Keempat orang itu serentak berlari ke arah Bhatiyani berdoa. Raja Udai memegang pundak Bhatiyani dengan cemas, “Dheerbai Ji”. Jaivanta dan Sajja menatap dengan cemas, tangan Bhatiyani yang memegang lilin pemujaan, lilinnya sudah meleleh sampai membakar telapak tangan Bhatiyani.

Mahaputra #9 53

Mahaputra langsung mematikan api ditangan Bhatiyani, “Ibu muda, apa yang kau lakukan”. Permaisuri Sajja meringis lega, Jaivanta memperhatikan. Raja Udai bertanya pada Bhatiyani, “Apa yang kau lakukan”. Mahaputra juga bertanya lagi, “Apa yang ibu lakukan?”. Bhatiyani yang seperti orang lelah yang tubuhnya di topang raja Udai, tetap menatap putra sulung raja Udai itu, “Pangeran Mahaputra”. Kemudian jatuh lepas dipangkuan raja Udai yang cemas, “Dheerbai Ji, Dheebai Ji”. Mahaputra juga cemas, “Ibu muda, tolong buka matamu, buka matamu”.

Raja Udai yang cemas menepuk pipi istri kesayangannya itu, “Pendeta, ambilkan air”. Pendeta melakukan, raja Udai memercikkan air kewajah Bhatiyani. Permaisuri Jaivanta menyuruh pelayan Bhatiyani, “Pelayan, cepat panggilkan tabib”. Si pelayan mengangguk, “Baik permaisuri”. Bhatiyani sudah siuman, Raja udai mengusap pipinya, “kenapa bertindak seperti ini”.

Bhatiyani menjawab, “Kenapa tidak, ini adalah doaku untuk putraku tercinta, siapa yang bisa melarangku, siapa yang bisa ikut campur dalam hal ini”, sambil terus memegangi tangan Mahaputra. Permaisuri Jaivanta dan Sajja tetap berdiri memperhatikan. Mahaputra berkata dengan wajah cemas pada Bhatiyani, “Ibu muda, ma’afkan aku karena telah menyakitimu, sekali lagi ma’afkan aku”.

Mahaputra #9 55

Bhatiyani menegakkan kepalanya yang tersandar pada bahu raja Udai yang langsung menasehati, “Hati-hati”. Bhatiyani menatap Mahaputra, “Kenapa kau bicara begitu, kau bukan menyakiti hatiku, maka dengan menyerahkan dirimu pada tanah kelahiran, kau membuat aku bangga. Aku bangga padamu. Kau tidak usah pikirkan aku, dalam hati ini, ada kasih sayang untukmu, sekarang lakukan apa yang ku minta. Kau tidak boleh membantah perintah ibumu”, sambil melirik permaisuri Jaivantabai. Permaisuri Jaivantabai hanya tersenyum tipis. Mahaputra menengadah menatap ibunya dengan wajah tersenyum, sekaligus lega, ibu muda Bhatiyani tidak marah pada pilihannya yang lebih mencintai tanah air dibanding yang lainnya.

Kisah serial Mahaputra episode selanjutnya, Permaisuri Sajja sambil menangis mengadu pada permaisuri Jaivanta, “Yang Mulia menyediakan segala pengobatan untukku, tidak ada yang kekurangan, tapi kak, selama pangeran Shakti belum lahir, tidak satu kalipun dia datang untuk menjengukku”. Permaisuri Jaivanta menatap dengan menahan perasaannya sendiri. Di ruangannya, permaisuri Bhatiyani menangis bercampur marah, “putraku harus menjadi kuat, harus menjadi kuat, dia harus siap menerima segala penyiksaan selagi masih berada di dalam rahimku! Dia harus jadi penguasa Mewar dan semua orang-orang Rajput! Jika aku tidak bisa menundukkan Mahaputra, maka dia harus melawan Mahaputra, ketenarannya, kehidupannya, aku akan hancurkan semuanya, semuanya!, dengan wajah geram. Pelayan setianya hanya mendengar permaisuri yang di selimuti perasaan iri dan dengki itu.