Penyanyi terus menyanyikan riwayat kemenangan Mewar dalam perang, “Katakan hidup pedang Rana, hidup ibu para ksatria“. Raja Udai tersenyum, permaisuri Jaivanta, permaisuri Sajja, semua tersenyum. Raja Udai tebayang saat melawan prajurit Shams dalam posisi terkepung, bak singa luka ia membabat prajurit yang mengelilinginya itu tanpa ampun. Begitu juga dengan Mahaputra yang tanpa gentar akan kesalamatannya, mengayunkan pedang melawan musuh.

Parmaisuri Jaivanta yang terkejut saat menjaga api di nampan pemujaannya, permaisuri Sajja tersenyum menatap para penari yang bernyanyi, “Pangeran mengharumkan nama leluhurnya,,“. Pangeran Shakti manyun mendengar pujian lewat senandung para panari untuk Mahaputra, ia melirik kakak lain ibunya itu dengan wajah tak suka. Mahaputra yang dilirik, tetap serius memperhatikan para penari sambil tersenyum.

Penari terus menyenandungkan pujian untuk sang pangeran muda Mewar, “Rakyat mengatakan ini keberuntunganmu, kami dapat dukunganmu dalam suka dan duka“. Semua petinggi kerajaan tersenyum senang, begitu juga dengan ibu tua penjaga ruang johar. Penari terus menari dan menyanyi, “Hari baik telah tiba,,,,“. Mahaputra dihampiri sahabatnya, “Pangeran, kau juga ikut menari dengan kami ya, pasti akan seru sekali”.

Mahaputra #9 19

Mahaputra melirik ibunya. Permaisuri Jaivanta mengangguk, kemudian menoleh ke arah raja Udai, “Yang Mulia, apakah pangeran, boleh menari bersama mereka”. Raja Udai mengangguk, kemudian memperhatikan suguhan tarian dengan wajah serius lagi. Permaisuri Jaivanta tersenyum dan memberi isyarat pada Mahaputra untuk masuk arena tempat menari. Mahaputra dengan tersenyum lebar mengajak sahabatnya, “Ayo”.

Pangeran Mahaputra memasuki area menari, ia berputar dan menggerakkan badannya dengan lincah mengikuti irama musik dan nyanyian, kemudian bergerak cepat ke arah raja Udai duduk, memberi salam, kemudian mundur dan berputar melakukan gerakan tarian bersama penari lain. Para pria dewasa masuk ke area tarian, mengangkat Mahaputra dipundak mereka dan berputar menari, semua wajah tersenyum menatap pangeran yang selalu menunjukkan senyum lebar yang tulus pada semua.

Permaisuri Sajja yang memang selalu bersikap ceria, memegang pundak Shakti anaknya, “Hei, Pangeran Shakti, pergilah, kau juga ikut menari dengan mereka. Ayo cepat”. Shakti memperlihatkan wajah jijik ke arah ibunya, “Aku? Harus menari dengan orang-orang yang sederhana itu? Kalau sekarang biarkan saja kakak yang menurunkan derajatnya menari dengan mereka, kalau aku tidak mau!”. Ratu Sajja tetap dengan wajah senyumnya, “Ya sudahlah, kau duduk saja disini bersamaku”. Pangeran Shakti menatap iri pada Mahaputra yang tersenyum lebar di atas pundak orang-orang yang membopongnya.

Mahaputra #9 20

Sementara senandung pujian terus di dendangkan para penari, “Hidup putra-putra bangsa ini, hidup para raja Rajput. Hidup Mewar,,, hidup warga Mewar”. Raja Udai menatap kegembiraan rakyatnya yang bisa mereka tunjukkan pada pangeran masa depan Mewar, dan Mahaputra pun menunjukkan sikap bahagia yang menghormati warga yang menyayanginya itu. Seseorang ada yang mengawasi kegembiraan yang berlangsung diruangan itu.

Tak lama, pintu rahasia terbuka, permaisuri Bhatiyani diikuti pelayan yang menjemputnya dan pelayan yang menemaninya, muncul. Para pelayan yang berjejer menyambut kedatangannya ada yang bersuara, “Salam permaisuri, silahkan masuk permaisuri”. Permaisuri Bhatiyani menunjukkan wajah sedih melihat hanya pelayan yang menyambutnya, “Dimana yang lain”. Salah satu pelayan memberitau, “Permaisuri, semua orang berkumpul di depan patung Dewa, pestanya benar-benar meriah, sangat meriah sehingga tidak bisa dikatakan. Rasanya di pesta itu, Yang Mulia dan permaisuri, bertemu dengan seluruh warga disini, banyak sekali orang disana permaisuri”.

Permaisuri Bhatiyani semakin menyembunyikan rasa sedihnya saat mendengar semua itu. Ia menundukkan wajah sedihnya, tapi ingin mencari tau informasi lagi, “Dan pangeran, dimana dia sekarang”. Sang pelayan memberitau, “Semuanya mengangkatnya dipundak mereka! Hari ini seluruh Mewar menari bersama, permaisuri”. Permaisuri Bhatiyani seperti mau menangis, tapi menunjukkan wajah seakan mengerti situasi yang disampaikan pelayan itu.

Mahaputra #9 24

Acara pesta sudah usai. Permaisuri Jaivantabai dan Permaisuri Sajja Bai serta diikuti putra-putra mereka tertawa bahagia memasuki ruang pertemuan keluarga. Permaisuri Jaivanta mengucapkan apa yang dia rasakan, “Hari ini aku merasa senang sekali”. Permaisuri Sajja yang menunjukkan keceriaannya, “Ya kak, hari ini menyenangkan, semestinya tadi kau juga menari”. Permaisuri Jaivanta bersemu merah, “Aku menari dihadapan Yang Mulia? Mana mungkin aku melakukannya”.

Permaisuri Sajja mengungkapkan apa yang dia rasa, “Aku ingin sekali menari tadi, semestinya aku menari”. Permaisuri Jaivanta memegang pundaknya, “Aku tidak mau melakukannya, kalau kau masih muda”. Mahaputra menggoda ibunya, “Ayo ibu, kita menari disini”. Permaisuri Jaivanta tersenyum lebar, “Tidak pangeran, ibu tidak mau menari, kau saja”. Mahaputra tak memaksa ibunya, “Tidak apa-apa kalau memang ibu tidak mau menari, tapi ada satu orang yang saat ini dia belum menari bersama denganku”, sambil menoleh ke belakang, “Adikku Shakti”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :