Ashoka #138 episode 22

Sementara itu, Ashoka yang menemui ibunya, masih mendengar curahan hati Dharma, “semakin aku berusaha untuk menjauhkanmu dari musibah, musibahnya akan semakin bertambah, dan aku tidak bisa melindungimu. Setiap saat aku merasa takut, jangan-jangan terjadi hal yang buruk”. Dharma kemudian memeluk Ashoka erat, menangis dipundak putranya itu. Ashoka menenangkan kecemasan ibunya, “tapi aku telah membenahi semuanya bu, dengan perdamaian dan anti kekerasan, perang sudah dibatalkan”.

Dharma melepaskan pelukannya pada Ashoka, tersenyum, “kau sudah melindungi Magadh, kau selamatkan dia dari kehancuran”. Ashoka merendah mendengar ucapan Dharma, “ibu, aku hanya perantara, semua ini berkat ajaran dari ibu. Sekarang aku harus kembali keruang rapat. Aku mohon diri bu”. Dharma tersneyum mendengar dan melihat kesantunan Ashoka yang tetap tak berubah. Ashoka jongkok, menyentuh kaki ibunya. Dharma menaroh tangan kanannya diatas kepala Ashoka dengan tersenyum.

Ashoka bangkit, Dharma memegang pipi Ashoka dengan penuh kasih sayang. Ashoka mengatupkan kedua telapak tangannya yang memegang gagang pedang Chandragupta di depan dada, dengan wajah tersenyum. Perlahan ia mundur, membalikkan badan, menuju pintu ruangan ibunya. Sebelum membuka pintu, ia berhenti sesaat, kemudian memastikan langkahnya keluar. Dharma bergumam sendiri saat Ashoka sudah meninggalkan ruangannya, “tapi ketika rahasia itu terbongkar, apa yang akan kau alami, apa aku bisa mencegah agar hatimu tidak hancur”.

Ashoka #138 episode 24

Di ruang pertemuan, Bindusara tak sabar, “beritaukan aku nama pengkhianat itu!”. Helena melirik Bindusara kemudian menatap Niharika, Nicator menunggu. Niharika tetap menunjukkan wajah senyum, “ini adalah orang yang sangat anda cintai, anda menaroh banyak harapan padanya. Anda tidak akan percaya kalau ku beritau namanya, karena itulah, baca saja sendiri nama pengkhianat itu”, sambil mengacungkan gulungan kecil ditangannya.

Bindusara jadi terlihat tegang. Helena juga sedikit tegang apa istri Raajaajiraaj bisa diajak kerjasama, Nicator tak kalah cemasnya. Khorasan menyipitkan mata dengan wajah serius. Chanakya tetap dengan sikap menunggu. Bindusara menggerakkan dagunya pada prajurit yang berjaga di undakan bawah singgasananya. Niharika menyerahkan gulungan yang dipegangnya ke nampan yang dipegang si prajurit, kemudian menunjukkan wajah penuh teka teki.

Helena masih sangat cemas, begitu juga Nicator, Khorasan sampai menahan nafas. Chanakya menunggu dnegan wajah tak antusias, wajahnya justru terlihat lelah. Prajurit sudah menyodorkan nampan berisi gulungan dari Niharika ke Bindusara. Bindusara mengambilnya sambil melirik tajam Niharika. Niharika mengangkat dagunya dengan wajah penuh sikap percaya diri. Helena melirik Bindusara. Bindusara membuka gulungan kertas ditangannya, tiba-tiba matanya terbelalak, melotot menatap Niharika.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :