Bindusara memutuskan, “Niharika telah menantang kita dan ingin pertempuran, tentu perang ini pasti akan terjadi. Niharika harus menyadari kesalahan apa yang sudah dibuatnya, dan kita pun harus menunjukkan bagaimana semestinya”. Ashoka menarik nafas cemas, karena kata perdamaian sudah jauh. Khorasan lega, melirik Helena yang tampak berfikir dengan cemas.

Chanakya menunjukkan wajah cemas pada Bindusara. Calata jadi berfikir, dukungannya pada Sushima justru malah membuat Bindusara memilih jalan perang. Nicator gelisah. Sushima yang hanya peduli melampiaskan rasa marahnya malah tersenyum mendengar keputusan ayahnya. Bindusara menunjukkan wajah siap berperang. Ashoka semakin mengernyitkan wajah penuh kecemasan.

Ashoka #135  17 episode

Ashoka sedang melangkah di lorong ketika ia melihat ibunya keluar dari sebuah ruangan sambil membawa nampan berisi ladu. Ashoka memanggil, “ibu”, sambil bergegas menghampiri. Dharma menghentikan langkah dan menoleh. Ashoka bertanya, “kenapa ibu disini? Aku kira ibu bersama permaisuri dan pelayan yang lainnya diruangan yang aman”.

Dharma yang baru mendengar hasil ramalan, juga menatap Ashoka dengan cemas, “pangeran Dhrupad ingin makan ladu, aku ambilkan untuknya. Tapi kau! Kenapa kau disini?! Apakah, tidak ada pengamanan bagi dirimu?”. Ashoka menunjukkan wajah tenang demi melihat kecemasan ibunya, “semua siswa diperintahkan untuk tetap di asrama sekolah, aku mau kesana, lalu aku dengar permaisuri menikam kurir dan mengirimkan jasadnya kesini. Aku kesana untuk melihatnya”.

Dharma yang terpengaruh ramalan menurut penafsirannya sendiri menjadi emosi, “apa perlunya kau kesana, untuk apa kau kesana. Ingat Ashoka, kau bukanlah kesatria yang harus memikul tanggung jawab akan Magadh. Kau tidak perlu bergabung pada pertempuran ini! Kau mengertikan? Ashoka, perang tidak membawa kebaikan bagi siapapun, tidak pernah ada”.

Ashoka menenangkan ibunya, “ibu jangan khawatir bu, aku tidak akan ikut bertempur. Dan sesungguhnya Yang Mulia juga tidak ingin adanya pertempuran ini, tetapi musuh tidak memberikan pilihan lain”. Dharma memberitau Ashoka, “pilihan itu selalu ada, jalan damai juga ada, memang sangat sulit tapi pasti bisa, jika perang ini terjadi, banyak orang-orang tidak berdosa yang akan mati, banyak keluarga yang akan hancur. Dan aku tidak ingin melihat itu terjadi”.

Ashoka menarik nafas dalam, memegang bahu kiri Dharma, “ibu jangan khawatir bu, semuanya pasti akan membaik. Hmm, pergilah”. Dharma memegang tangan Ashoka, kemudian melanjutkan langkah. Ashoka juga melanjutkan langkahnya menuju asrama.

Ashoka #135  20episode

Di asrama sekolah, di ruang siswa, Subahu dan Vasunandhar duduk di salah satu dipan, Ashoka berdiri di dekat salah satu jendela. Subahu bicara, “apa yang terjadi sekarang”. Vasunandhar merespon, “hal biasa yang terjadi dalam setiap perang, rakyat yang akan mati”. Subahu sependapat, “kau berkata benar, untuk menjaga anggota kerajaan ada pasukan, tapi tidak ada pengawalan bagi orang biasa. *Ashoka ikut mendengar*. Kalau raja kalah! Rakyat yang menderita”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :