Ashoka 117 episode 107 04

Ahankara keluar, ke teras ruangannya, yang terletak di lantai atas istana. Ahankara memegang pagar pembatas sambil terngiang ucapan prajurit sebelumnya, ‘Ini perintah Yang Mulia! Beliau juga mengatakan jika dalam tiga hari Raajaajiraaj tidak menyerahkan diri, maka hukuman atas perbuatannya akan ditanggung putrinya”. Ahankara membulatkan tekadnya, ia menaiki pagar pembatas teras, berdiri sambil melihat kebawah, tapi masih berpegangan, tidak langsung menerjunkan diri.

Ahankara dengan wajah sedih terbayang saat dia memohon pada Sushima, ‘Bicaralah dengan Yang Mulia sekarang juga’. Dengan dingin Sushima menjawab, ‘Yang bisa ku katakan, yang bisa kulakukan, semuanya sudah kulakukan untukmu Ahankara”. Dada Ahankara semakin sesak, terbayang ucapan Sushima yang lain, ‘lagipula aku tidak akan bisa berbuat banyak untuk putri seorang pengkhianat seperti dirimu’.

Ahankara memejamkan matanya, perlahan berniat melepaskan pegangannya pada kayu pembatas teras, mengernyitkan wajah, menatap ke bawah, terdengar suara, “Meskipun kau selamat, kau harus hidup dengan tulang-tulang yang patah”. Ashoka sudah berdiri dibelakang Ahankara, dibalik pagar pembatas. Ahankara meminta agar Ashoka tidak menghalangi niatnya, “Tolong jauhi aku!”. Ashoka terus bicara, “Kalau kau sampai meninggal, maka semua akan menyangka bahwa kau benar-benar bersalah”.

Ashoka 117 episode 107 07

Ahankara menjawab dengan wajah kusut, “Mengucapkan itu mudah, tapi kau tidak tau apa yang kurasakan sekarang! Disatu pihak, ayahku telah meninggalkan aku”. Ashoka tercenung, “Seperti ayahku yang meninggalkan aku”. Ahankara menangis, “Kau tidak akan mengerti Ashoka! Yang sangat aku cintai, yang sangat aku percayai, dia telah membohongi aku”.

Ashoka berfikir lagi mendengar curhatan perasaan Ahankara itu, “Ibuku juga mengalami hal yang sama. Tetapi, dia tidak menyerah! Dia belajar menghadapi keadaan itu! Bukannya melarikan diri, meskipun dia menderita, tetapi ibuku tidak pernah meninggalkan kewajibannya”. Ahankara tetap putus asa, “Kalau kematian hanya sejauh tiga hari, maka tidak ada lagi yang berarti bagiku”.

Ashoka tetap memberitau apa yang dia pikir, “Maut bisa datang sekarang juga, dan saat ini juga! tetapi, kau sangat beruntung, karena kau tau kapan kau akan mati. Kau sudah tau, tiga hari lagi kau akan mati, jadi tiga hari ini, ingin hidup seperti orang mati, atau, benar-benar hidup dalam arti yang sebenarnya”.

Ahankara tetap tak bisa menerima apa yang disampaikan Ashoka tentang pilihan yang akan dipilihnya, “Kalau kau ada di posisiku, kau baru akan tau”. Ashoka menjawab, “Aku?! Kalau aku ada diposisimu? Kalau aku ditempatkan dalam posisimu, aku akan berusaha melakukan segalanya dalam tiga hari! Yang dulunya tidak pernah aku lakukan sebelumnya. Aku, tidak akan bunuh diri seperti seorang pengecut. Bahkan seperti seorang pemberani! Aku akan menyelesaikan perjalananku sampai akhir hayatku. Dan ya, hal yang paling utama, selama kematian masih belum tiba, aku tidak akan pernah putus asa untuk hidup! Karena aku sangat percaya bahwa kau sebenarnya tidak bersalah!”.

Ahankara tercenung mendengar ucapan Ashoka. Ashoka memperhatikan perubahan ekspresi Ahankara yang terlihat mulai berpikir atas tindakan untuk terjun kebawah untuk mengakhiri hidup.

Ashoka 117 episode 107 09

Ashoka mengulurkan tangannya. Ragu, Ahankara mengangkat tangannya dari kayu pagar pembatas teras, memegang telapak tangan Ashoka. Ashoka mengangguk. Ahankara menaikkan kakinya ke sela-sela pagar pembatas, melompat kembali ke teras, salah satu kalungnya lepas dan terjatuh ke lantai, Ashoka mengambilkannya dan kembali menyerahkan ke Ahankara sambil tersenyum. Ahankara menerima sambil mengucapkan, “Terima kasih”.

Ashoka menjawab enteng, “Biarkan ku buktikan dulu bahwa kau tidak bersalah”. Ahankara masih pesimis, “Aku memang bersalah, bersalah menjadi putri Raajaajiraaj. Walaupun aku mau, sampai kapanpun aku tidak bisa menghapus aib ini, juga tidak akan bisa bebas dari rasa bersalah, bahwa ayahku merencanakan hal seperti ini. Tapi, kau belum beritau, bagaimana kau bisa percaya padaku?”. Ashoka menjawab diplomatis, “Setiap pertanyaan pasti ada jawabannya”, sambil tersenyum, kemudian meninggalkan Ahankara di teras itu.

Ahankara tercenung, “Yang aku percayai, dia mengkhianati aku! Dan orang yang selalu aku hina, aku tertawakan, hari ini dialah yang mempercayai aku, dan melakukan kebaikan untukku”.

Ashoka 117 episode 107 12

Di lorong istana, Justin sedang melangkah bersama kakeknya. Nicator minta kepastian cucunya, “Apa kau yakin Raajaajiraaj akan kau temui di kuil kuno itu. Kita memang sudah sepakat untuk bertemu disana, tapi setelah apa yang kulakukan padanya, aku rasa dia tidak akan kesana, dia takut, jangan-jangan kita menangkap dia”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :