Mahaputra menatap permaisuri Bhatiyani dengan tatap penuh keyakinan, “dengan penghormatan, aku akan mengatakan pada ibu, tolong jangan mengikat aku dengan janji-janji yang memang tidak bisa aku tepati. Ibu pertiwi ini adalah ibuku, seperti aku telah berjanji akan melindungi kehormatan dan martabatmu, aku juga telah berjanji pada tanah airku, aku akan melindungi kehormatan dan kedaulatannya ibu”.

Mahaputra #9 30

Permaisuri menarik nafas dalam mendengar jawaban putra sulung raja Udai itu, “Pangeran Mahaputra, apa kau ingin mengatakan bahwa kau lebih mencintai tanah kelahiranmu daripada ibu mudamu ini?”. Mahaputra berfikir sebentar, kemudian menatap Bhatiyani. Permiausir Jaivantabai semakin menunjukkan wajah serius menatap putranya di arahkan dengan pilihan yang sulit, permaisuri Sajja menunjukkan wajah tegang sambil menelan ludah menunggu jawaban Mahaputra.

Mahaputra mengangguk, “Iya ibu Bathiyani”. Bhatiyani menarik nafas dalam, menenangkan emosinya menatap Mahaputra. Mahaputra menatap ibu mudanya itu dengan tatap penuh keyakinan, “Melindungi tanah kelahiran adalah kewajiban utama kita”. Permaisuri menahan rasa marah yang berusaha dia sembunyikan. Permaisuri Jaivantabai tersenyum tipis mendengar jawaban putranya. Permaisuri Sajja bernafas lega dan tatap kagum pada Mahaputra.

Mahaputra meneruskan jawabannya sambil menundukkan pandangannya, “Dan segala kewajiban yang lain, akan ada pada urutan kedua”. Permaisuri Bhatiyani merapatkan gerahamnya menatap ke dalam Mahaputra, menahan semua rasa yang bergejolak di dadanya menatap pangeran muda di depannya itu. Permaisuri Jaivantabai menatap bangga pada anaknya.

Seorang pelayan pria masuk ruangan, “Baginda Raja telah menyuruh pangeran Mahaputra untuk segera hadir di aula”. Si prajurit langsung membalikkan badan. Mahaputra menatap permaisuri Bhatiyani, kemudian melangkah kehadapan ibunya, permaisuri Jaivantabai, “Ibu, ayahanda marah padaku bukan? Sejak perang ini berakhir, dia belum mengatakan sepatah katapun”. Permaisuri Jaivantabai mau menjawab.

Mahaputra #9 35

Pangeran Shakti yang berdiri di belakang Mahaputra langsung nyahut, “Apa kau pikir ayah tidak akan marah, *Mahaputra menoleh*, karena kau sudah biasa untuk melanggar perintahnya kan, dia pasti akan marah”.

Permaisuri Jaivanta memegang lengan Mahaputra agar menoleh ke arahnya, “Pangeran, yang takut pada akibat perbuatannya, dialah yang disebut pengecut, dan kau bukan pengecut. Pergilah dengan keberanian dan apapun perintah yang diberikan ayahmu, terimalah dengan segala hormat. Pergilah”. Jaivantabai memberi tatap senyum sebagai penguat. Mahaputra mengangguk, “Restui aku ibu”.

Pangeran Shakti yang sangat ingin melihat Mahaputra dimarahi ayahnya langsung bersuara, “Ayo kak, aku ikut denganmu. Kalau nanti disana ayah marah, maka, kau bisa sembunyi dibelakangku”. Permaisuri Sajja langsung menegur putranya itu, “Pangeran Shakti!”. Permaisuri Jaivanta hanya tersenyum.

Mahaputra menatap permaisuri Bhatiyani yang menangis, ia melangkah mendekat, Bhatiyani menghapus air mata di pipinya, kemudian memalingkan wajahnya saat Mahaputra sampai dihadapannya. Mahaputra tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang anak, ia menyentuh kaki ibu mudanya itu, “Aku mohon restui aku ibu”. Bhatiyani menyentuh kepala Mahaputra sambil tetap menoleh ke arah lain. Mahaputra berdiri, kemudian melangkah meninggalkan ruangan.

Bhatiyani menatap tajam permaisuri Jaivantabai seakan ia sangat khawatir. Permaisuri Jaivantabai menatap kepergian Mahaputra dengan tatap sangat percaya pada putranya.

Mahaputra #9 37

Di ruang pertemuan, yang hadir mengelukan raja Udai yang baru memasuki ruangan, “Hidup Maha Raja Udai! hidup!, Hidup Maha Raja Udai! Hidup!, Hidup Maha Raja Udai! Hidup!, Hidup Maha Raja Udai! Hidup!”, sampai raja Udai berdiri di posisinya, di ujung, di tengah para tamu yang hadir, dia mengangkat tangannya, sebagai isyarat mengelukan penyambutannya cukup.

Raja Udai menyampaikan maksudnya, “Malam ini, aku akan adakan jamuan makan, di Mewar yang sudah bebas. Kalian semua, telah memberikan dukungan besar dalam kebebasan Mewar, karena itulah, aku ingin kalian semua hadir dalam jamuan makan malam yang diadakan. Saat ini Mewar sedang sangat sedih dan berkabung untuk para pemberani yang mengorbankan nyawanya demi kebebasan Mewar. Karena itulah jamuan makan akan sangat sederhana”. Yang hadir mangangguk paham.

Mahaputra #9 36

Raja Udai masih bicara, “Kalian semua, sudah ku anggap sebagai anggota keluargaku sendiri, karena itu setiap anggota beserta keluarganya, meski berkabung, masih bisa dimengerti untuk merayakan kebebasan ini”. Chundawat berbicara, “Yang Mulia, semua orang yang hadir disini, semua mengetahui kebenaran ini Yang mulia, seorang warga Mewar yang sederhana duduk dan makan bersama dengan Yang Mulia merupakan sebuah kehormatan yang sangat istimewa”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :