Ashoka #138 episode 12

Dharma semakin berada di posisi sulit, ia gelisah. Sushima yang mengikuti permainan yang dilakukan dua adik seayahnya itu jadi ingin tau juga melihat pelayan satu itu tak bisa langsung menjawab pertanyaan yang diajukan. Permaisuri Subrasi juga memperhatikan Dharma yang terlihat cemas. Noor mulai emosi melihat sikap diam yang ditunjukkan Dharma, “jawab pertanyaan pangeran Sevika!”, dengan tatap geram. Dharma semakin menelan ludah.

Tiba-tiba terdengar suara prajurit yang memasuki ruangan, “ada kabar dari Yang Mulia”. Semua yang ada dalam ruangan jadi melupakan permaian dan kediaman Dharma, Dharma selamat dari ‘pemainan’ permaisuri Noor. Mereka semua menoleh ke arah prajurit yang memberi kabar tambahan, “permaisuri Niharika bersedia untuk berdamai”. Dharma yang cemas ditanya tentang nama dalam permainan permaisuri Noor, jadi lega mendengar kabar baik itu. Noor terbelalak, terkejut. Permaisuri Subrasi tersenyum, Charumitra biasa aja, begitu juga dengan Sushima.

Si prajurit memberitau lagi, “semua karena usaha Ashoka”. Siyamak dan Dhrupad tersenyum lebar mendengarnya. Charumitra dan Sushima semakin menunjukkan wajah kurang senang. Si prajurit terus memberi informasi, “dia berani membahayakan nyawanya untuk membujuk permaisuri Niharika untuk menempuh jalan anti kekerasan”. Dharma semakin tersenyum lega. Permaisuri Subrasi juga tersenyum lega, tapi tidak dengan permaisuri pengincar tahta, seperti Noor dan Charumitra.

Siyamak berkomentar dengan tulus mendengar informasi damai yang diprakarsai Ashoka itu, “sahabatku memang ajaib”. Dharma sangat senang mendengarnya.

Selanjutnya, permaisuri Niharika berjalan di lorong istana Magadh di kawal prajuri Ujjain dengan wajah penuh keyakinan kalau balas dendam akan terbalas, menuju ruang aula pertemuan Magadh.

Ashoka #138 episode 16

Sementara itu, Ashoka membuka pintu ruangan ibunya biasanya beristirahat, kemudian menutupnya. Dharma langsung menoleh, tersenyum, membuka tangannya siap memberikan pelukan hangat pada putranya itu sambil mengangguk tipis. Ashoka tersenyum, langsung bergegas ke pelukan ibunya, memeluk ibunya erat.

Dharma mengusap belakang kepala Ashoka, “aku bangga padamu nak”. Ashoka menggeleng di bahu ibunya, “ibu jangan bicara, biarkan saja aku memeluk ibu untuk sesaat”. Dharma tersenyum, kemudian mengusap kepala putranya itu.

Di ruang aula pertemuan Magadh, permaisuri Niharika sudah berdiri di hadapan singgasana Bindusara, ia memperkenalkan diri, “salamku pada raja Magadh Bindusara, aku istri Raajaajiraaj, Niharika”, mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada dan menunduk ringan. Bindusara membalas dengan anggukan kepala ringan juga. Chanakya yang juga sudah ada di posisinya, memperhatikan Niharika dengan wajah serius. Helena juga masih berwajah tegang, tapi Khorasan terlihat penuh percaya diri kalau semuanya akan sesuai rencana dan kesepakatan yang sudah disampaikannya pada istri Raajaajiraaj tersebut.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :