Ashoka # 127 episode 116 06

Ibu suri Helena melangkah pelan di lorong menuju sel tahanan Justin, prajurit yang berjaga menunduk hormat. Justin sedang tertunduk duduk di dipan tahanan sepeninggal di kunjungi Noor secara diam-diam. Wajah Helena kaku melihat putra kesayangannya ada dalam tahanan. Justin langung berdiri melihat kedatangan ibunya.

Helena melangkah masuk ke dalam sel tahanan Justin, melangkah pelan ke hadapan Justin. Justin hanya berdiri menatap ibunya yang terlihat sangat shok. Helena menatap Justin dari ujung kaki sampai kepala, “bagaimana aku harus meminta ma’af kepadamu anakku. Aku selalu mengatakan selama ini kau tidak melakukan apapun dan ketika kau melakukannya, kau melakukannya seperti ini dan aku sama sekali tidak tahan Justin. Untuk menyelamatkanku, kau memberikan pengorbanan sebesar ini”, sambil menangis.

Justin menggeleng, “tidak Mitira, aku bukan melakukan ini demi kau. Aku melakukan ini demi putraku”. Helena terkejut. Justin menambahkan, “demi Siyamak”. Helena semakin terkejut, matanya melotot menatap Justin.

Ashoka # 127 episode 116 10

Sementara itu di ruang pertemuan kecil, Bindusara sedang melakukan pertemuan dengan Chanakya, “aku ingin tau bagaimana kebenarannya, tapi ternyata aku jauh dari kebenaran sempurna, aku hanya dipermukaan. Apa pendapatmu Acharya, apakah dalam siasat ini hanya Justin yang terlibat, atau,, Seleucus Nicator dan,, dan ibuku. Ibuku juga terlibat?”. Chanakya menatap Bindusara yang terlihat gelisah, “aku tidak punya bukti apapun Yang Mulia”.

Bindusara mencoba relitistis, dan meyakinkan Chanakya, “kebenaran itu mutlak Acharya, baik ada bukti ataupun tidak, apa pendapatmu tentang hal ini”. Chanakya pun menyampaikan pemikirannya, “kemungkinan itu ada Yang Mulia. Pangeran Justin, sepanjang hidupnya dikendalikan oleh ibu suri Helena. Kalau siasat ini direncanakan oleh pangeran Justin, maka pangeran Justin pasti telah menceritakan sesuatu tentang rencana ini dan aku yakin dia pasti tau tentang hal ini”. Bindusara jadi berfikir kemungkinan yang disebutkan Chanakya.

Ashoka # 127 episode 116 11

Di sel tahanan, Justin memberitau Helena kebenaran tentang dirinya, dengan membelakangi ibunya itu, “aku ingin menceritakan hal ini padamu ketikan kau menghina darah yang mengalir di tubuh Siyamak. Aku ingin memberitaumu bahwa darah yang mengalir dalam tubuhnya adalah darah putramu! Itu adalah darahku, aku rasa Siyamak merupakan kelemahan dariku”.

Justin kembali membalikkan badan menatap Helena dengan pipi basah oleh air mata, “aku tidak pernah berjuang demi hakku, ataupun berjuang demi cintaku. Aku selalu takut Mitira kalau orang sampai tau kebenaran tentang diriku, apa kata mereka! Aku tidak serakah akan tahta dan aku juga tidak ingin memikul tanggung jawab itu, karena itulah aku menerima jadi bonekamu selama ini”. Helena mendengar dengan menahan tangis.

Ashoka # 127 episode 116 08

Justin melangkah lebih mendekat ke hadapan Helena yang tertunduk, “tapi aku sama sekali tidak menginginkan apa yang terjadi padaku terjadi pada putraku. Hak yang tidak ku dapatkan akan di dapatkan olehnya. Perlakuan yang tidak adil yang aku terima, tidak akan pernah diterima oleh putraku”. Helena masih tertunduk mendengar curahan hati Justin.

Justin kembali berdiri miring, “kalau aku memahami Chanakya, maka walau apapun kata dia, dia tidak akan membiarkan Siyamak duduk di singgasana, karena meskipun aku keturunan Maurya, aku tetap saja dianggap sebagai orang Yunani! Seperti itulah Chanakya selalu menganggap Siyamak sebagai khorasani”.

Justin dengan mata berkaca menatap Helena, “apa kekurangan diriku Mitira! Dan apa kekurangan yang ada pada Siyamak! Dia punya semua sifat untuk menjadi seorang kesatria, dia pejuang, dia cerdas, dia sabar, punya welas asih, dia bisa jadi penguasa yang baik, dia hanya butuh bimbingan dan juga dukungan, dan itu akan di dapatkan darimu. Dukungan Khorasani memang sudah ada bersamanya Mitira, hanya saja kalau dia mendapatkan dukungan Yunani tidak ada yang bisa mengalahkan dia Mitira, Sushima juga tidak bisa! Coba kau pikir Mitira, cucumu, putraku, akan duduk di singgasana dan di kepalanya akan ada mahkota kerajaan Magadh! Dia akan memenuhi semua impianmu dan juga impianku Mitira”, sambil tersenyum dalam tangis.

Helena yang menangis mendengar ucapan Justin, merespon, “akan tetapi aku tidak bisa membayar impian itu dengan darahmu. Bagaimana aku tega melihatmu mati, bagaimana?”. Justin menenangkan ibunya dengan memegang lengan Helena, “tidak Mitira, aku akan tetap hidup, aku akan hidup dalam Siyamak. Dia yang akan membuatku hidup”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :