Ashoka #141 08

Ashoka merasa dia sudah menemukan sebuah bukti yang bisa menjadi awal langkahnya menemukan Dewi Dharma. Chanakya terdiam. Dharma menatap Ashoka dengan wajah cemas. Ashoka mulai memulai penyelidikannya pada Chanakya langsung, “apa kau pernah melihat wanita ini?”. Chanakya mengernyitkan wajahnya, dan memilih diam. Dharma yang berdiri disampingnya, menarik nafas dalam. Ashoka tidak memperhatikan ekspresi ibunya, dia fokus pada Chanakya yang terlihat bingung.

Padahal, Chanakya sedang cemas dan membathin, ‘sungguh ini hal yang rumit, seorang anak akan terjebak dalam perangkap musuh karena mencari ibu kandungnya sendiri. Jika hal ini terjadi, maka semuanya akan membayar mahal. Jika kebenaran ini terungkap, terutama oleh Magadh”.

Karena Chanakya masih belum menjawab pertanyaannya, Ashoka menggeser tangannya yang memegang patung wajah Dewi Dharma yang separoh ke arah ibunya. Tapi karena tak pernah terlintas dalam pikirannya kalau Dewi Dharma adalah ibunya, Ashoka tak memperhatikan kalau separoh wajah patung ditangannya, terlihat menyatu dengan separoh wajah ibunya. Tapi Ashoka lebih memilih menatap wajah ibunya langsung, kemiripan itu luput dari perhatiannya.

Ashoka kembali menatap Chanakya. Chanakya melirik Dharma yang berdiri di sebelahnya yang juga menatapnya dengan cemas. Chanakya memilih diam, akhirnya Ashoka menyimpulkan sendiri kediaman Chanakya, “kau tidak tau kan, tidak apa-apa, pasti ada yang tau tentang dia, pasti ada yang kenal dengan dia, dan dia tinggal dimana. Aku harus mencari dulu, orang yang mengetahui hal ini”. Dharma menatap Ashoka dengan tatap gelisah dan cemas. Chanaky memilih diam. Ashoka mengartikan kediaman guru dan kecemasan ibunya itu karena keduanya tidak punya ide untuk membantunya. Ashoka kemudian meninggalkan ruangan.

Dharma berusaha mengejar, “Ashoka”, tapi Chanakya mencegahnya, “Dewi!”. Langkah Dharma terhenti, Chanakya mendekatinya, berdiri disebelahnya, kemudian sama-sama menatap Ashoka yang meninggalkan ruangan.

Ashoka #141 13

Sementara itu, di ruangannya, Helena bicara dengan penuh semangat, “kebahagiaan Bindusara telah aku nodai, itu akan membuat kehidupannya akan dipenuhi oleh kegelapan”. Noor yang diajak bicara oleh Helena, merespon ‘ibu mertuanya’ itu, “bukan hanya Bindusara, tapi seluruh keturunan dari Maurya”, sambil tersenyum.. Helena tertawa senang mendengar ucapan Noor, ia berputar-putar, kemudian duduk di ujung tempat tidurnya dan menenggak minuman di gelas yang dipegangnya.

Di pojok ruangan, Nicator juga duduk berhadapan dengan Mir Khorasan. Meja kecil diantara mereka penuh dengan makanan dan minuman. Nicator berkata, “hari ini aku sangat bahagia Mir. Setelah kematian Justin, untuk pertama kalinya aku melihat senyuman diwajah putriku”. Khorasan melirik ke arah Helena dan Noor yang sedang tertawa bahagia. Khorasan merespon Nicator, “aku juga”, sambil melihat wajah Noor yang sedang tersenyum.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :