Justin merespon Nicator, “Dia tau itulah yang kau pikirkan, karena itulah, kita tidak mungkin kesana untuk mencari Raajaajiraaj. Karena tempat yang paling aman bagi Raajaajiraaj adalah disana”. Nicator mengangguk setuju, “Kau berkata benar”. Chanakya memperhatikan dari salah satu teras atas istana. Justin dengan wajah tersenyum, melangkah meninggalkan Nicator, saat mau berbelok, di depannya berdiri Bindusara di dampingi Ashoka.

Ashoka 117 episode 107 13

Justin terkejut, Bindusara tersenyum, Ashoka yang berdiri disebelah Bindusara juga menunjukkan wajah senyum menatap pangeran Justin. Justin melirik Ashoka, menelan ludah, berusaha tenang, “Yang Mulia, kau”. Nicator yang sudah membalikkan badan, menoleh lagi ke arah Justin dengan raut terkejut. Chanakya tersenyum memperhatikan semuanya dari tempatnya berdiri.

Yang Mulia Bindusara dengan tenang berkata, “Aku ingin ikut denganmu untuk berdoa bagi ibu”. Justin terpana, Nicator mengawasi dari tempatnya berdiri dengan gelisah. Justin gelagapan, “Aaap, tapi Yang Mulia, kalau kau ikut denganku, maka, akan timbul rasa tidak aman dihati rakyat. Aaa, lagipula kalau dilihat dari segi keamanan, aa, ini tidak baik bagimu Yang Mulia”. Ashoka langsung memberi respon, “Jangan khawatir pangeran, aku akan menjaga Yang Mulia dengan baik”.

Bindusara tersenyum melirik Ashoka, kemudian menatap Justin. Justin tidak punya pilihan biar tak dicurigai, “Kalau begitu, *tersenyum*, Ini hal yang menggembirakan bagiku”. Bindusara tersenyum, “Ayo”. Ketiganya kemudian beranjak dari situ. Nicator menatap dengan tatap gelisah kepergian Justin yang bersama Bindusara dan Ashoka. Chanakya membathin di tempatnya berdiri, ‘Musuh Magadh tidak akan lolos dari pandangan Ashoka yang tajam’.

Ashoka 117 episode 107 15

Di kamar untuknya, Ahankara duduk menangis dengan bersimpuh di lantai membelakangi pintu, di ujung tempat tidur, sambil menggenggam erat salah satu kalungnay yang putus. Sushima masuk diikuti dua prajurit, ia bersuara, “Seluruh masalah ini bisa selesai dalam sekejap”. Ahankara menoleh, kemudian berdiri menatap Sushima. Sushima menambahkan, “Dan aku juga bisa membantumu dalam hal ini”.

Ahankara menatap Sushima dengan wajah tak percaya, “Setelah menimbulkan musibah, kau bicara ingin membantuku keluar dari musibah? Dalam mimpi sekalipun aku tidak menyangka, kalau kau akan mengkhianati aku”. Sushima menjawab dengan sifat aslinya yang songong, “Kau tidak pantas membicarakan pengkhianatan Ahankara. Darahmu saja berbau pengkhianat! Ayahmu, pamanmu, dan juga kakakmu! Semuanya pengkhianat! Ini adalah tradisi dari keluargamu”.

Ahankara mendorong tubuh Sushima dengan marah, “Jahat sekali kau!”. Salah satu prajurit menghampiri sambil menodongkan senjata ke arah Ahankara. Sushima menyingkirkan pedang di prajurit, melangkah ke hadapan Ahankara lagi, “Kau lihatkan, semua prajurit disini, ingin sekali membunuhmu! Dalam pandangan mereka kau hanyalah seorang putri pengkhianat!”.

Ashoka 117 episode 107 14

Ahankara tak percaya menatap lelaki yang dicintainya itu, “Apa yang terjadi padamu Sushima! Bukankah kau mencintai aku?”. Sushima menjawab dingin, “Dulu memang iya. Tapi sekarang, setelah mengetahui kau adalah putrinya pengkhianat, aku hanya bisa benci padamu!”.

Ahankara mencoba membuka pikiran Sushima, “Meskipun kau tau aku tidak bersalah dalam hal ini? Kalau memang aku mau! Aku bisa melarikan diri dan menyelamatkan nyawaku! Tapi aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian! Sushima, kau boleh saja memarahiku sepuasnya, tapi sekali saja, kau, kau yakinkanlah aku, bahwa apa saja yang ada diantara kita, itu bukan bohong”.

Ashoka 117 episode 107 16

Sushima menundukkan pandangannya, mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan berwarna biru dari balik selendang dipinggangnya, meraih tangan Ahankara, menarohnya di telapak tangan gadis yang pernah begitu disanjungnya. Ahankara bingung, “Ini, apa ini?”. Sushima memberitau, “Untuk meyakinkanmu. Untuk meyakinkanmu bahwa apa yang tejadi diantara kita ini tidak bohong. Aku membawakan racun”.

Ahankara menatap botol ditangannya semakin tak mengerti, “Racun?”. Sushima menjelaskan maksudnya, “Begini Ahankara, aku tidak tega melihatmu disiksa, aku tidak tega melihatmu dihina, karena itu demi cinta kita, aku membawakan ini untuk mengurangi rasa sakitmu, penderitaanmu. Minum saja racun ini, agar kau tidak tau, kapan kau meninggalkan dunia ini”. Ahankara menatap Sushima tak percaya. Sushima meninggakan ruangan. Ahankara menangis tergugu memegang botol berisi racun ditangannya.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :