Calata yang ingin menunjukkan diri di mata Bindusara memberi pendapat, “panglima Mir Khorasan bisa dikirim kesana”. Khorasan langsung melirik Helena yang berdiri di seberangnya. Helena menyembunyikan senyum, memberi isyarat lewat tatapan mata, bahwa umpan yang dilemparnya sudah ada yang memakan.

Bindusara kurang setuju dengan usul Calata, “tidak! Aku tidak bisa menyerahkan tanggung jawab sebesar ini pada Mir, karena dia sudah tidak waspada terjadinya penyusupan seperti ini”. Khorasan menunjukkan wajah disabar-sabarkan sambil mengelus gagang pedangnya.

Helena melunakkan Bindusara, “tapi aku merasa dia adalah orang yang tepat. Dia mempunyai hubungan denganmu, dia adalah mertuamu?! Dia akan mengerti kepentinganmu dan aku rasa Niharika juga akan meresa aman bila pihak kita adalah Mir”. Chanakya semakin memperhatikan keanehan yang ditunjukkan Helena terhadap Khorasan. Bindusara melirik Khorasan, kemudian menganggukkan kepala, karena tidak punya pilihan lain, “baiklah”. Khorasan sekali lagi saling lirik dengan Helena, umpan mereka sudah menjerat Bindusara.

Khorasan menunjukkan sikap seakan layak untk dipercayai Bindusara, “ya Yang Mulia, aku tau aku pernah mengecewakan anda dulu, tapi kali ini, aku akan waspada. Jika Yang Mulia ijinkan maka demi kebaikan Magadh, maka aku pasti akan pergi”. Bindusara menunjukkan wajah setuju walau berat. Khorasan melirik Helena yang matanya menatap dengan senyum kemenangan. Saling lirik yang aneh dan bahasa tubuh yang ditunjukkan Khorasan dan Helen luput dari perhatian Bindusara, tapi semua itu dapat terbaca oleh Chanakya, ia membathin lagi, ‘aku semakin yakin ada persengkokolan diantara mereka berdua’. Chanakya semain gamang.

Ashoka #135  12 episode

Di tendanya, permaisuri Niharika sedang dibantu berpakaian oleh pelayannya. Seorang prajuritnya menemui, “salam permaisuri, ada perwakilan dari Magadh yang ingin bertemu”. Permaisuri menganggukkan kepala. Si prajurit Ujjain melihat kepintu, prajurit utusan Magadh masuk, memberi hormat pada Niharika, “ada pesan dari Yang Mulia Bindusara bahwa pihak dari Magadh, Mir Khorasan yang akan datang untuk bermusyawarah dengan situ”.

Selanjutnya, di depan istana Magadh, Bindusara, Chanakya, Radhagupt, Ashoka, Helena, Khorasan, Calata dan petinggi kerajaan lain bergegas ke halaman, ke kereta yang membawa mayat utusan yang mereka kirim ke Ujjain untuk menyampaikan pesan perdamaian. Wajah Bindusara menahan marah, Helena terkejut. Chanakya dan murid-muridnya juga terkejut. Khorasan mengernyitkan wajah. Ashoka menelan ludah melihat utusan yang sudah tak bernyawa itu.

Khorasan melihat ada sesutu yang diselipkan dipunggung prajurit yang diletakkan telungkup di gerobak yang ditarik dua ekor sapi. Khorasan mengembil kertas itu dan membukanya. Rakyat Pathaliputra yang berdiri berkerumun karena ingin tau keadaan, menunggu. Khorasan bergumam, ‘ini pesan’, kemudian melihat Bindusara, “permaisuri Niharika”. Ashoka semakin menelan ludah. Helena termangu, Chanakya semakin gundah.

Helena menarik nafas dalam agar tetap tenang dan berfikir. Calata menoleh ke arah Bindusara yang terlihat sangat geram, ia sampai memindahkan pegangan pedang ditangannya dengan wajah nanar.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :