Acharya Raghvendra bertanya pada Mahaputra, “Bagaimana perasaanmu setelah istirahat, sehat, bugar”. Tanpa curiga, Mahaputra menjawab, “Ya, guru, sekarang ku jadi bisa melakukan apapun yang kau perintahkan”. Raghvendra berkata, “Ada sebuah pohon yang indah diluar istanamu, saat ini ada bunga-bunga putih yang sedang merekah indah di pohon itu”.

Mahaputra makin semangat, “Ya, bunga warna putih itu punya keharuman yang lembut”. Raghvendra memerintahkan, “aku ingin kau kesana dan mengambil bunga itu secepatnya”. Mahaputra langsung menyanggupi, “Baiklah guru, saat aku kembali besok, akan ku ambil bunga itu”. Raghvendra merespon, “Kenapa besok, kenapa tidak hari ini”. Mahaputra menunjukkan wajah serius mendengar ucapan gurunya, Shakti mulai tersenyum.

Acharya Raghvendra menjelaskan, “Kau terlambat datang ketempat latihan hari ini, jadi kaupun harus dihukum hari ini. *Mahputra ternganga, Shakti tersenyum*. Sama seperti kau datang kemari, dengan cara berjalan kaki, begitu juga kau akan pergi dan kembali lagi ke tempat ini dengan menggunakan cara yang sama”. Mahaputra memastikan, “Haruskah aku pergi sekarang”. Raghvendra menjawab, “Kau sudah merasa sehat, juga sudah merasa bugar, lalu apa lagi yang kau tunggu”.

Mahaputra menjelaskan maksudnya, “guru mengajarkan suryanamaskar pada yang lain”. Raghvendra memberitau, “Akan perlu waktu untuk belajar suryanamaskar dan itu tergantung padamu, secepat apa kau bisa kembali dengan membawa bunga itu”. Mahaputra mencoba menawar lagi, “tapi guru,,”. Raghvendra memotong, “jangan buang-buang waktumu lagi sekarang, kalau tidak karena kesalahanmu sendiri kau akan dikirim ke lembah khusus untuk mendapatkan hukumanmu”. Mahaputra ternganga, Shakti tersenyum.

Acharya Raghvendra mengangkat tangannya ke arah pintu sebagai isyarat agar Mahaputra melaksanakan hukuman yang diberikan. Mahaputra memberi sikap salam dengan penuh hormat, “baiklah guru”, kemudian berlari keluar ruangan. Acharya Raghvendra menatap putra mahkota kerajaan Mewar yang menjauh itu.

Mahaputra #15 episode 33-40 38

Di sebuah gua panglima Shams dan kakaknya berjalan memasuki area gua dengan masing-masing memegang obor. Shams terlihat bingung, “hei kak, aku tidak mengerti, ada dimana kita sebenarnya”. Kakaknya menjelaskan, “Shams, apa kau ingat, mata-mata dari Mewar saat aku membunuhnya tepat sebelum tewas, dia tidak menunjukkan rasa takut sedikitpun, justru rasa bangga. Apa kau ingat yang dikatakan waktu itu? bahwa masa depan Mewar adalah Mahaputra”.

Keduanya terbayang ucapan mata-mata Mewar, ‘saat itu pangeran Mahaputra kami yang pemberani sedang berdiri dengan pedang ditangannya, dia juga sudah merubah bendera Shamli dengan bendera Mewar! Jangan membuat kesalahan dengan meremehkan kekuatan dari pangeran Mahaputra dari Mewar kami”. Kakak Shams menjelaskan, “Dia mengatakan itu dengan begitu yakin dan bangga, itu artinya Mahaputra adalah tiang yang menjadi masa depan bagi kerajaan Mewar”. Kakaknya Shams melanjutkan langkah dengan cepat. Shams menatap kakaknya yang menjauh dan bergumam, “Inilah yang sejak lama aku ingin katakan padamu kak. Mahaputra telah menjadikan riak bagi kegiatan dan juga jiwaku”.

Mahaputra #15 episode 33-40 39

Sementara itu, Mahaputra kembali berlari dari tempat pendidikan menuju istananya, melompat sungai, pohon yang tumbang. Ia sempat berhenti sejenak untuk mengatur nafas untuk istirahat, tapi kemudian berhasil ke tempat pohon yang dimaksud, ia memetik bunga putih seperti yang diminta gurunya, setelah dirasa cukup, ia berlari kembali menuju arah padepokan. Mahaputra kembali melompat dan berlari.

Di lorong gua, Shams mengajak saudaranya bicara, “bagaimana menurutmu kak, pekerjaan yang gagal dilakukan oleh seluruh pasukan panglima Shams, bisa dilakukan oleh seorang prajurit sewaan biasa, huahaaahhhhhaaa”. Kakaknya berteriak marah, “Shams!”. Tawa Shams terdiam. Kakaknya memberitau dengan wajah serius, “Kekuatan yang berbahaya gemetar mendengar namanya, bahkan dihari ini, orang yang lemah tidak mau mengunjungi tempat itu dimana dia diperkirakan akan datang. Dewanya telah memberi keahlian untuk melakukan berbagai macam perhukuman. Mahaputra, Mahaputra sekalipun tidak akan bisa lolos dri cengkramannya”. Shams mengangguk-angguk paham.

Mahaputra dengan bunga putih dalam genggaman tangannya terus berlari. Di ruang tempat belajar, murid lain mulai belajar gerakan suryanamaskar. Shakti mengikuti dengan baik, beberapa anak ada yang mengernyit saat mengangkat tangan, ada yang duduk dengan mengangkat kaki sambil menahan sakit, ada yang masih terus melanjutkan. Acharya Raghvendra memperhatikan semua murid dari tempat duduknya. Mahaputra masih berlari.

Murid-murid sudah banyak yang meringis mempelajari suryanamaskar, ada yang sudah tak sanggup lagi. Raghvendra memperhatikan. Mahaputra masih berlari. Shakti masih melakukan gerakan, tapi akhirnya dia kelelahan juga. Raghvendra memperhatikan. Mahaputra sedang menyebrangi sungai dengan meniti sebuah pohon tumbang yang berfungsi sebagai jembatan. Ia harus menjaga keseimbangan tubuhnya, hampir saja bunga ditangannya terjatuh, tapi untung dengan sigap ia menggenggam.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :