Ashoka: Mengetahui Kebenaran, Ibunya, Shubadrangi Adalah Dewi Dharma Istri Yang Mulia Bindusara


Singa simbol penjelmaan Chadragupta Maurya mengaum dengan semangat, seakan mengisyaratkan bahwa ucapan si biksu sangat benar sekali. Ahsoka tetap diam dengan pandangan tertunduk dan wajah sedih. Biksu merapatkan kedua tangannya di depan dada, “kau, kau pangeran”. Wajah Ashoka yang penuh air mata tetap diam. Biksu berlutut di depan Ashoka, memberi sikap hormat, “pangeran Ashoka”. Ashoka menahan rasa geram pada kenyataan yang baru saja di ketahuinya, dan biksu langsung mengakuinya sebagai pangeran.

Ashoka menjawab biksu dengan menahan sesak di dada, gerahamnya merapat, “Ashoka, Aku Ashoka! Bukan pangeran!”. Biksu tetap dengan sikap hormatnya, ia menatap Ashoka yang marah pada kenyataan, kebenaran siapa dirinya yang sebenarnya. Nafas Ashoka sesak, berfikir, tanpa permisi, ia membalikkan badannya, melangkah keluar tempat tinggal biksu dengan wajah marah.

Ashoka #146 15 episode

Biksu bangkit dari sikap berlututnya, dia memahami apa yang dialami Ashoka, ia berteriak, “lari dari kenyataan tidak bisa membebaskanmu dari kenyataan pangeran! Kau bisa memalingkan wajah dari kebenaran! Tapi kebenaran tetap akan berada dihadapanmu!”. Ashoka terus melangkah. Biksu menatap Ashoka yang menjauh dengan tatap tajam seorang bijak yang menjadi saksi terungkapnya sebuah kebenaran.

Ashoka terus melangkah, walau hujan turun membasahi desa kelahiran ibunya dan tempat dia dilahirkan. Langkahnya lebar-lebar, terngiang lagi ucapan biksu sebelumnya, ‘jangan-jangan yang kau maksudkan adalah Yang Mulia Bindusara, tapi, wanita itu bukan bernama Dharma’. Ashoka terus melangkah dalam hujan, terngiang saat dia dengan rasa ingin tau yang besar bertanya, ‘lalu, menikah dengan siapa?’. Biksu pun menjawab dengan penuh keyakinan, ‘Shubadrangi’.

Ashoka #146 16 episode

Ashoka sampai di bekas perumahan ibunya yang masih ada sedikit sisa-sisa gubuk yang terbakar, langkah Ashoka melambat, dia terbayang saat ia mempertanyakan keberadaan ayahnya pada ibunya, saat dulu ibunya marah karena membuat Chanakya muncul di tempat tinggal mereka, gara-gara cincin yang dipamerkannya di tengah keramaian, ‘jangan-jangan cincin ini ada kaitannya dengan pria yang menyebabkan kita menderita!’.

Saat itu, ibunya menjawab dengan agak marah, “ibu sudah bilang, kita tidak akan membicarakan hal ini sebelum waktu yang tepat!”. Tubuh Ashoka seperti kehilangan tenaga, ia terbayang lagi saat dia bertemu ibunya di ruangan Chanakya saat pertama kali kedatangannya di Pataliputra yang membuat rusuh. Ibunya berpesan, ‘ingat putraku, kau harus ikut Acharya kemanapun dia membawamu, kau harus ikut dengannya’.

Saat itu, dia sangat marah pada keputusan ibunya yang memberikan hak pengawasan pada Chanakya, “berarti kau berikan hak padanya! Jangan-jangan dia memaksa ibu untuk mengatakan hal seperti ini!”. Ibunya menenangkannya, “tidak putraku, setiap keputusan yang diambil adalah demi keamanan dan juga kebaikanmu”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Iklan