Mahaputra masih melompat, berlari, dia sempat berhenti, mengatur nafas, di depannya sudah terlihat bangunan padepokan gurunya. Mahaputra menarik nafas, terngiang ucapan ayahnya, ‘karena kalau kau kalah lagi, aku mingkin tidak akan bisa menerima akibat dari kekalahanmu’. Mahaputra yang sudah kelelahan jadi tersenyum.

Mahaputra #15 episode 33-40 28

Di ruangan tempat belajar, semua murid sudah berdiri rapi, saling berhadapan dengan dipisah jarak tempat para guru mondar mandir menjelaskan pelajaran. Acharya Raghvendra melangkah ke tengah dengan sikap formal, semua murid memberi sikap salam. Acharya menatap semua muridnya, “ada yang tidak hadir”. Shakti berdiri dengan wajah senyum. Salah satu murid menyahut, “guru, pangeran Mahaputra, dia tidak ada”.

Acharya Raghvendra menatap dingin, “Ini adalah pertama kali dan terakhir kali kau menjawabku tanpa ku tanya. Mulai dari hari ini, kau hanya akan menjawabku kalau aku bertanya padamu. Kalau tidak, maka ini akan menjadi hari terakhirmu disini”. Si murida dengan wajah pias menyahut, “Baik guru”.

Acharya Raghvendra melihat kesemua murid, “Sebelum kita mulai pendidikan ini, semua murid harus saling berkenalan dulu sebelumnya. Kalian harus ingat bahwa pengenalan kalian haruslah dalam bentuk pengetahuan umum dan harus kalian lakukan dengan baik, karena seperti itulah kalian akan dikenal disini. Nantinya kalian akan dikenal oleh apa yang kalian lakukan setelah menyelesaikan pendidikan disini”.

Acharya Raghvendra melangkah ke depan anak yang berdiri di urutan pertama darinya, menatap si anak. Sang anak mengatupkan kedua tangannya di depan dada, “guru, namaku adalah Venidhas, aku anak dari tabib istana Mewar yang adalah seorang murid terkenal dari Ayurveda”. Acharya melangkah, “murid selanjutnya”. Si anak bersuara, “tapi guru, perkenalan ku masih belum selesai”. Acharya menatap si anak, si anak balas menatap mata gurunya.

Mahaputra #15 episode 33-40 30

Acharya Raghvendra menjulurkan tangan ke arah asistennya berdiri. Si asisten tanpa bertanya mengerti apa yang dimaksud sang guru. Shakti memperhatikan, murid lain juga memperhatikan dengan serius. Acharya mengambil sehelai kain hitam dari nampan yang disodorkan asistennya dan menyodorkan ke murid yang bernama Vinidhas, “Sebelum aku menemukan kerendahan hati dimatamu, maka matamu akan terus tertutup”. Murid lain terkejut. Vinidhas masih mencoba menawar, “tapi guru, ini”. Acharya hanya menggerakkan alisnya. Vinidhas mengambil kain hitam dari tangan gurunya dan menutupkan ke matanya. Pangeran Shakti memperhatikan.

Acharya Raghvendra menoleh ke anak berikutnya, si anak memulai, “pertama-tama aku meminta doa dari guru yang terhormat ini”, sambil memberi sikap salam dan menunduk hormat, “namaku Cakravani isra, aku putra dari ahlinya tata bahasa dan juga penulis sastra diantara semua bangsa Rajput. Ayahku adalah Ukramisra dan leluhurnya adalah seorang,,”.

Raghvendra mengangkat tangannya, menandakan si anak untuk diam. Acharya memberi komentar atas perkenalan si anak, “lebih baik menggunakan dua kata saja, saat kau sudah menyelesaikannya dengan mengatakan hal lain kau sudah bicara sedikit lebih banyak dari yang seharusnya”. Si anak tertunduk. Pangeran Shakti terus memperhatikan perkenalan teman-temannya itu. Anak yang ditutup matanya ikut mendengarkan.

Mahaputra #15 episode 33-40 32

Acharya Raghvendra pindah ke anak berikutnya dengan urutan zig zag. Si anak memberi sikap hormat, “Salam guru, aku Man Singh! Ibuku bilang padaku bahwa aku sangat kuat dan aku yakin bahwa setelah kau melatihku aku pasti akan menjadi seorang kesatria yang berani untuk kerajaan ini”. Raghvendra menatap si anak, “Mari kita mulai dengan pelajaranmu sekarang”, sambil menekankan tangannya yang terkepal ke tanah, “coba kau gerakkan tanganku”.

Si anak jongkok, mencoba menggerakkan pergelangan tangan sang guru dengan sekuat tenaga, tapi tangan si guru tak sedikitpun bergeser. Si anak berusaha sekuat tenaga, “Aaaaaaa”, tapi tak ada perubahan pada posisi tangan si guru. Shakti tersenyum lebar, murid lain ikut tersenyum. Akhirnya anak yang mengaku kuat kelelahan, sang guru berdiri, si murid yang sudah bermandikan keringat ikut berdiri. Raghvendra berkomentar, “kualitas terbaik dari kesatri sejati adalah kerendahan hatinya”. Si murid menatap gurunya yang tak ada basa basi itu.

Acharya Raghvendra melihat ke arah pintu, bergumam, “pangeran Mahaputra, dia masih belum ada disini”.

Sementara Mahaputra masih berlari menyusuri jalan menuju sekolah.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :