Ashoka: ‘Menjemput’ Kenangan Ayah & Ibunya, Dapat Bukti Kuat Dia Seorang Pangeran. Ahankara Dipaksa Berbaik Dengan Sushima, Dharma Diperlakukan Kasar


Ashoka #147 05 episode

Ibunya dengan penuh senyum duduk dibangku kecil dibawah pohon, yang juga diatap jerami, di depannya duduk bersila anaka-anak calon biksu, “melakukan kekerasan itu, marah, iri hati, membenci, menjadi angkuh, begitu ada tantangan langsung mengangkat senjata. Tapi anti kekerasan, anti kekerasan itu adalah hal yang sulit untuk dilakukan, karena anti kekerasan itu adalah jalan menuju perdamaian, jalan saling mema’afkan”. Ashoka seperti bisa melihat kekaguman dimata ayahnya dulu saat menatap ibunya, walau sekarang di tempatnya berdiri, hanya ada rumput dan puing-puing.

Ashoka terngiang kembali ucapan Yang Mulia Bindusara, ‘mendengar pemikirannya, aku merasa dia berbeda dari yang lainnya. Dan perbedaan inilah yang membuatku merasa tertarik kepadanya’. Ashoka sekarang seperti bisa melihat dengan jelas kenangan yang diceritakan Yang Mulia dulu padanya, tentang pernikahan beliau dengan Dewi Dharma yang tak lain adalah ibunya. Ashoka bisa melihat kenangan ayah dan ibunya saling mengalungkan bunga, mengelilingi api suci pernikahan. Ashoka berdiri ditempatnya dengan tubuh lunglai.

Ashoka membalikkan badan, mencoba menjemput kenangan lain ayah dan ibunya, dari cerita yang sudah begitu banyak di dengarnya, dan sekarang bisa dihubungkannya. Ashoka menarik nafas, ia seakan bisa melihat dengan jelas saat ibunya memohon pada ayahnya dengan berlutut, agar ayahnya ingat kewajibannya sebagai raja, “Yang Mulia, aku beruntung mendapatkan kesempatan untuk bisa melayanimu Yang Mulia”.

Ashoka #147 08 episode

Ashoka berdiri dengan tatap sedih, di hadapannya seperti terputar film kehidupan ibunya, saat ayahnya dijemput Mir Khorasan agar mau kembali ke Pataliputra. Tapi ayahnya tak mau, maka ibunya membujuk dengan sangat tulus, “kondisimu sekarang sudah sehat, pergilah, kerajaan dan rakyatmu saat ini sangat membutuhkanmu”. Dihadapan Ashoka kembali hanya hamparan kosong, ia melangkah lebih dekat memasuki bekas pondok ibunya.

Kaki Ashoka tertahan, tatapannya semakin sedih, dihadapannya seperti terbayang perpisahan ayah dan ibunya. Ia bisa melihat bagaimana ketulusan ibunya yang berusaha meyakinkan ayahnya yang seorang raja, padahal mereka masih dalam suasana pengantin baru, ‘pertemuan kita harus jadi sebab kebaikan bagi Magadh, bukan kehancuran’. Ashoka bisa melihat tatap cinta dari mata ayahnya, untuk ibunya, ‘tentu saja akan menjadi sebuah kebaikan. Aku berjanji padamu, setelah menunaikan kewajibanku, aku pasti akan kembali untuk menjemputmu’.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Iklan