Dengan cepat, permaisuri Sajja memegang tangan pangeran Shakti yang hendak melemparkan cincin pemberian raja Udai, “Tenanglah, pangeran Shakti aku minta kendalikan amarah mu itu”. Shakti melepaskan pegangan tangan permaisuri Sajja dari lengannya, “tidak bu. Sekarang kemarahanku tidak akan pernah berhenti lagi atau bahkan bisa ditenangkan. Karena kemarahan ini akan menjadi kekuatanku untuk mengalahkan Mahaputra dalam setiap ujian selama latihan, akan ku tunjukkan kepada raja dan kepada seluruh rakyat di Mewar bahwa aku tidak sama lagi sekarang! Aku bukanlah yang dulu lagi!”.

Mahaputra #15 episode 33-40 07

Di ruangannya, Mahaputra berlutut menyentuh kaki ibunya, kemudian berdiri, “Dan ibu, aku bersumpah padamu sekarang bahwa seperti aku pernah mengecewakan ayah, aku tidak akan pernah mengecewakannya lagi. Akan ku gunakan semua kemampuanku, aku akan menjadi yang terdepan dalam pendidikan di pertapaan, aku akan keluar sebagai kesatria terbaik di pertapaan, aku akan menjadi penguasa dan juga kesatria yang akan membuat ayah bangga. Aku akan membuktikan itu ibu, aku akan muncul sebagai kesatria, aku akan menjadi penguasa dan juga kesatria yang akan membuat ayah bangga padaku. Aku akan membuktikan itu ibu, bahwa kepercayaan ayah padaku bukanlah sebuah kesalahan”, sambil mengepalkan tangan. Mahaputra tersenyum pada ibunya, “Akan ku buat pemerintahan yang bersih seperti ayah”.

Di ruangannya, pangeran Shakti juga mengucapkan tekadnya, “Dan hari ini aku juga bersumpah bu, bahwa dalam latihan ini, aku akan jauh lebih baik daripada Mahaputra, dan dihari itu juga dia akan muncul di depan rakyat Mewar bukan sebagai calon raja, tapi akulah yang akan mereka pilih”. Permaisuri Sajja terpana menatap tekad kuat diwajah putranya.

Mahaputra #15 episode 33-40 10

Hari sudah berganti, di ruang kuil, Mahaputra sudah dalam seragam sebagai murid pertapaan, ia berdiri dengan sikap berdoa dan mata terpejam disebelah ibunya. Permaisuri Jaivanta kemudian mendekat, Mahaputra menyentuh kakinya, kemudian berdiri, “Doakan aku ibu supaya aku bisa memenuhi semua impian ibu yang telah ibu tunjukkan padaku sampai hari ini”.

Permaisuri Jaivanta dengan wajah senyum menatap putranya, “Doaku akan selalu bersamamu pangeran Mahaputra. Tapi pada kenyataannya, ini tidak ada artinya lagi, karena mulai hari ini dan selanjutnya, kalau ada doa yang terpanjat untukmu, maka itu adalah doa dari gurumu. Guru adalah ciptaan Tuhan dan juga wakilnya, guru adalah juga Dewa kehancuran”.

Mahaputra tersenyum, “Memang seperti itulah sikap seorang guru ibu, ya itu benar sekali. Dengar ibu, ibu telah membuatku mengingat semua ini sejak dari kecil dan ibu juga sudah jelaskan bahwa untuk seorang murid tidak ada yang lebih besar daripada gurunya sendiri. Bahkan di depan Dewa sekalipun seorang murid harus menggantikan gurunya, dimana itu adalah tugasnya, aku ingat semua itu ibu”.

Mahaputra terlihat agak sedih, “Aku hanya takut satu hal saja, karena seperti keinginan dan juga bayangan ibu apakah aku bisa menjadi murid yang tepat bagi seorang guru”. Permaisuri Jaivanta tersenyum, “Tentu saja”, kemudian melangkah kesamping Mahaputra, “lanjutkanlah tanpa keraguan dan pelajari apa yang diajarkan dan ingat, jangan pernah meninggalkan kebenaran dan tanggung jawab. Karena ada banyak kekuatan di dalam kebenaran dan tanggung jawab”.

Mahaputra jadi bersemangat lagi, “Aku akan selalu mengingatnya ibu, semua yang telah ibu katakan. Haruskah aku minta doa dari ayah dulu sekarang”. Permaisuri Jaivanta memberi semangat, “Ya, tapi hati-hati, kalau nanti raja masih tidur, jangan diganggu”.

Mahaputra #15 episode 33-40 11

Di ruangan permaisuri Bhatiyani, Dai Kokoi membuka pintu dan masuk ke dalam, di dalam ia sudah melihat permaisuri Bhatiyani sedang meracik minuman. Dai Kokoi menghampirinya, “Permaisuri, apa yang kau kerjakan pagi-pagi begini, kau bahkan tak memnggilku”. Bhatiyani mengisyaratkan Kokoi untuk diam, “Hussstt, apa kau tidak lihat, aku sedang buatkan makanan manis untuk pangeran Mahaputra. Ini adalah hari pertamanya di pendidikan”.

Dai Kokoi pucat, melihat makanan yang sedang dia diracik Bhatiyani, ia memegang lengan permaisuri yang penuh niat jahat pada Mahaputra itu, “Tidak permaisuri”. Bhatiyani melotot menatapnya, Kokoi melepaskan pegangannya, “Kau tidak boleh melakukan ini permaisuri, apa yang kau masukkan ke dalam minuman”. Bhatiyani tetap nyantai, “Kenapa kau begitu khawatir! Ayo, pergi dan beritau pangeran Mahaputra, bahwa dia tidak boleh pergi tanpa bertemu denganku”, sambil terus mengaduk minuman yang dibuatnya. Kokoi menatap gelisah ke arah minuman yang bercampur daun-daun itu. Bhatiyani memperkeras suaranya, “Kau tidak dengar!?!”. Kokoi keluar ruangan, Bhatiyani tersenyum melihat pelayan setianya itu melaksanakan perintahnya walau dengan wajah terpaksa.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :