Permaisuri Jaivanta tersenyum, “sekarang kau boleh memberikannya pada pangeran Mahaputra”. Bhatiyani menerima kembali nampan, menyuapkan makanan yang sudah dibuatkannya itu ke mulut Mahaputra. Mahaputra menelannya, dengan cepat menyentuh kaki ibu tirinya yang tanpa ketahuan sudah menunda-nunda waktu Mahaputra yang mau berangkat ke sekolah. Bhatiyani memegang kepala Maputra seakan benar-benar penuh perhatian, “aku akan berdoa pada Dewa untuk keberhasilanmu, pergilah”. Mahaputra kemudian menyentuh kaki ibunya sendiri, permaisuri Jaivanta menaroh tangan di kepala putranya. Mahaputra memberi sikap hormat, “Aku pergi sekarang”, kemudian dengan cepat meninggalkan tempat itu.

Bhatiyani menatap kepergian Mahaputra dengan menyembunyikan rasa senangnya. Permaisuri Jaivanta menatapnya, “Sepertinya banyak sekali yang kau lakukan sejak tadi pagi Bhatiyani, kau pasti lelah, istirahatlah, sebaiknya kau tidur”. Bhatiyani tersenyum memberi kesan setuju, “Iya kak”. Jaivanta kemudian meninggalkan tempat itu. Bhatiyani menatap kepergian madunya itu dengan tatap kurang suka.

Mahaputra #15 episode 33-40 22

Mahaputra berlari menuju tempat kudanya seharusnya siap menunggu, tapi dia hanya melihat prajurit yang berdiri berjaga yang salah satunya menunduk hormat, “Salam”. Mahaputra bertanya, “Dimana pangeran Shakti”. Si prajurit memberitau, “Dia sudah lama pergi pangeran”. Mahaputra mengernyitkan wajahnya, “Lalu, dimana kudaku sekarang”.

Si prajurit memberi alasan, “Yang lain mengira kau tidak ikut, jadi dia membawa kuda-kudanya kembali ke kandang”. Mahaputra kaget, “apa?!”. Si prajurit merespon, “akan ku bawa kudamu sekarang pangeran”. Mahaputra menolak, “Tidak, biarkan saja, aku tidak bisa menunggu lagi sekarang, aku akan pergi sendiri”, kemudian berlari menuju gerbang. Si prajurit berteriak, “pangeran Mahaputra tunggu! Akan kubawakan kudamu pangeran!”. Mahaputra sudah berlari menjauh.

Di kamarnya, Bhatiyani bicara pada Kokoi, “Dewa masih menyelamatkan nyawanya, dia masih bisa hidup”.

Sementara itu, Mahaputra sudah berlari diantara rimbunnya pepohonan hutan, melompati semak-semak.

Bhatiyani mengungkapkan pikiran jahat yang menbguasai dirinya, “Pangeran Mahputra telah lolos dari rencanaku, aku rasa kesempatan itu tidak akan terulang lagi, bagaimana menurutmu? Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang pernah aku lakukan”.

Mahaputra terus berlari dan melompat secepatnya memburu waktu menuju pertapaan tempatnya belajar.

Mahaputra #15 episode 33-40 25

Bhatiyani terus mengintimidasi pelayan yang tau rencana jahatnya, “Kenapa Kokoi, kenapa kau menatap ku seperti itu, apa aku terlihat bodoh? katakan padaku”. Kokoi takut-takut, “tidak permaisuri, aku berfikir”. Bhatiyani memotong ucapan Kokoi, “aku disini untuk mengurus pangeran Mahaputra, kenapa kau seperti itu, lagipula aku sudah katakan aku akan melakukan sesuatu pada Mahaputra hingga semua orang akan meragukannya”.

Mahaputra masih berlaari menuju sekolahnya.

Kokoi memberikan pendapatnya, “tapi permaisuri, dari cara permaisuri Jaivanta menghentikanmu yang ingin memberi makanan pada pangeran, itu adalah bukti bahwa sampai sekarang dia masih terus mencurigaimu”. Bhatiyani berpendapat, “kira-kira dia berapa lama sanggup seperti itu, satu kali dua kali atau tiga kali, lalu saat dia tidak mendapatkan apapun dia pasti akan lelah sendiri, dia akan melupakannya, dan kalau dia telah melupakannya maka aku akan pastikan agar semua ini terlihat seperti khayalan, khayalan dari lemahnya keselamatan anaknya”.

Kokoi memberikan pendapat, “Aku mengerti permaisuri, kau sengaja menahan pangeran agar terlambat menuju ke tempat pendidikannya”. Bhatiyani merasa bangga dengan siasatnya, “Aku bahkan tidak perlu berfikir terlalu jauh Kokoi, pertama melihat Mahaputra yang begitu putus asa telah membuat aku merasa sangat senang, dan racun bukanlah satu-satunya cara untuk bisa membunuh seseorang, masih ada banyak cara untuk membunuh seseorang, bukankah begitu?”.

Mahaputra #15 episode 33-40 26

Kokoi berdiri mematung mendengarkan uraian rencana jahat Bhatiyani, “pertama-tama dia sudah kalah dari pangeran Shakti, dia sudah kalah diujian pertamanya, dia punya keinginan yang besar seperti keinginan Yang Mulia dan juga ibunya, melalui penglihatannya sendiri dia ingin melakukan yang terbaik, dia ingin melakukan sesuatu, yang akan membuat Yang Mulia senang. Tapi aku tau bahwa gurunya sangat disiplin Kokoi, jadi aku telah membuatnya terlambat ke tempat pendidikannya dihari pertama”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :