Ashoka #138 episode 17

Yang Mulia Bindusara memberikan respon dengan sangat baik pada perkenalan Niharika, “pertama-tama aku ucapkan terima kasih, karena kau telah bersedia menerima tawaran perdamain kami”. Niharika menjawab dengan sikap percaya diri, “aku terima penawaran untuk bermusyawarah dengan damai, bukan mengalah”. Chanakya mengernyitkan wajahnya memperhatikan sikap Niharika yang sepertinya juga sama licinnya kayak Helena. Khorasan mulai menunjukkan wajah waspada. Nicator tetap menunjukkan sikap seakan tak terlibat apapun. Calata menunjukkan wajah tegang.

Niharika menoleh ke arah kanan belakang, matanya agak mendelik menatap Chanakya. Chanakya tetap menunjukkan wajah serius dengan geraham mengatup rapat. Niharika bicara mengandung sindiran, “rasanya ingin memberi perkenalan pada pelindung Magadh, Acharya”. Chanakya yang jago negosiasi dan membaca watak, menunjukkan wajah terseyum lebar, “aku senang sekali jika situasi pertemuan menjadi sedikit agak berbeda”. Niharika mengangkat dagunya, menunjukkan wajah berfikir mendengar jawaban Chanakya yang mengandung banyak penafsiran. Chanakya tetap menunjukkan wajah senyum seakan ucapannya itu wajar-wajar saja.

Niharika kemudian menatap ke arah singgasa, sedikit ke bagian kiri, ketempat Helena duduk, ia menyampaikan ucapan perkenalannya, “semasa aku kecil dulu, aku sudah mendengar kecantikanmu ibu suri Helena”. Helena terkejut, meraba-raba, kemana arah ucapan istri Raajaajiraaj ini. Bindusara juga menunjukkan wajah serisu, Nicator mulai menunjukkan wajah bertanya. Niharika masih terus bicara, “semua rakyat tau hal itu, tapi sekarang orang tidak membicarakan tentang kecantikanmu lagi, sekarang mereka mengatakan bahwa ibu suri Helena adalah orang yang mencelakai anaknya sendiri, yang seorang pengkhianat!”.

Wajah Helena mengernyit dengan tatap serius pada Niharika, Niharika juga membalas tatapan itu dengan serius. Nicator jadi menelan ludah. Bindusara merasa situasi jadi kurang enak pada ibu tirinya itu. Chanakya hanya merapatkan gerahamnya, masih menunggu maksud dari ucapan Niharika. Calata menunjukkan wajah bertanya. Khorasan tetap tidak menunjukkan wajah terkejut. Helena terus menatap Niharika, seakan dia benar-benar kesal dengan ucapan istri Raajaajiraaj tersebut.

Ashoka #138 episode 18

Bindusara bicara, “jadi benar pihakmu sudah menyusup ke Pataliputra”. Niharika membuka kedua telapak tangannya, “kami memang tidak punya pilihan lain”. Bindusara menyampaikan pendapatnya, “kalau perang sampai terjadi, apa kau tau kalau kemenangan adalah hanya menjadi milik kami”.

Niharika tidak menunjukkan sikap gentar, “keputusan kalah atau menang ditentukan dalam perang, tapi ini sudah pasti! Jika prajurit kami mati, mereka tidak akan mati sendiri, anda juga akan mengalami kerugian”. Bindusara merapatkan gerahamnya, begitu juga dengan Chanakya. Helena mengernyitkan wajahnya, Nicator melirik Khorasan yang memberi isyarat lewat gerakan mata. Calata mengernyitkan wajah melihat kesombongan yang ditunjukkan Niharika dalam bicara.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :