Raja Udai meneruskan ucapannya di tengah ketegangan semua yang hadir, “Setelah melanggar semua aturan yang dibuat, *Raja Udai tersenyum tipis*, kau sudah membuat setiap warga Mewar merasa bangga padamu”. Mahaputra yang masih dalam posisi minta ma’af dan tertunduk, mengangkat wajahnya, tersenyum lega. Shakti mengernyitkan wajah tak suka. Semua yang hadir jadi tersenyum lega.

Mahaputra #9 44

Raja Udai dengan wajah senyum menatap Mahaputra terus bicara, “Dan khususnya aku sebagai raja, hari ini aku bangga padamu pangeran. *Shakti menarik nafas kesal*. Karena itu aku menghargai tindakanmu yang luar biasa ini. Aku, aku raja Mewar Udai, aku mengundangmu, untuk duduk disini bersamaku, menyantap sajian makanan”. Mahaputra tersenyum menatap ayahnya. Shakti semakin mengernyitkan wajah dengan tatap iri.

Salah satu petinggi yang hadir mulai mengelukan, “Hidup Maha Raja Udai! Hidup!, Hidup Maha Raja udai! Hidup!”, suara gemuruh di dalam ruangan, Mahaputra bangkit, tapi masih berdiri. Raja Udai memanggil putranya itu, “Mari pangeran”. Mahaputra masih terlihat berfikir. Raja Udai mulai bersuara keras, “Kenapa, kau tidak mendengar apa yang baruh ku sampaikan?! Duduklah disampingku dan bersantap bersamaku sekarang”. Mahaputra melangkah dengan langkah satu-satu. Shakti sangat kesal melihat Mahaputra mendapat kesempatan itu.

Mahaputra #9 46

Mahaputra duduk bersila di samping raja Udai yang kembali menatapnya dengan tatap tajam. Mahaputra menundukkan pandangannya. Raja Udai mempersiapkan suapan, “Pangeran Mahaputra, atas apa yang sudah kau lakukan, aku berterima kasih”, menyuapkan ke mulut Mahaputra, “Atas nama raja”. Shakti semakin iri melihat semua yang di dapat Mahaputra. Mahaputra tersenyum, melihat ke yang hadir, Chundawat tersenyum mengangguk, begitu juga dengan pamannya Man Singh. Jamuan makan berlanjut.

Seorang pelayan masuk, “Yang Mulia, salam sujud Yang Mulia. Permaisuri Bhatiyani tidak ada di istana Yang Mulia”. Raja Udai terkejut, begitu juga dengan Mahaputra yang duduk di sebelahnya. Semua yang hadir diruangan terkejut. Si pelayan meneruskan informasinya, “Dan tidak ada yang tau, dimana dia”. Para chendikiawan kerajaan saling lihat. Mahaputra berfikir, dadanya sesak, “Aku tau, ibu Bhatiyani pasti marah”.

Selanjutnya, Mahaputra sudah berlari di lorong istana sambil memanggil-manggil, “Ibu Bhatiyani!, Ibu Bhatiyani!”. Mahaputra sampai di depan pintu ruangan Bhatiyani, bicara pada pelayan wanita yang sedang berjaga disitu, “Dengar, aku ingin keluar untuk mencari ibu muda. Kalau memang nanti dia kembali, tolong kabari aku ya”. Si pelayan diam sambil menatap Mahaputra dan kemudian mengangguk.

Mahaputra #9 48

Mahaputra sudah mau bergegas meninggalkan pintu ruangan itu saat ia ingat sesuatu, menghentikan langkahnya, berfikir agak lama, kemudian membalikkan badan menuju pintu ruangan. Pelayan wanita mencegahnya, “Pangeran, permaisuri tidak ada di kamarnya”. Mahaputra nyahut, “Aku tau”, tapi ia tetap mendorong pintu kamar dan berlari masuk, menuju ke pinggir tempat tidur permaisuri Bhatiyani, menyibakkan selimut yang ada menutupi meja kecil yang ada sepasang sepatu. Mahaputra tersenyum. Ia kemudian berlari keluar ruangan.

Di sebuah ruang, raja Udai sedang berdiri dengan wajah murung, seorang pemimpin prajurit di ikuti beberapa prajurit memasuki ruangan, “Salam Yang mulia, kami telah membentuk tiga kelompok untuk mencari permaisuri Bhatiyani di tiga arah yang berbeda”. Mahaputra masuk ruangan masih setengah berlari menuju samping raja, “Ayah, aku tau dimana ibu Bhatiyani”. Raja Udai yang dari tani membelakangi pintu dan pimpinan prajurit yang memberi laporan, langsung membalikkan badannya menatap Mahaputra yang mengangguk meyakinkan. Raja Udai bertanya, “Dimana?”. Mahaputra mengisyaratkan dengan tangan agar mengikutinya.

Mahaputra #9 50

Tak lama, Mahaputra sudah berjalan menjadi pemimpin  menuju tempat yang dia tau Bhatiyani berada. Permaisuri Sajja penasaran, “Pangeran Mahaputra, bagaimana kau tau kalau permaisuri Bhatiyani ke kuil Dewa”. Mahaputra yang berjalan disamping Raja Udai, memberitau, “Karena setiap kali ibu muda pergi ke kuil Dewa, dia akan meletakkan sepatunya tepat disebelah kanan. Sedangkan kali ini dipakai terus”.

Dai Kokoi pelayan pribadi permaisuri Bhatiyani yang berdiri berjaga membungkuk hormat, “Salam Yang Mulia, salam permaisuri. Saat ini, permaisuri sedang melakukan pemujaan Dewa tanpa henti, dia sudah lelah, tapi dia tidak mau berhenti”. Permaisuri Jaivantabai menunjukkan wajah berfikir, Mahaputra bertanya padanya, “Ibu, ibu muda melakukan pemujaan apa”.

Permaisuri Sajja, permaisuri Jaivanta, Mahaputra dan raja Udai, berdiri, memperhatikan permaisuri Bhatiyani yang sedang melakukan pemujaan. Keempatnya terkejut kaget, permaisuri Sajja sampai menggelengkan kepalanya.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :