Ashoka sebenarnya agak canggung dengan sikap Ahankara yang ekspresif tersebut. Tapi Ahankara tetap penuh senyum dan semangat, “aku akan perkenalkan kau pada ibuku”. Ashoka tersenyum. Ahankara menarik tangan Ashoka masuk ruangan. Ahankara kemudian berdiri disebelah ibunya, “ibu, ini satu-satunya sahabatku di seluruh Pataliputra ini, Ashoka”.

Ashoka #141 22

Permaisuri Niharika mengangkat dagunya memperhatikan Ashoka yang hanya berpakaian ‘biasa’ saja. Ashoka berdiri dengan sikap sopan dan penuh percaya diri. Ahankara terus mengungkapkan persahabatannya dengan Ashoka, “kalau dia tidak ada, aku pasti tidak ada disini bu. Dan melalui bantuannya mengirimkan kabar padamu”. Niharika sedikit menunjukkan wajah ramah pada Ashoka, “Ohya”, kemudian melangkah mendekat kehadapan Ashoka, “kalau begitu aku harus mengucapkan terima kasih padanya”. Ahankara tersenyum mendengar respon ibunya.

Ashoka tidak merasa ada hal yang istimewa, dia tetap dengan tujuannya ke ruangan Ahankara, merespon ucapan permaisuri Niharika, “ma’afkan aku, aku tidak menyangka akan mengatakan ini pada anda. Tetapi menurutku, anda telah salah sangka dalam memahami semua hal disini. Yang Mulia, tidak pernah meninggalkan Dewi Dharma, dia tidak pernah mengkhianatinya, dan sejauh aku mengenal Dewi Dharma melalui Yang Mulia, dia tidak mungkin menipunya”. Ahankara menundukkan wajah mendengar uraian Ashoka.

Niharika meyakinkan Ashoka tentang pendapatnya, “walau kau percaya atau tidak, bukti tidak akan berubah menjadi kebohongan”. Ashoka yang tidak tau kalau Niharika sudah bersekongkol dengan Khorasan, berusaha meyakinkan Niharika, “bukti yang ada pasti benar, tapi berarti itu bukan hal pasti. Lagipula siapa yang tau apa yang terjadi empat belas tahun lalu? Mungkin saja, ada kesalahan di dalam pemahaman itu, dan,,”.

Permaisuri Niharika langsung memotong ucapan Ashoka, “itulah yang ku katakan, siapa yang tau apa yang terjadi empat belas tahun yang lalu?!”, sambil mengangkat bahu. Ahankara merasa tak enak hati mendengar percakapan Ahsoka dengan ibunya. Ashoka menundukkan pandangannya dengan sedih. Niharika tersenyum melihat Ashoka tidak bersemangat lagi berdebat dengannya, “untuk itu harus memasuki masa lalu kan? Dan itu mustahil! Jika hal itu mustahil, kenapa, harus membuang-buang waktu?”, sambil tersenyum penuh kemenangan menatap Ashoka yang terlihat berfikir menatapnya. Ahankara hanya bisa menelan ludah mendengarnya.

Tiba-tiba, adik Ahankara yang masih bayi menangis, Ahankara dan permaisuri Niharika bersamaan duduk di kiri dan kanan bayi yang sedang menangis itu. Ashoka perlahan membalikkan badan, ia membathin, ‘meski aku tidak bisa memasuki masa lalu, tidak masalah. Aku bisa pergi ke tempat darimana semua ini bermula’. Ashoka memindahkan pedang yang dipegangnya ke tangan satunya lagi, persis Bindusara melakukan hal yang sama, kemudian melangkah yakin keluar dari ruangan itu.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :