Bindusara menjelaskan situasinya, “aku mengirim kurir pada ibumu untuk mengantar pesan, tapi ibumu menghabisi kurirku itu dan menyatakan niatnya, karena itulah perang ini pasti terjadi. Sayangnya tidak ada orang yang menantang, maka mau tidak mau kita harus memberikan jawabannya tanpa keraguan”. Ahankara menelan ludah, menatap Bindusara, ibunya sudah melakukan penghinaan pada Yang Mulia Bindusara yang tak mungkin dapat di damaikan lagi. Ahankara membalikkan badan, meninggalkan ruangan Bindusara dengan wajah sedih. Bindusara menatap juga menatap kepergian Ahankara dengan tatap sedih, tapi ia tidak punya pilihan selain berperang.

Ashoka #136 03 episode

Di pinggir sungai, di dekat markas prajurit Ujjayani, seorang prajurit kebingungan, “mana timba airnya, tadi ada disini?”. Sedang si timba yang dicari prajurit Ujjain sedang dipakai Ashoka untuk mengangkat air, untuk memberi minum kuda yang diincarnya, ia kemudian mengusap kuda hitam yang ada di deretan kuda yang tertambat disitu. Subahu dan Vasunandhar tetap mengawasi dari atas bukit apa yang dilakukan Ashoka.

Ashoka yang sudah berpengalaman dengan kuda sewaktu merawat kuda Yang Mulia Bindusara, mengajak kuda hitam itu bicara bak seorang sahabat, “dengar teman, sebaiknya kita berteman saja, karena perang tidak akan menguntungkan dirimu ataupun diriku, kau juga pasti takutkan? Kalau, kau membantuku, aku akan bisa membantumu”.

Terdengar suara keras dibelakang Ashoka, “siapa kau!”. Ashoka membalikkan badan dengan wajah terkejut, menatap lelaki tinggi besar di depannya, salah satu prajurit Ujjain. Subahu dan Vasunandhar tetap mengawasi Ashoka dari tempat mereka berdiri. Ashoka sudah menguasai keadaan, tanpa takut ia mulai bicara, “Tuan, kau baru saja memilih pelana di pasukan yang bisa meraih kemenangan yang besar!”. Prajurit Ujjain bingung mendengar ucapan Ashoka, “apa?!”.

Ashoka memberitau maksud perkataannya, “artinya, pasukan Ujjain. Memang Magadh punya pasukan besar! Tapi mereka tidak punya sesuatu yang kalian miliki, pemikiran, siasat berperang. Kalian punya rencana yang sangat hebat, setengah pasukan ada di perbatasan Magadh untuk menjaga pasukan Maurya, dan setengah pasukan ada di Pataliputra, siap untuk menyerang dan melumpuhkannya”. Subahu yang melihat Ashoka dari kejauhan terlihat sangat kebingungan, sahabatnya itu malah bisa mengajak ngobrol prajurit Ujjain, begitu juga dengan Vasunandhar.

Ashoka terus bicara pada prajurit penanggung jawab pasukan kuda itu, “dan diperbatasan, tanpa ada pasokan, Pataliputra tidak akan bisa melindungi dirinya. Dan yang bisa menduduki Pataliputra pasti akan menjadi pemenang perang nantinya, artinya, pasukan Ujjain”. Si prajurit heran mendengar ucapan Ashoka, “bagaimana kau tau hal sebanyak ini?”. Ashoka memberitau, “aku dengar dari prajurit, kata mereka kalau kita berteman dengan hewan, mereka akan mau berteman dengan kita. Dan aku juga mendengar, pihak yang kalah di dalam peperangan akan dianiaya oleh pasukan yang menang, karena aku ingin menyelamatkan diriku, karena itulah aku datang melayanimu, supaya setelah kalah dalam perang, kau mau kasihan padaku dan aku tetap berada dipasukanmu”, sambil memberi sikap kedua telapak tangan terkatup di depan dada. Prajurit Ujjain yang merasa tersanjung oleh ucapan Ashoka, jadi berfikir.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :