Mahaputra melepaskan pelukannya, menatap ibunya, “Aku sudah bilang kan ibu, aku tidak akan membiarkan johar terjadi”. Permaisuri Jaivanta mengangguk sambil menahan tangis haru, “Ibu tau apa yang kau katakan, pasti akan kau lakukan”. Mahaputra tersenyum. Chundawat ikut tersenyum. Raja Udai mulai mengerti sekarang salah satu alasan putranya terjun diam-diam ke medan pertempuran.

Permaisuri Jaivanta tersenyum menatap raja Udai, kemudian melangkah kehadapnnya, “Yang Mulia, di istana, permaisuri Sajja, memperlihatkan keberaniannya yang sungguh besar. Aku tidak bisa menggambarkan semua yang dilakukannya”. Permaisuri Sajja tertunduk sambil tersenyum. Raja Udai melihat ke arah permaisuri Sajja, “Aku mendengar tentang kabar itu. Apapun yang kau lakukan, bagaimanapun caranya, aku bangga mendengar hal itu permaisuri. Dengan melindungi kehormatan para wanita, kau sudah melindungi kehormatan Mewar. Aku banyak berhutang budi padamu”. Permaisuri Sajja tak hentinya tersenyum. Permaisuri Jaivanta meraih tangan raja Udai, sebagai isyarat untuk masuk ke dalam istana.

Mahaputra #9 13

Terdengar lagi prajurit mengelukan Mahaputra, “Hidup pangeran Mahaputra! Hidup! Hidup pangeran Mahaputra! Hidup!, Hidup Raja Mewar! hidup!, Hidup Raja Mewar! Hidup!, Hidup raja Mewar! hidup!”.

Raja Udai diiringi pasukannya memasuki ruang pertemuan dimana dia sudah disambut dan juga dielukan oleh rakyatnya yang berkumpul. Raj Udai menuju singgasananya. Mahaputra juga terus di elukan, “Hidup pangeran Mahaputra! hidup!”. Ditengah suara mengelukan pangeran, raja Udai memberi salam pada Man Singh, paman Mahaputra, adik dari permaisuri Jaivanta.

Permaisuri Jaivanta dan Mahaputra sendiri langsung ke tempat yang disediakan untuk mereka, tempat duduk yang dibatasi tirai dengan ruang pertemuan raja dan petinggi kerajaan lain. Permaisuri Sajja juga di situ dengan diapit kedua putranya pangeran Shakti dan pangeran Vikram Dev.

Raja Udai sudah di depan kursi kebesarannya, menatap semua yang hadir, yang masih terus mengelukannya dan Mahaputra. Raja Udai mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat cukup dan mempersilahkan duduk. Raja Udai sendiri duduk di kursi kebesarannya. Para permaisuri dan anak masing-masing juga duduk di tempat mereka. Semua yang hadir diruangan itu memilih tempat duduk masing-masing, dan berdiri ke pinggir ruangan.

Mahaputra #9 14

Raja Udai siap menerima suguhan hiburan, musik dimainkan, gendang ditabuh, alat musik petik di petik, seorang pria menyanyi, para wanita menari mengikuti suara musik dan nyanyian:

Bendera berkibar di benteng Mewar
Bendera telah berkibar *digambarkan Mahaputra saat menancapkan Bendera Mewar di benteng Chittor*.

Pangeran memberi kehormatan pada kita kita semua, ya memberi kehormatan.

Lima penari wanita menari ditengah ruangan dengan bersemangat. Mahaputra yang duduk disebelah permaisuri Jaivantabai tersenyum melihat pertunjukan itu, begitu juga dengan permaisuri Sajja.

Salah satu penari wanita juga menyanyi, “Hari baik telah datang,,,“, sambil menggoyangkan pinggang, berputar dengan menggerakkan tangan dan kepala. Raja Udai menikmati suguhan tersebut.

Mahaputra #9 16

Mahaputra melirik ke arah ayahnya yang terus menunjukkan wajah serius melihat pertunjukan. Sementara nyanyian terus di dendangkan, “Hidup seluruh rakyat, Hidup Raja serta pangeran“. Raja Udai merasa diperhatikan putranya itu, ia menoleh, Mahaputra terus menatap ayahnya. Raja Udai tanpa mengubah ekspresi wajahnya, kembali memperhatikan pertunjukan. Mahaputra kemudian mengalihkan tatapannya ke pertunjukan berlangsung.

Pangeran Shakti menunjukkan wajah cemberut. Mahaputra tersenyum memperhatikan wanita yang menari dan menyanyi, “Hari bahagia telah tiba, menari, bernyanyi dan menabuh gendang. Kaulah ayah dan ibu kami, kami bersujud di kakimu“. Salah satu penari wanita lebih mendekat ke hadapan tempat duduk raja. Raja Udai tersenyum. Man Singh dan Chundawat juga tersenyum.

Penyanyi pria yang duduk dekat para pria yang memainkan musik, meliukkan tubuhnya sambil bernyanyi dengan penuh perasaan, “Kau memberikan kebebasan pada kami, membuat para musuh meninggalkan negeri kita“. Permaisuri Jaivantabai tersenyum bahagia menatap Mahaputra yang juga tersenyum pada ibunya itu.

Mahaputra #9 17

Para penari wanita terus berputar membentuk lingkaran sambil menggerakkan tangan mereka. Si penyanyi pria meneruskan nyanyiannya, “Kau perlihatkan keberanian ksatria Chittor, hingga negeri ini berjaya“. Mahaputra makin tersneyum lebar saat terbayang memnjat benteng dengan tali, dan juga membentuk formatur saling berpegangan berdiri susun keatas dengan prajurit lain hingga ia berhasil mencapai puncak benteng. Mahaputra tersenyum menatap ke arah ayahnya yang terus menatap para penari yang berputar-putar hingga rok mereka mengembang.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :