Peramal langsung bersuara, “salam”. Permaisuri Subrasi berkata, “tolong, apa yang dikatakan perbintangan mengenai Yang Mulia dan para keluarganya”. Si peramal memejamkan mata, kepalanya menggeleng. Subrasi memperhatikan dengan wajah benar-benar risau dengan situasi yang ada. Dharma ikut cemas. Charumitra menundukkan pandangan, takut kebaca niat jahatnya mau menguasai tahta. Wajah Noor sampai basah oleh keringat karena menyembunyikan borok Siyamak yang bukan anak Bindusara.

Si peramal masih memejamkan mata dengan wajah serius. Sushima, Siyamak dan Dhrupa, memperhatikan dengan wajah serius. Si peramal mulai bersuara sambil membuka mata, “trisula, artinya adalah Magadh mempunyai restu dari Mahadev pada Yang Mulia dan juga tiga putranya”. Permaisuri Subrasi tersenyum, langsung menengadah dengan sikap doa sebagai tanda syukur.

Ashoka #135  09 episode

Mendengar ucapan si peramal, permaisuri Charumitra menunjukkan wajah biasa, tidak begitu antusias, sedang permaisuri Noor membathin, ‘ramalan peramal ini tidak pernah salah, lalu kenapa dia mengatakan tiga putra? Siyamak bukan putra dari Bindusara. Jangan-jangan Bindusara punya satu putra lagi yang tidak diketahui oleh siapapun’. Noor berfikir dengan wajah tegang.

Sedang Dharma yang juga ikut mendengar dan belum tau keberadaan Siyamak yang bukan putra dari Bindusara menjadi cemas sendiri dengan pikirannya, ‘kenapa hanya tiga putra, pangeran Sushima, Siyamak dan Dhrupad. Jangan-jangan Ashoka tidak aman, dalam bahaya’. Wajah Dharma sangat tegang memikirkan keadaan Ashoka menurut penafsirannya sendiri.

Di ruang pertemuan, Chanakya merespon ucapan Helena yang menyindirnya dengan heran, “kau sedang berkabung atas kematian putramu. Dalam keadaan seperti ini, bagaimana kau bisa membahas soal perdamaian dihadapan musuh ibu suri?”. Bindusara jadi berfikir. Helena menunjukkan wajah tegar pada Chanakya, “putranya merugikan Magadh, ibunya akan menggantikan kerugian itu”, dengan geraham menggeretak menatap Chanakya karena ia membelakangi Bindusara. Chanakya melongo menatap ibu suri yang berhati kejam itu. Calata juga menatap dengan bingung.

Bindusara bersuara, “ibu, aku sependapat dengan Acharya”. Helena menoleh ke Bindusara dengan wajah mendelik tapi dibuat sewajar mungkin. Chanakya sedikit lega mendengar pendapat Bindusara yang masih bicara, “aku rasa dari pihak kita Acharya Chanakya yang harus kesana”.

Ashoka #135  11 episode

Helena setengah berteriak kurang setuju, “tidak! Kesatu Raajaajiraaj juga ikut campur dalam penculikan Acharya Chanakya dan melihat Acharya, istrinya Raajaajiraaj akan menjadi curiga, jangan-jangan kita memainkan siasat. Untuk musyawarah, maka sangat penting adanya kepercayaan”. Chanakya mendengar dan memperhatikan Helena dengan serius yang terlihat sangat ingin mengambil peran dalam situsi ini .

Bindusara jadi berfikir ulang mendengar alasan Helena, “lalu siapa yang akan pergi”. Helena memainkan perannya, tidak main tunjuk nama tapi menggiring pikiran Bindusara, “seseorang yang mengerti arti tentang perang, siasat diarena perang, politik dan keamanan dan yang lebih penting kekuasaannya”. Khorasan mengangguk-angguk.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :