Raajaajiraaj membalikkan badan, “Memang! Ujjayani tergantung pada Magadh, tapi, danDananpun pernah bergantung padanya, tapi saat itu para pendukungnya sudah memberikan sebuah keputusan bagi rakyatnya, dan Chadragupta Maurya pun bersama dengan Acharya Chanakya mengubah semuanya, mereka merampas kemerdekaan dari kita untuk mewujudkan impian seluruh negeri, mereka membuat para pendukung kita menjadi tidak berdaya, untuk tunduk padanya. Dan rakyat yang menentang dia, mereka dinyatakan sebagai pengkhianat. Itu adalah siasat dari Bindusara, aku tanya, siapa keturunan Maurya! Kenapa kita harus menerima penyiksaan mereka! Sekarang kita harus ada untuk memberikan jawaban pada mereka semua, kalau aku tidak memberikan jawaban sekarang, maka masa depan kita, anak cucu kita, akan selamanya tunduk dihadapan keturunan Maurya ini. Aku tidak akan membiarkan ini terus terjadi! Tidak permaisuri, tidak!”, sambil melangkah dan duduk dihadapan Niharika.

Raajaajiraaj memegang kedua bahu Niharika, “aku tidak mau menyerahkan masa depan seperti itu kepada anak cucu kita. Aku ingin memberikan masa depan yang cerah pada mereka, dimana mereka semua bisa menjalani hidp dengan penuh terhormat”. Niharika menatap Raajaajiraaj, “aku setuju dengan ucapanmu, tapi,, *usap lengan Raajaajiraaj dengan sendu*, bagaimana bila terjadi sesuatu padamu”.

Ashoka #136 24 episode

Raajaajiraaj tersenyum menatap istri yang sedang mencemaskannya itu, “permaisuri Niharika, kau adalah teman hidupku, harapan kemenanganku, dan nantikan saat itu. Nantinya aku akan kembali dengan membawa kehormatan dan martabat Ujjain dihadapan rakyatku, dan jika aku mati, kau berjanjilah padaku”. Permaisuri Niharika tersentak mendengar ucapan suaminya, ia menaroh tangan kanannya di mulut Raajaajiraaj sambil menggeleng.

Raajaajiraaj memegang tangan istrinya itu, “kau akan memenuhi impianku dan mengembalikan kehormatan dan juga martabat Ujjain. Kau akan bebaskan keturunan kita permaisuri dan generasi mendatang dari penganiaayaan keturunan Maurya, kau harus menuntut hak mereka. Permaisuri Niharika, kau berjanjilah. Berjanjilah padaku”. Niharika menaruh tangan kirinya diatas tangan Raajaajiraaj yang memegang tangan kanannya, “aku janji padamu”. Raajaajiraaj tersenyum, kemudian meraih bahu istrinya itu dan merengkuhnya, membawa agar bersandar ke pundaknya.

Raajaajiraaj mengusap lengan Niharika, “permaisuri, kau harus memberitau pada anak kita yang belum lahir ini bahwa ayahnya, sangat mencintai dia”. Lamunan permaisuri Niharika berakhir, ia menatap putranya yang dibedong dengan selimut merah dan berada di dalam ayunan, tak jauh dari tempatnya berdiri.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :