Bindusara terus bicara, “aku memerintahkan pada Mir Khorasan agar kau menghadirkan dia”. Khorasan langsung merespon, “baik”. Chanakya menunjukkan wajah menahan kekecewaan, tapi terus berfikir. Bindusara menjelaskan, “dan tentu tugas ini akan dirahasiakan. Kalau dia terbukti tidak bersalah, maka, sudah barang tentu dengan segala tradisi yang aku anut! Aku akan terima dia sebagai permaisuriku”. Helena mendelik di tempat duduknya, Khorasan menelan ludah, Calata mengernyitkan wajahnya, begitu juga dengan Sushima. Chanakya dan Ashoka lebih kepada memprihatinkan perasaan bindusara dengan pilihan sulit yang dihadapinya.

Bindusara menghela nafas, “tapi jika terbukti dia bersalah, maka tentu aku sendiri yang akan menghukumnya”. Mata Chanakya jadi meredup mendengar keputusan Bindusara, begitu juga dengan Ashoka. Sedang ibu suri Helena, matanya langsung penuh senyum melirik Khorasan yang dapat tugas mencari Dharma.

Bindusara bangkit dari singgasana, menuruni undakan singgasananya dengan langkah tegap dan wajah kaku, melangkah meninggalkan ruangan. Ashoka, Sushima, menatap dengan tatap sedih. Calata menatap dengan tatap berfikir. Khorasan melirik dengan wajah senang. Ashoka terus menatap Bindusara yang semakin mendekati pintu keluar ruangan. Ibu suri Helena juga menatap Bindusara dengan wajah menahan perasaan puas sudah berhasil membuat gundah anak tirinya itu. Khorasan melirik Helena, yang langsung mendapat balasan dengan gerakan dagu yang tak kentara yang bisa diartikan ‘jalankan tugasmu’. Khorasan membalas dengan anggukan tipis yang tak kentara.

Ashoka #141 03

Chanakya yang hanya diam mendengar dan memperhatikan orang-orang di ruang pertemuan, membathin, ‘kini sudah tiba saatnya mengirimkan Dewi Dharma ke tempat yang aman’. Ashoka di tempatnya berdiri, juga bergumam, menunjukkan sebuah tekad, “sebelum ada yang bisa menemukan Dewi Dharma, aku harus mencarinya dan membawanya kehadapan Yang Mulia. Dan sebelum sidang berjalan, aku akan mempertemukan sepasang kekasih ini”.

Ashoka #141 05

Selanjutnya, Ashoka sudah berada di ruangan khusus patung Dewi Dharma disimpan Bindusara yang sekarang sudah hancur. Ashoka memperhatikan lantai ruangan itu dengan teliti, mengikuti ceceran darah dari tangan Bindusara yang terluka sebelumnya. Ashoka melangkah pelan, matanya awas memperhatikan lantai yang kira-kira bisa dijadikannya petunjuk. Patung permaisuri yang sangat dicintai Yang Mulia Bindusara sudah berubah menjadi serpihan kecil dan debu.

Wajah Ashoka melongo, wajahnya mulai menunjukkan rasa putus asa, tapi, tiba-tiba matanya melihat di lantai ada bagian kepala dari patung Dewi Dharma yang tinggal separoh, Ashoka mengambilnya, meniup debu bagian lain yang hancur, mengusap patung yang dipegangnya, wajahnya jadi berfikir, kemudian mencari-cari bagia sebelahnya dari wajah patung itu. Ashoka sampai naik ke undakan pinggir kolam tempat patung Dewi Dharma sebelumnya dipajang, tapi ia tak melihat sisa patung selain yang dipegang ditangannya. Ashoka seperti mengumpulkan tekad, kemudian beranjak keluar ruangan dengan langkah bergegas.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :