Ashoka: Dharma Dituduh Menghina Sushima, Ashoka Ingin Menyatukan Ayah & Ibunya, Chanakya Memberi Nasehat, Merestuinya Sebagai Pangeran


Ashoka jadi ingin tau siapa yang membuat keluarganya terpisah, “siapa musuh-musuh itu, siapakah yang sudah menimbulkan prasangka di dalam hati ibuku bahwa ayahku ingin menghabisi ibuku?! Siapa yang membiarkan ibuku jauh dari ayahku selama sekian tahun! Apakah ini musuh, yang menuduh seluruh siasat ini dilakukan oleh ibuku? Siapa musuh itu, yang meskipun kau sudah tau, sampai sekarang kau tidak bisa melakukan apapun Acharya!”.

Chanakya kembali menjelaskan situasinya pada Ashoka, “kau ingat bukan, semuanya menginginkan singgasana, walau Yunani atau Khorasani”. Wajah Ashoka mengernyit, terpana. Terbayang saat dulu dia mengejek orang-orang kerajaan, “semuanya menginginkan singgasana, baik Yunani ataupun Khorasani!”.

Ashoka #148  episode 136 12

Ashoka menatap Chanakya dengan wajah semakin serius, “artinya, dalam siasat ini yang ikut campur selain Justin, Mir, Mir Khorasa juga?”. Chanakya mengiyakan dengan menutupkan matanya. Ashoka terpana, ia terbayang suasana sidang, saat Yang Mulia Bindusara meragukan kejujuran Khorasan, ‘kenapa kau bohong Mir, kenapa kau bohongi aku bahwa kau melihat jasadnya!”. Saat itu, Khorasan membela diri, “Yang Mulia, mungkin saja empat belas tahun yang lalu, aku telah salah lihat”.

Mata Ashoka semakin terbelalak, betapa Khorasan telah berbohong pada ayahnya. Ditambah lagi penjelasan Khorasan yang lain, “ketika pernikahan Justin berlangsung, aku juga merasa aku lihat dia, aku mengejar dia tapi mendadak istana lak itu terbakar”. Mata Ashoka yang melotot, berubah mengernyit, terbayang saat dia bertemu ibunya untuk membawanya ke tempat ruang Chanakya yang masih pingsan, ia menemukan ibunya dalam keadaan gemetar, “kenapa ibu ketakutan? Dan, dan kenapa ibu lari?”. Saat itu, ibunya memberi alasan, “Ashoka, aku ingin memberitau sebelumnya rasanya akan terjadi musibah disini”.

Wajah Ashoka mengeras, terbayang lagi peristiwa yang lain, saat ia mencari informasi pada Erawat, mantan prajurit Khorasan, “apa yang terjadi empat belas tahun, aku sudah meninggalkan ingatan itu di tempat itu juga. Ketika aku keluar dari pasukan, aku tidak mau bicara soal Mir Khorasan lagi”. Wajah Ashoka semakin mengeras, gerahamnya menggertak, terbayang ucapan nenek buta sebelumnya tentang ibunya Shubadrangi saat memberikan koin yang sudah terbakar, “mungkin ini milik orang jahat itu, atau bisa juga berguna bagimu Ashoka”.

Ashoka semakin menahan geram, terbayang saat dia menemukan koin baru yang sama, di gubuk si nenek, saat si nenek memberikan informasi tentang Dewi Dharma, tapi kemudian ada yang menghabisinya dengan panah. Ia membandingkan dua koin yang di dapatkannya dalam waktu berbeda itu, “musuh ibuku dan musuh permaisuri Dharma adalah sama?!”.

Ashoka bicara dengan geraham terkatup, “Mir Khorasan harus mati! Karena perbuatan Mir Khorasan, ayah dan ibuku sangat menderita! Dan semua itu”. Ashoka mengangkat pedangnya, “harus dia bayar dengan nyawanya sendiri”. Chanakya mengingatkan Ashoka yang marah, “perbuatan ini tidak akan menguntungkan ayah dan juga ibumu nak. Kalau penyelesaiannya adalah menghabisi Mir Khorasan, dari dulu sudah aku lakukan hal itu!”. Ashoka menurunkan pedangnya kembali, mendengarkan ucapan gurunya.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Iklan

Satu respons untuk “Ashoka: Dharma Dituduh Menghina Sushima, Ashoka Ingin Menyatukan Ayah & Ibunya, Chanakya Memberi Nasehat, Merestuinya Sebagai Pangeran

Tinggalkan Tanda Kehadiran Mu Kawans? :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.