Mahaputra menghampiri Shakti yang sudah duduk di sofa, “Ayo adikku Shakti, hari ini kau harus menari bersama denganku”. Shakti menolak, “Tidak kak, aku tidak mau menari”. Mahaputra memegang dan menarik lengan Shakti, “Ayolah Shakti”. Shakti menatap Mahaputra, “Lepaskan tanganku kak, aku tidak mau menari”. Kedua permaisuri tersenyum melihat Shakti yang tak menurut ajakan kakaknya. Mahaputra tetap bersikeras, “Aku tidak mau dengar alasan apapun, pokoknya kau harus menari denganku, ayo”.

Mahaputra #9 25

Permaisuri Sajja sebagai ibunya Shakti, bicara, “Benar yang dikatakan pangeran Mahaputra, siapa yang bisa menolak dia hari ini. Caranya mengalahkan musuh dengan keberaniannya dan memenangkan perang ini, karena itu, kau harus nurut pada dia, hari ini tidak akan ada yang menolak permintaannya”. Permaisuri yang ceplas ceplos itu tak memperhatikan wajah Shakti yang cemberut. Permaisuri Jaivanta tersenyum menatap permaisuri Sajja.

Mahaputra menarik Shakti hingga tak bisa berkelit lagi, “Ayo cepat”. Mahaputra juga menarik tangan sahabatnya dan juga pangeran Vikram. Mereka bertiga mulai menari, pangeran Shakti masih saja berdiri. Mahaputra menarik Shakti agar berdiri di sebelahnya, mereka berempat pun menari bersama.

Tiba-tiba terdengar teriakan permaisuri Bhatiyani yang bernada marah, “Hentikan tarian dan nyanyian ini”. Semua berhenti, menatap terkejut pada permaisuri. Permaisuri menatap semuanya dengan wajah marah sambil memegang perutnya, ia menatap tajam pada permaisuri Jaivanta, “Apa yang dilakukan oleh pangeran Mahaputra!”.

Mahaputra #9 28

Permaisuri Jaivanta terkejut, begitu juga dengan permaisuri Sajja mendengar ucapan yang bernada aneh tersebut. Semua berdiri terdiam menatap permaisuri yang emosi itu. Mahaputra menatap istri kedua ayahnya itu dengan wajah heran. Permaisuri Sajja yang memang selalu ceria, bersuara, “Kakak, kau sudah datang! Kelihatannya kau belum mendapatkan kabar baik ya, kita telah menang, dan kakak tau, pangeran telah melakukan hal yang sangat membanggakan kita”.

Permaisuri Bhatiyani menjawab dengan nada dingin, “Aku tau, aku tau semuanya, aku sudah diberi tau semuanya”. Pelayan pribadi Bhatiyani mengingatkannya, “Permaisuri”, sambil menyentuh pundaknya. Bhatiyani menyuruh pelayannya itu tak ikut campur, “Diam, jangan ikut campur”. Mahaputra akhirnya bersuara, “Ibu, apa aku melakukan kesalahan?”. Bhatiyani menatap tajam Mahaputra dengan wajah dingin, “Bukan kau yang salah, akulah yang salah, pengasuhanmulah yang salah”.

Mahaputra terkejut. Permaisuri Jaivanta tak tinggal diam, ia melangkah maju, dengan sikap tenang dan kebangsawanannya berbicara, “Apa yang ingin kau katakan permaisuri”. Bhatiyani menurunkan nada bicaranya, “Begini kak, memang bukan aku yang melahirkan pangeran Mahaputra, tapi aku merasa, aku punya hak yang sama seperti dirimu”. Permaisuri Jaivanta berdiri diam sambil mengawasi.

Mahaputra #9 31

Mahaputra melangkah kehadapan Bhatiyani, “Ibu, apa yang ibu katakan, memang tidak diragukan oleh siapapun. Kalau memang aku melakukan kesalahan, katakan saja ibu, aku pasti akan bertobat”. Permaisuri Jaivanta tersenyum melihat sikap yang ditunjukkan putra kandungnya itu. Mahaputra bertanya pada Bhatiyani, “Katakan padaku, apa kesalahanku ibu”.

Bhatiyani dengan nada tegas berkata, “Kesalahanmu adalah, kau melakukan semuanya secara terbuka. Atas ijin siapa kau ikut dalam perang. Katakan pangeran Mahaputra, apakah kau sudah meminta ijin?”. Permaisuri Jaivanta hanya memperhatikan, ia sangat mempercayai putranya dalam mengatasi masalah.

Permaisuri Bhatiyani menunjukkan keprihatinannya dengan memegang kedua lengan Mahaputra, “Apa kau tau, bagaimana perasaanku saat aku mendengar kabar ini. Apakah kau menyadari hal ini? Kau tidak punya hak membahayakan dirimu seperti ini Mahaputra! Kau tidak bisa berbuat dengan sesukamu dan mempermainkan nyawamu! Kenapa pangeran, kenapa?!”, sambil mengguncang tubuh Mahaputra.

Mahaputra #9 32

Mahaputra menjawab dengan tenang, “Aku baik-baik saja ibu, aku tidak apa-apa, aku ada dihadapan ibu kan? Lihat”. Permaisuri Bhatiyani memegang pipi Mahaputra dengan tatap sedih bercampur cemas, “Bagaimana jika terjadi sesuatu. Kau tau keadaanku sekarang ini. Apakah dalam keadaan ini kau senang menyusahkanku? Kau tidak berfikir tentang aku sekali saja?”. Mahaputra menjawab, “Tolong ma’afkan aku ibu untuk semua kesalahan ini, aku bersedia melakukan apa saja”.

Bhatiyani menunjukkan wajah serius, “Jika apa yang kau katakan itulah yang kau pikirkan, maka berjanjilah. Berjanjilah padaku bahwa setelah ini, kau tidak akan turun ke medan perang”. Mahaputra terpana dengan permintaan ibu tirinya yang terasa agak janggal. Permaisuri Jaivantabai menatap dengan wajah serius dari tempatnya berdiri, keputusan apa yang akan diambil anaknya. Permaisuri Sajja tertegun mendengar permintaan Bhatiyani itu.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :