Dharma memegang pipi Ashoka, “Mengingkari janji itu bukan hal yang baik nak, jika untuk memenuhi kemudian menyakiti siapapun, maka kau harus mencari jalan yang lain agar janji tidak diingkari dan orang itupun tidak akan tersakiti hatinya”. Ashoka tersenyum, ia memegang kedua lengan Dharma, “Ibu, aku sudah tau caranya”, kemudian memeluk ibunya. Dharma mengusap kepala putra kesayangannya itu. Ashoka melihat sekeliling, kemudian berlari dengan cepat meninggalkan tempat ibunya itu. Dharma menatap Ashoka yang menjauh.

Ashoka #119 episode 109 17

Dua prajurit yang berjaga di depan kamar Ahankara saling bicara, “Kau pikir apa, apa Raajaajiraaj akan memberitau nama teman-temannya yang lain?”. Temannya menjawab, “Dia akan diberi tau, walau Raajaajiraaj tega meninggalkan putrinya dan juga untuk menghindari hukuman, dia pasti akan diberi tau”. Prajurit yang tadi bertanya merespon, “Seluruh Magadh ingin tau semuanya, siapakah orang-orang yang membuat rencana sebesar ini bersama Raajaajiraaj”.

Sementara tak jauh dari dua prajurit itu, Ashoka membuat api dengan membakar kulit kelapa kering disebuah wadah. Setelah dirasa cukup, ia beranjak meninggalkan api yang sudah menyala dalam wadah itu. Benar saja, satu prajurit itu berkomentar, “Ada bau terbakar”, bersamaan dengan Ashoka muncul dihadapan mereka.

Ashoka pura-pura tak tau apa-apa, “Apa ada yang terbakar disana”. Satu prajurit menjawab, “Aku tidak tau”. Ashoka merespon dengan wajah serius, “Kenapa tidak mencari tau, jangan-jangan ada serangan lagi. Kalian taukan musuh sedang mengawasi kita, kalian yang akan dituduh, meskipun kalian tau semuanya, tapi kalian tidak melakukan apapun”. Dua prajurit itu ragu. Ashoka semakin serius, “Coba lihat kesana! Ayo cepat!”. Kedua prajurit itupun bergegas.

Ashoka juga bergegas kedalam ruangan, ia menghampiri Ahankara yang duduk melamun di ujung tempat tidur. Ashoka berkata, “Ayo cepat, kita tidak punya banyak waktu. Ayahmu akan dibawa untuk memberi kesaksian, ini kesempatan yang baik untuk melihat ayahmu, ayo ikut aku”. Mereka berdua berlari keluar ruangan.

Ashoka #119 episode 109 19

Raajaajiraaj sudah di lorong menuju ruang persidangan. Ia dikawal beberapa prajuri, kaki, tangannya dirantai dengan besi besar yang dikalungkan ke leher. Saat melangkah tertunduk itu, ada cahaya yang mengenai wajahnya. Raajaajiraaj berhenti, mengangkat wajahnya ke arah cahaya yang mengenai wajahnya, ia melihat Ahankara sedang berdiri disebelah Ashoka yang memegang sebuah kaca kecil ditangannya, yang membuat cahaya mengenai wajahnya tadi. Ahankara menatap wajah ayahnya dengan tatap sedih. Raajaajiraaj juga termangu menatap putri kesayangannya itu.

Raajajiraaj melihat ke rantai besar yang mengikat tangannya. Prajurit menegurnya, “kenapa berhenti!”. Ahankara dan Ashoka mengumpet di balik tembok. Si prajurit bertanya pada Raajaajiraaj yang tertegun, “Apa yang kau lihat itu!”. Raajaajiraaj menatap lagi ke arah hankara tadi berdiri, kosong. Prajurit memegang tangan Raajaajiraaj, “Ayo”. Ahankara dan Ashoka keluar lagi dari tempat mereka bersembunyi. Ahankara menatap ayahnya dengan tatap sedih. Ashoka melirik Ahankara yang menangis lagi.

Dua prajurit yang tadi disuruh Ashoka melihat bau terbakar, menemui wadah bekas terbakar yang mengeluarkan asap. Salah satu prajurit heran, “Siapa yang membakar kelapa”. Temannya merespon, “Ya, dan untuk apa?”. Prajurit yang pertama berkomentar, terkejut, “Anak itu! Dia pasti membawa putri pengkhianat itu keluar! Ayo kita lihat!”. Temannya setuju, “Ayo”, mereka berlari ke ruangan Ahankara.

Ashoka #119 episode 109 21

Sesampainya di ruangan Ahankara masih duduk di ujung pembaringannya sambil memegang gelas minuman, di depannya duduk Ashoka seperti sedang menghibur. Ahankara dan Ashoka menoleh saat kedua prajurit itu muncul. Ashoka langsung berdiri, “Ada apa? Semua baik-baik sajakan? Aku lihat ada asap tadi!”. Kedua prajurit itu saling tatap.

Ashoka terlihat ga sabar, “Ada apa, kenapa diam saja? Apa tadi ada kebakaran?”. Satu prajurit menjawab, “Kami sudah memadamkannya”. Ashoka merespon cepat, “Bagus. Beginilah kalian harus menjaga Magadh! Kapanpun ada yang dicurigai harus segera diselesaikan. Pergi, kalian berdua ku ma’afkan, aku tidak bilang apa-apa pada Yang mulia. Tapi kalau lain kali kalian seperti ini lagi”. Kedua prajurit hanya bisa saling tatap.

Ashoka menatap Ahankara, bicara pelan, “Mereka sudah disini, aku harus pergi”. Ashoka kemudian menatap kedua prajurit yng terlihat kebingungan itu. Ashoka melangkah keluar ruangan dengan tenang, janjinya sudah terpenuhi pada Ahankara, dan tidak menyakiti Bindusara karena tidak melanggar perintahnya. Kedua prajurit saling tatap, melirik Ahankara yang ekspresinya tetap sama, sedih. Ahankara duduk dengan wajah berfikir.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :