Yang hadir kembali mengelukan rajanya, “Hidup Maha Raja Udai! Hidup!, Hidup Maha Raja Udai! Hidup!, Hidup penguasa Mewar! Hidup!, Hidup penguasa Mewar! Hidup!”. Raja Udai sampai di mejanya, mengangkat tangannya, “Silahkan”, kemudian duduk bersila. Semua yang hadir menuju ke meja masing-masing. Raja Udai memanggil Chundawat, “Rahat! Sini, kau bisa duduk disampingku sekarang”.

Chundawat mengatup kedua telapak tangannya di depan dada, “Ma’af Yang Mulia, ada orang lain yang berhak duduk disamping Yang Mulia, dan itu bukan aku”. Raja Udai berfikir. Di lorong, pangeran Shakti mengajukan pertanyaan pada Mahaputra, “Kenapa kau selalu ingin menjadi seorang patriot kak. Apakah kau pikir akan ada orang yang mengelukanmu, menghormatimu, lalu, ayah akan terpengaruh akan hal itu. Kau kan kenal ayah kak. Ayah itu selalu mengutamakan martabat, dan kedisiplinan, lebih utama dari keluarganya”.

Mahaputra #9 39

Mahaputra jadi berfikir, memegang pundak adiknya itu, “Adikku Shakti, apa yang kau anggap baik, kau sudah melakukannya, dan apa yang kuanggap baik, aku melakukannya, dan sekarang kau ikut denganku, tapi paling tidak, tolong berikan dukunganmu untukku, berdoalah untukku”. Shakti tertawa melihat ke kalutan di wajah Mahaputra, “Ya, tentu saja kak, kelihatannya sekarang kau merasa takut ya, hah”. Mahaputra sudah melangkah, “Ya”.

Di ruang makan, Man Singh juga bersuara, “Yang Mulia, tanpa latihan atau ajaran yang memadai, pangeran Mahaputra telah menunjukkan kebolehannya, dan memperlihatkan cara berfikir yang tinggi, karena itu aku bisa memiliki harapan besar untuk masa depan Mewar”. Raja Udai berfikir.

Terdengar suara prajurit di depan mengelukan pangeran muda, “Hidup pangeran Mahaputra! Hidup!, Hidup Pangeran Mahaputra! Hidup!. Pangeran Shakti sudah masuk duluan dan berdiri rapi menghadap ke arah raja Udai duduk. Dengan agak berat, Mahaputra menyusul berdiri disebelah Shakti yang tersenyum. Yang di dalam ruangan ikut mengelukan Mahaputra. Raja Udai menatap Mahaputra, dan mengangkat tangannya , yang mengelukan berhenti.

Pangeran Shakti memberi sikap salam dengan semangat, “Salam ayah”. Mahaputra dengan wajah cemas juga mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Raja Udai bicara, “Pangeran Shakti, aku dengar dari Man Singh, kau tidak menyulitkannya dalam perjalanan keluar dari istana. Itu bagus sekali”. Shakti dengan bangga menjawab, “Ayah, bagiku setiap perintahmu itu adalah dharmaku”. Raja Udai terlihat seperti berfikir. Man Singh bicara, “Yang Mulia, ijinkan pangeran Shakti ikut menikmati jamuannya”. Raja Udai berfikir, melirik Shakti, kemudian mengangguk, “Aku ijinkan”.

Mahaputra #9 41

Shakti langsung melirik Mahaputra untuk memperlihatkan kalau dia berhasil menaklukkan hati ayah mereka. Mahaputra tersenyum menatap Shakti. Shakti dengan penuh percaya diri melangkah mendekat menuju meja ayahnya, karena ada satu nampan makanan yang seperti memang dipersiapkan di sebelah ayahnya. Sebelum Shakti duduk, raja Udai bicara, “Pangeran Shakti, kau tidak bisa duduk di tempat ini”. Shakti terkejut, Mahaputra juga terpana. Chundawat memperhatikan ekspresi kedua pangeran tersebut.

Raja Udai menjelaskan, “Untuk bisa duduk disini, kau harus menjadi layak, kau harus melakukan karya yang istimewa untuk bisa duduk disampingku kau harus menempuh jalan yang panjang dan sulit”. Pangeran Shakti menunjukkan wajah manyunnya. Mahaputra memperhatikan dari tempatnya berdiri. Raja Udai menambahkan, “Untuk itu, kau duduklah disebelah sana”, sambil menunjuk meja yang masih kosong. Mahaputra menundukkan wajahnya, kembali dengan wajah tegang. Shakti duduk di meja yang diperbolehkan untuk sambil melirik kesal ke arah Mahaputra.

Raja Udai menatap tajam Mahaputra yang tertunduk, “Pangeran Mahaputra! Kau tau kenapa kau dipanggil ke tempat ini sekarang?!”. Mahaputra menjawab, “Aku tidak tau, andalah yang tau hal ini ayah”. Chundawat menahan senyum mendengar jawaban diplomatis pangeran kebanggaannya itu. Raja Udai mempersilahkan, “Mari pangeran Mahaputra, majulah”. Mahaputra menelan ludah, dengan agak takut di melangkah maju, lebih ke hadapan meja ayahnya. Shakti tersenyum senang melihat kecemasan diwajah Mahaputra. Man Singh memperhatikan Mahaputra dengan tatap tersenyum.

Mahaputra #9 43

Raja Udai tetap dengan wajah seriusnya, “Pangeran Mahaputra! Kau sudah melanggar semua disiplin, kau melanggar setiap aturan, kau melakukan semua yang dilarang, untuk menjamin keamananmu sendiri”. Mahaputra menundukkan wajah bersalah. Shakti semakin tersenyum senang di tempat duduknya. Raja Udai tetap serius, “Pangeran Mahaputra tanpa belajar kuda dengan baik, kau berani terjun ke arena perang, dan kemudian tanpa belajar menggunakan senjata, kau hadapi musush kita, kenapa?”.

Mahaputra berlutut di depan meja ayahnya. Pangeran Shakti makin tersenyum. Raja Udai menatap Mahaputra dengan tatap tajam. Mahaputra dalam posisi berlututu, menundukkan pandangan, mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada, bersuara, “Ayah, tolong ma’afkan aku ayah”. Raja Udai mengangkat tangannya, “Cukup pangeran Mahaputra”. Shakti semakin tersenyum senang. Chundawat terus memperhatikan Mahaputra yang tertunduk, begitu juga dengan Man Singh dan petinggi kerajaan lainnya.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :