Ashoka #141 17

Chanakya meyakinkan Dharma, “Dewi, aku yang bertanggung jawab untuk menjaga keselamatanmu, akulah yang mengajakmu dan Ashoka ke Pataliputra. Dan apapun yang harus ku lakukan demi menyelamatkanmu, dan juga Ashoka, akan ku lakukan. Oleh karena itu aku harus mengantarmu jauh dari Pataliputra, ketempat yang aman Dewi”. Dharma lemas mendengar pilihan hidup selanjutnya yang harus dia jalani, ia membelakangi Chanakya, berfikir.

Di kamar Helena, pembicaraan Yunani dan Khorasani masih berlanjut. Noor mengingatkan Helena, “tapi apa kau merasa bahwa mencari Dharma itu akan sangat mudah? Begitu lama kita masih belum bisa menangkapnya, sekarang bagaimana?”. Helena menjelaskan, “dia tau dia tidak bersalah, dan dalam situasi itu, demi menyelamatkan dirinya, dia bisa saja menyerahkan diri, atau berusaha melarikan diri dari sini. Dalam kedua hal itu, dia akan terjebak di dalam perangkap kita”.

Khorasan juga menjelaskan rencananya, “pertama-tama yang akan aku lakukan, menguraikan wajah Dharma dengan jelas pada beberapa prajurit pilihanku dan menyuruh mereka mencari Dharma. Kalau Dharma ditemukan bagus, kalau tidak ditemukan, maka siapapun yang mengetahui tentang Dharma, maka aku akan menyiksa orang itu, menyiksanya untuk menceritakan semua hal tentang Dharma”. Helena tersenyum mendengar rencana Khorasan yang tanpa perikemanusiaan itu.

Khorasan masih belum selesai dengan rencananya, “dan bukan hanya itu, disekitar rumah Dharma yang lama, aku sudah menempatkan prajurit disana, untuk mengawasi rumah itu. Jika Dharma datang kesana dia bisa segera ditangkap”. Nicator tersenyum mendengar rencana Khorasan yang sangat matang tersebut. Helena mengingatkan, “kali ini jangan sampai ada kesalahan dari pihak kita”. Noor yang sudah berdiri diantara Khorasan dan Nicator duduk, mengangguk tersenyum.

Ashoka #141 21

Sementara itu, di ruangan yang diperuntukkan untuknya, permaisuri Niharika membelai rambut putrinya, Ahankara yang sedang menggendong adiknya, “kau tidak perlu mencemaskan sesuatu, selama aku belum memastikan bahwa keturunan Maurya tidak akan mencelakai kita, kita tidak akan pergi dari sini”. Ahankara tersenyum menatap adiknya yang masih di bedong, sang adik sepertinya mengerti, ia juga tersenyum.

Tiba-tiba terdengar suara Ashoka memanggil, “Ahankara”. Niharika yang tersenyum menatap kedua anaknya, terkejut, menoleh ke arah pintu dengan wajah tidak suka. Sebaliknya Ahankara sangat antusias, “Ashoka?”, dia langsung menaroh adiknya ke tempat tidur. Wajah Niharika mengernyit menatap Ashoka yang masih berdiri di pintu. Ahankara bangkit, bergegas menemui Ashoka, tanpa canggung, Ahankara memegang lengan Ashoka. Niharika yang melihat hal itu, berusaha menahan marah, karena ia sudah punya rencana lain.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :