Noor menggeser berdirinya, terlihat dibelakangnya ada Siyamak. Justin kembali menoleh. Siyamak melangkah ke depan jeruji yang mengurung Justin. Justin terpana, terbayang saat Noor memberitaunya di istana lak dulu, ‘iya Justin, Siyamak adalah putramu’. Justin bergumam, “Siyamak”.

Siyamak menatap Justin dari balik jeruji sel dengan wajah sedih. Justin bangkit, berlutut di depan Siyamak dengan dibatasi jeruji, “Siyamak”. Noor menatap dengan menahan tangis. Justin mengulurkan kedua tangan di sela-sela jeruji, memegang pundak putranya, “Siyamak”. Siyamak menangis. Justin mengusap air mata Siyamak dengan jarinya, memegang pipi Siyamak, meraih tangan Siyamak. Noor yang berdiri di sebelah Siyamak, menangis melihat pertemuan yang tak biasa itu.

Justin mencium punggung tangan siyamak dengan air mata mengalir. Noor semakin terisak melihatnya. Siyamak bersuara, “kenapa kau melakukan ini, kenapa kau lakukan?”. Justin menatap Siyamak dengan mata penuh oleh air mata, kemudian hanya bisa tertunduk dalam diam. Siyamak meneruskan ucapannya, “apapun yang kau katakan pada orang, tapi aku tau kau tidak bisa menghabisi aku. Boleh aku tanyakan satu hal padamu?”.

Ashoka #129 episode 118 09

Justin yang menangis mengangguk, “tanyakan Siyamak”. Noor ingin tau apa yang akan ditanyakan Siyamak pada Justin. Siyamak menyampaikan apa yang jadi pikirannya, “kau ini orang baik atau jahat”, dengan tergugu. Justin semakin terisak, ia mencium punggung tangan Siyamak lagi, kemudian menjawab dalm tangis, “aku sama sekali tidak tau, aku tidak tau Siyamak”, sambil memegang pundak Siyamak, “boleh aku mengatakan sesuatu?”.

Noor hanya menatap sambil menangis Justin dan Siyamak. Justin menarik pundak Siyamak agar telinganya mendekat ke mulutnya, kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Siyamak. Siyamak terkejut mendengarnya, bola matanya membesar, menundukkan pandangan, kemudian menatap Justin kembali. Justin mengangguk seperti meyakinkan Siyamak. Siyamak tertegun. Justin melirik Noor.

Noor kemudian memegang lengan Siyamak, menariknya, tangan Siyamak yang masih dipegang Justin terlepas. Noor melangkah menjauh sambil memegang tangan Siyamak. Justin berdiri, menatap dua orang yang dicintainya melangkah menjauh. Noor menangis dalam diam memegang tangan Siyamak. Siyamak menunjukkan wajah tegar. Justin menangis dibalik jeruji besi yang mengurungnya sebagai pengkhianat.

Seorang prajurit yang bertanggung jawab terhadap perlengkapan sentaja sedang mengasah pisau besar di halaman dekat area perlengkapan. Yang Mulia Bindusara ke teras ruangannya di lantai dua, berdiri menatap prajurit yang sedang mengasah pisau. Bindusara bergumam, “besok bersamaan dengan kematianmu, banyak hal dalam diriku yang akan musnah. Lukanya akan sembuh, tapi rasa sakit yang kurasakan tidak akan pernah hilang. Kau sudah aku ma’afkan, tapi kau tidak akan bisa kulupakan, tidak akan pernah bisa, huaah”. Bindusara dengan kesal meninggalkan teras. Si prajurit tanpa merasa diperhatikan terus melanjutkan pekerjaannya mengasah pisau besar.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :