, “tidak apa-apa, tarik nafas, tarik nafas yaa”. Si pengemudia juga ikutan bersuara dengan wajah panik, “tarik nafasmu! Tenanglah semuanya”.

Gulseren terus mengerang menahan mules, wanita yang disebelahnya mengingatkan, “tenang nyonya, tenang”. Si pengemudi sedikit panik melihat Gulseren yang terus bersuara seperti tak tahan akan melahirkan, “tenangkan dia”. Si wanita pun terus bersuara, “tenang nyonya, sebentar lagi sampai, tarik nafas”. Lelaki yang menyetir juga bersuara, “tolong tenang, kita hampir sampai”.

Gulseren mengatur nafasnya, “wooohh, hufff, rumah sakit mana?”. Wanita yang mendampinginya menjawab, “ada rumah sakit swasta dekat sini”. Gulseren mencoba menolak, “tidak, aku harus ke rumah sakit umum, dataku ada disana”. Lelaki yang menyetir mengingatkan, “itu tidak mungkin, disana macet parah”. Gulseren merasakan mules lagi, “aaauuuuhh, aaaauuuuh”, sambil menyandarkan punggungnya dengan lemas. Si wanita terus mensupport, “tenanglah, tenang. Dia kesakitan, cepatlah Pada”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Iklan

Gimana Menurutmu Kawans? :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.