Sementara itu, Bindusara sudah berdiri di depan Justin di dalam sel, menatap saudara lain ibunya. Justin juga menatap adik tiri yang sangat dibenci oleh ibunya Helena itu, tapi pandangannya kemudian tertunduk. Bindusara bersuara, “apa keinginan terakhirmu”.

Ashoka #129 episode 118 20

Justin mendongak, menatap Bindusara dengan bola mata membesar, terbaca ada ketakutan di dalam bola mata itu. Bindusara menatap saudaranya yang berkhianat sambil menelan ludah. Justin memejamkan matanya, terbayang wajah Noor yang sedih memanggilnya dari balik jeruji, ‘Justin’. berganti dengan wajah Siyamak yang menangis sambil bicara, ‘kau orang yang baik atau jahat’. Kemudian berganti dengan bayangan ibunya yang juga menangis, ‘bagaimana aku tega melihatmu mati, bagaiman?’.

Justin membuka matanya, menunjukkan wajah tegar pada Bindusara, “keinginan terakhirku adalah, aku tidak ingin Mitira menyaksikan hukumanku”, tak kuasa menahan kesedihan. Mata Bindusara meredup, wajahnya mengernyit, “itu tidak mungkin Justin, aku sudah janji pada ibu. Ibu punya keinginan yang sangat kuat, keinginannya adalah ibu ingin ibu sendiri yang menghukummu Justin”. Justin terkejut mendengarnya, matanya terbelalak. Bindusara tak berdaya menatap keterkejutan di wajah saudaranya itu.

Perlahan, wajah Justin menunduk, menelan ludah, kembali menunjukkan wajah dibuat tegar menatap Bindusara, “jika Mitira berfikir seperti itu, aku rasa pasti ada hal baik di dalamnya”. Bindusara melihat kedalam mata Justin. Justin tidak bisa menahan air mata yang perlahan mengambang. Bindusara kemudian bergegas keluar sel. Prajurit kemudian menutup pintu sel. Justin berdiri tertunduk menahan air mata yang ingin keluar.

Ashoka #129 episode 118 22

Cerita serial Ashoka episode selanjutnya, Noor yang baru masuk kamarnya, tertegun melihat Siyamak mengambil makanan kemudian memasukkan ke mulut, mengunyahnya. Noor panik, “Siyamak, Siyamak!”. Khorasan yang duduk di depan Siyamak dan tangannya yang menyodorkan makanan yang dimakan Siyamak, menoleh ke arah Noor yang berteriak, Siyamak juga menoleh ke arah ibunya yang berlari menghampirinya. Khorasan bangun. Noor memegang tangan anaknya dengan cemas, “Siyamak, kau makan apa?!”. Siyamak memejamkan mata, Noor makin panik, “Siyamak!”. Siyamak jatuh pingsan di tempat tidurnya. Noor berteriak, “Siyamak!”, kemudian menoleh ke arah Khorasan, “kau beri makan apa pada putraku! kalau terjadi sesuatu pada Siyamak!”. Noor berteriak melihat Siyamak yang sudah seperti orang terlelap, teriakan Noor terhenti saat melihat sisa makanan yang masih ada dua butir ditangan Khorasan. Mata Noor terbelalak menatap ayahnya itu.