Ashoka: Helena Melihat Sosok Justin Dalam Diri Siyamak, Memohon Akan Menghukum Sendiri Pengkhianat. Bindusara Memaafkan, Bukan Mengampuni


Ashoka #128 epidoe 117 09

Ashoka memberitau, “ibu, hari ini aku teringat saat itu. Saat aku merasa bahwa aku, akan kehilangan ibu untuk selamanya. Aku jadi takut memikirkan itu, jangan-jangan itu menjadi kenyataan”. Dharma memegang tangan Ashoka dengan sebelah tangannya, sedang tangan kanannya tetap mengusap pipi Ashoka, “apa alasan ketakutanmu kali ini”.

Ashoka menjelaskan kecemasan yang dirasakannya, “ibu, memilih benar dan salah itu mudah, tapi jika harus memilih antara yang baik dan buruk, apa yang harus kulakukan”. Dharma bingung, “aku tidak mengerti”. Ashoka semakin sedih, “ibu”, kemudian mengubah posisi berdiri menyamping Dharma, “hari ini aku tau bahwa Yang Mulia telah mema’afkan Ahankara putri Raajaajiraaj, tetapi dengan syarat bahwa dia tidak boleh pergi ke Ujjayani, bahkan dia juga tidak boleh bertemu dengan ibunya. Keputusan Yang Mulia dari pandangan politik, dari pandangan keamanan Magadh, kelihatannya memang benar! Tapi jika Ahankara tidak bersalah, ibunya tidak bersalah, kenapa mereka mendapatkan hukuman? Dalam berpolitik kenapa yang menjadi korban orang yang tidak bersalah?! Lagipula, nanti setelah kematian Raajaajiraaj, Ahankara pasti membutuhkan ibunya, begitu juga sebaliknya. Dalam keadaan ini, bukankah tidak manusiawi kalau memisahkan mereka berdua bu?”.

Ashoka #128 epidoe 117 08

Dharma tersenyum mendengar dan melihat kegelisahan yang dirasakan Ashoka, ia kemudian meraih wajah Ashoka dengan kedua tangannya agar menatap matanya, “kalau kau harus memilih, pilihlah yang dikatakan hatimu, karena keputusan akal tergantung pada bukti, perdebatan, rasa takut, aturan, sifat, ego dan yang lainnya. Tapi hati, keputusan hati adalah keputusan yang keluar dari hati nurani. Dan hati nurani tidak akan mencemaskan akibatnya, karena hati menyentuh orang yang dekat dengan kebenaran. Hati nurani mengenal segalanya”, sambil tersenyum mengangguk.

Ashoka jadi tersenyum lega mendengar wejangan ibunya yang penuh kasih sayang, “baiklah bu, kalau begitu aku harus mempertemukan Ahankara dengan ibunya, dan untuk itu aku harus bicara dengan Yang Mulia”. Dharma tersenyum, kembli menyentuh pipi Ashoka sebagai restu. Ashoka kemudian membalikkan badan, meninggalkan ruangan. Dharma menatap kepergian Ashoka sambil bergumam, “aku hanya bisa berdoa agar kau tidak kehilangan dirimu dalam permainan politik”.

Ashoka #128 epidoe 117 10

Helena muncul di ruangan Chanakya dan Bindusara sedang berdiskusi. Bindusara yang sedang tercenung, menatap kedatangan ibu tirinya dengan tatap terkejut, kemudian saling lirik dengan Chanakya. Chanakya memberi kekuatan lewat matanya pada Bindusara agar menjalankan rencana yang sudah mereka bicarakan sebelumnya, memancing sisi keibuan Helena.

Helena dengan wajah agak cemas, menatap Bindusara, kemudian melirik Chanakya yang berdiri di depan sisi kanan kursi kebesaran Bindusara. Chanakya menatap Helena dengan tatap biasa. Helena bicara pada Bindusara, “aku ingin mengatakan sesuatu”. Bindusara mengangkat tangannya sebagai tanda mempersilahkan, “silahkan bicara ibu”. Helena menunjukkan wajah sedih, “aku mohon satu hal”. Bindusara melirik Chanakya , kemudian mengangkat tangannya kembali ke arah Helena untuk meneruskan ucapannya.

Helena semakin menunjukkan kesedihannya, “aku tau apa yang kau alami, aku sudah melihat rasa mencekam dimata permaisuri dan mata anak-anakmu. Apa yang terjadi memang tidak bisa dima’afkan”. Helena menangis, “tapi aku, aku adalah ibunya Justin, dan jika ada yang menghukum mati anaknya, di depan matanya, bagaimana aku tega untuk melihatnya?”. Bindusara merespon dengan nada tegas, “dia juga saudaraku, dan aku tidak memutuskan hal ini karena masalah pribadi, tapi memperhatikan tanggung jawabku terhadap kerajaan Magadh”.

Ashoka #128 epidoe 117 13

Chanakya melirik Helena yang menelah ludah dengan wajah sedih. Bindusara terus bicara, “memang benar apa yang dia lakukan membuat aku sangat terluka. Aku tidak akan merasa begitu sakit hati ketika senjata yang diarahkan oleh Justin mencedrai aku seperti sebelumnya, anak panah contohnya”.

Helena semakin mengernyitkan wajahnya, Chanakya memperhatikan ekspresi itu. Bindusara masih bicara, “tapi ibu, aku juga tau, dihadapan derita ibu, rasa sakitku tidak ada artinya, tapi menjadi seorang ibu pengkhianat adalah hal yang sangat menyakitkan, aku tidak bisa membayangkan hal itu pada ibu. Dia merencanakan siasat seperti itu dan ibu sama sekali tidak mengetahuinya?”.

Bindusara menunjukkan rasa aneh dengan menepukkan tangan kepahanya sambil menarik nafas dalam, “jangankan menjadi saudara yang baik, dia bahkan tidak menjadi putra yang baik. *Helena terkesima*. Melebihi aku dia sudah melukai kepercayaan dari ibu, ibu meminta aku untuk mengampuninya?!”. Helena ternganga menatap respon yang diberikan Bindusara padanya, sama seperti yang diperkirakan Nicator. Bindusara dengan wajah marah memutuskan, “tidak mungkin. Hukuman mati untuknya mutlak”.

Helena yang memang jago siasat di depan Bindusara, merespon cepat,”tidak Bindusara, sebelum mendengarkan permohonanku jangan menolakku”. Bindusara menatap Helena dengan tatap heran, begitu juga dengan Chanakya. Helena bicara dengan wajh meyakinkan, “aku ingin, anak yang aku lahirkan jangan mati ditangan orang lain, *menarik nafas dalam*, tapi ditanganku!”. Bindusara terkejut mendengarnya, begitu juga dengan Chanakya, ia heran menatap Helena, ibu macam apa yang berdiri di sampingnya itu.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Iklan

Satu respons untuk “Ashoka: Helena Melihat Sosok Justin Dalam Diri Siyamak, Memohon Akan Menghukum Sendiri Pengkhianat. Bindusara Memaafkan, Bukan Mengampuni

Tinggalkan Tanda Kehadiran Mu Kawans? :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.