Pemimpin ritual menyusun kayu kremasi sedemikian rupa. Satu-satu pimpinan prajurit maju menaroh kayu pembakaran ke atas jasad Rana Bahadur, hingga menutupinya. Terakhir Raja Udai dan mahaputra yang emnaroh kayu bakar, kemudian keduanya melakukan doa. Selanjutnya, Mahaputra membawa obor mengelilingi tungku kremasi untuk Rana Bahadur.

Mahaputra terbayang saat menyusup ke pasukan Rana Bahadur dan setelah melihat tekadnya, akhirnya mengajarinya, ‘pegang pedangnya seperti ini, dan pandanganmu haruslah fokus’, kemudian Rana Bahadur masih memegang pergelangan tangannya mencontohkan cara mengayun pedang.

Mahaputra #9 05

Mahaputra masih mengelilingi tungku kremasi untuk Rana Bahadur, terbayang saat Rana Bahadur memberi semangat prajuritnya, “Ini adalah pertarungan demi kehormatan dan kebanggaan tanah kelahiran kita! Ini adalah perang demi kebebasan kita!”.

Mahaputra menatap Rana Bahadur yang sudah tertutup kayu kremasi, terbayang lagi ucapan Rana padanya, ‘Selama aku masih hidup, tidak ada seorang pun yang bisa mencelakai pangeran!’. Mahaputra terus melakukan ritual mengelilingi tungku untuk kremasi Rana Bahadur dengan membawa obor, terbayang lagi semangat Rana yang lain, ‘Bendera ini adalah simbol kebebasan Mewar! Hari ini, aku serahkan ini pada masa depan Mewar, dengan keyakinan bahwa bendera ini, kepalamu, tidak akan tunduk, dihadapan musuh-musuh kita!”.

Mahaputra memejamkan mata, menahan tangis, kemudian menyulut api kremasi untuk Rana Bahadur dengan obor ditangannya.

Api mulai membakar kayu di tungku kremasi. Narasi, “Bumi menangis, langit menangis, semua wanita dan pria menangis. Dalam api, si pejuang tertawa, karena bendera telah berkibar, kemenangan diraih, musuh telah lenyap, perang telah dimenangkan. Dengan senyum, Raj Rana mengorbankan nyawanya”. Raja Udai dan semua pasukannnya menatap api pembakaran jenazah Raj Rana dengan sikap hormat.

Mahaputra #9 07

Di gerbang istana, para pelayan sudah berdiri berjejer dengan nampan penuh bunga di tangan. Permaisuri Jaivantabai yang berdiri di sebelah permaisuri Sajja memerintahkan pelayannya, “Siapkan nampan pemujaannya”.

Seorang pelayan wanita memberi aba-aba, “Raja Mewar dan pangeran segera memasuki istana!”. Kedua permaisuri saling tersenyum, kemudian bergegas ke pintu istana, mereka berdua dan semua pelayan berdiri menunggu disana dengan wajah penuh senyum.

Rombongan Raja Udai memasuki halaman istana yang sudah dihias. Mereka di elukan, “Hidup pangeran Mahaputra! Hidup!, Hidup pangeran Mahaputra! Hidup!, Hidup pangeran Mahaputra! Hidup!”. Permaisuri Jaivanta dan permaisuri Sajja tak hentinya tersenyum. Semua masih mengelukan raja mereka, ” Hidup Maharaja Udai! hidup! Hidup Maharaja Udai! Hidup!, Hidup Maharaja Udai! Hidup!”.

Permaisuri Jaivantabai mengambil nampan pemujaan dari tangan pelayan, tersenyum menatap Raja Udai dan Mahaputra serta rombongan lain sudah menaiki tangga istana. Elu-eluan terhadapap raja Udai dan Mahaputra masih terus terdengar, “Hidup Maharaja Udai! Hidup!, Hidup Pangeran Mahaputra! Hidup!”.

Mahaputra #9 10

Raja Udai dan Mahaputra berhenti di depan penyambutan yang dipimpin permaisuri Jaivantabai. Permaisuri melakukan ritual penyambutan, menempelkan tanda merah di jidat Raja Udai, menaburi bunga.

Mahaputra tersenyum melihat ayahnya yang menerima penghormatan itu. Permaisuri Jaivanta menyerahkan nampan pemujaan pada permaisuri Sajja. Permaisuri Sajja melakukan ritual penyambutan dengan tersenyum. Chundawat tersenyum melihat wajah-wajah penuh senyum itu. Mahaputra juga tersenyum.

Permaisuri Jaivanta kembali menerima nampan pemujaan, kemudian menempelkan tanda merah di jidat Mahaputra yang langsung menaroh tangan kanannya diatas kepalanya sebegai bentuk penghormatan pada ibunya yang telah memberi penyambutan padanya. Permaisuri menaburi bunga pada pangeran.

Permaisuri menyerahkan nampan pemujaan pada pelayan, menatap dengan mata berkaca ke arah Mahaputra. Mahaputra menyentuh kaki ibunya Jaivanta, sang permaisuri menaroh tangannya di kepala putranya. Mahaputra melakukan hal yang sama pada permaisuri Sajja dan juga mendapat perlakuan yang sama seperti yang dilakukan ibunya. Mahaputra kembali ke tempatnya berdiri disebelah raja Udai.

Mahaputra #9 12

Permaisuri Jaivantabai menyentuh pipi Mahaputra dengan mata berkaca, meraih Mahaputra ke pelukannya. Mahaputra menangis di dada ibunya. Raja Udai memperhatikan, permaisuri Sajja juga memperhatikan dengan tatap haru ibu dan anak yang saling berpelukan itu. Permaisuri Jaivantabai berusaha agr air matanya tak keluar saat memeluk putranya itu. Raja Udai memeprhatikan keharuan permaisuri itu dalam diam.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :