Ashoka #136 06 episode

Tiba-tiba ada yang berteriak pada Ashoka, “Hei, siapa kau! Apa yang kau lakukan disini! dan bukankah kau yang mengambil timba airku tadi!”, mau melangkah kehadapan Ashoka. Prajurit yang sebelumnya di ajak bicara oleh Ashoka berteriak pada temannya dengan mengacungkan tangan, menghalangi temannya itu, “Heh! Diam! Apa kau tidak bisa lihat, aku sedang bicara dengannya! Jadi sebaiknya kau jangan ikut campur! Pergilah!”. Si prajurit yang mencari timba langsung ngeloyor pergi.

Prajurit yang disanjung Ashoka menatap Ashoka, “katakanlah”. Ashoka dengan suara pelan, seperti orang berbisik mulai bicara, “aku dengar, permaisuri Niharika juga ada di markas ini, tendanya yang mana? Aku akan merasa bangga kalau bisa merawat kudanya”. Si prajurit memberitau, “dia tidak ada disini, dia dimarkas Utara bersama pasukannya”. Ashoka menunjukkan wajah sedih sambil berfikir. Si prajurit memperhatikan Ashoka yang berubah ekspresi, dengan wajah bingung, “apa yang kau pikirkan?”.

Ashoka #136 08 episode

Ashoka dengan wajah setengah kecewa, menatap prajurit Ujjain di depannya, “apa mungkin aku bisa mendapatkan tanda pengenal atau tidak? Ketika nanti kau menang dan pasukanmu sedang menghabisi semua orang, aku akan melindungi nyawaku dengan memperlihatkan tanda itu”. Si prajurit yang sudah kadung tersanjung oleh ucapan Ashoka, tersenyum, kemudian dengan senang hati merogoh pinggangnya, mengambil sebuah tanda pengenal berbentuk koin dan menyodorkan kehadapan Ashoka, “ambillah”.

Ashoka mengambil tanda pengenal yang diberikan prajurit Ujjain dengan wajah tersenyum. Si prajurit menjelaskan, “kalau kau memperlihatkan itu, pasukanku pasti mengerti, kau dipihak kami”. Ashoka memberi sikap horamat dengan kedua tangan terkatup di depan dada, “aku sangat berterima kasih padamu tuan”, kemudian mengangkat tangan seperti orang mengelukan, “terpujilah dirimu, terpujilah!”. Si prajurit Ujjain tersenyum senang menatap Ashoka. Ashoka kemudian berlari meninggalkan prajurit Ujjain dan kudanya, kembali ke tempat Subahu dan Vasunandhar menunggunya. Taktiknya melemahkan musuh dengan cara menyentuh sisi kemanusiaan musuh, sudah berjalan dengan baik.

Di ruangannya, Yang Mulia Bindusara sedang dipakaikan pakain perang dibantu oleh beberapa pelayan. Setelah semua beres, pelayan yang bertugas mengurus senjata, menyodorkan nampan berisi pedang, Bindusara mengambilnya, ia menatap pedang yang sudah digenggamannya dengan wajah teguh akan berperang.

Sementara itu, di ruangannya, Helena sedang menjelaskan keberatannya akan perang pada Nicator dan Khorasan, “tidak! Jika perang terjadi, maka rencana yang aku susun tidak akan pernah terwujud. Jadi menurutku kita harus mencegah perang ini”. Khorasan berdiri lebih mendekat, “saat ini sudah terlambat, tidak ada yang bisa dilakukan lagi, perang pasti akan terjadi”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :