Mahaputra: Pangeran Masa Depan Kerajaan dan Pesta Kebebasan Mewar


Kisah cerita serial Mahaputra episode sebelumnya, Mahaputra berhasil mengibarkan bendera kerajaan Mewar di benteng Chittor. Pengibaran Bendera itu membuat semangat pasukan Mewar dan juga raja Udai jadi bertambah, mereka menjadi sangat garah dan dengan mudah menaklukkan prajurit musuh. Panglima Shams sendiri dikalahkan raja Udai. Semua petinggi kerajaan Mewar dan prajuritnya menginginkan panglima Shams dibunuh dengan meneriakkan kata-kata, “Bunuh!”. Panglima Shams bersujud di kaki raja Udai mohon pengampunan dan akan memenuhi semua keinginan raja Udai. Raja Udai mau mengampuni Shams asalkan Shams dan pasukannya meninggalkan tanah Mewar, mengembalikan tanah yang sudah dikuasainya, menyerahkan senjata dan mengembalikan kunci benteng Chittor.

Mahaputra #9 00

Sinopsis kisah Mahaputra Maharana Pratap #9, Raja Udai memberi kesempatan pada Shams yang ingin mengajukan permintaan, “Aku telah memenuhi permintaanmu yang terakhir, tapi, aku juga punya permintaan akhir”. Raja Udai yang masih mengangkat kunci benteng Chittor menenangkan prajuritnya, menatap Shams tajam, “Apa yang kau inginkan? Jangan bertele-tele cepat katakan”.

Shams menunjukkan wajah berfikir, bercerita, “Yang Mulia, meninggalkan benteng Chittor begitu saja, ini sama saja dengan mati seribu kali. Karena aku, bertahun-tahun hanya punya impian, tapi sekarang aku, telah kehilangan”, sambil menatap benteng impiannya. Raja Udai merespon, “Aku tidak senang menunda kremasi Rana Bahadur, karena alasan itulah cepat katakan yang kau inginkan, dengan segera”.

Mahaputra #9 03

Shams menjawab, “Seperti Yang Mulia tau, sebelum hukuman mati, biasanya si terhukum ditanyakan keinginannya yang terakhir. Seperti itulah, aku juga punya keinginan terakhir”. Mahaputra yang berdiri memegang pedang ayahnya, menatap pembicaraan itu, begitu juga dengan petinggi pasukan Mewar lainnya.

Shams yang wajahnya masih penuh darah meneruskan ucapannya, “Jika kau mengizinkan, akan aku ucapkan”. Raja Udai yang wajahnya tak kalah banyak darahnya, tetap menatap dengan tajam, “Cepat katakan Shams. Pemenuhan permintaanmu tergantung pada apa yang akan kau minta, aku tidak bisa menjamin apa-apa sekarang”.

Shams melirik Mahaputra yang berdiri di sebelah kanan Raja Udai, agak ke belakang, “Aku ingin tanyakan satu pertanyaan pada putramu”. Raja Udai menatap Mahaputra yang tetap berdiri dengan tatap tenang, kemudian menatap Shams, “Baiklah, aku ijinkan”. Shams melangkah lebih dekat ke hadapan Mahaputra. Mahaputra memegang pedang ayahnya dengan sikap siaga, begitu juga dengan petinggi prajurit Mewar lainnya yang berada di dekat situ.

Panglima Shams menatap Mahaputra, “Kau ingat, hari itu, kita, berdiri di depan benteng, saling berhadapan. Berhadapan satu sama lain. Kau memiliki pedang istimewa yang selama ini, kalian puja-puja, kau bisa menghabisi aku hari itu, kenapa tidak kau lakukan? Perang ini tidak akan terjadi, haa haaah”. Shams membuang nafas berat melihat semua kekalahannya, “Kenapa kau membahayakan nyawa ayah dan juga ibumu, kenapa? Kenapa kau lepaskan aku?”.

Mahaputra #9 01

Mahaputra menatap Shams, ia ingat peristiwa yang dimaksud Shams, saat itu ia berniat membawa lari pedang warisan leluhur memang untuk mencari Shams dan mau menghabisinya agar perang tidak terjadi dan johar yang akan dilakukan ibunya juga batal, tapi ayahnya, raja Udai mengejarnya saat dia belum berhasil menaiki kuda dengan baik dan pintu gerbang sudah tertutup, ia terjatuh dari kudanya. Saat bersamaan, Shams yang memang di undang ayahnya ke istana mereka, muncul di gerbang secara tak terduga, berdiri dihadapannya. Ia sudah mencabut pedang warisan, tapi kembali memasukkannya saat mendengar suara ayahnya dan ingat ucapan ibunya.

Mahaputra melirik ke ayahnya sebelum menjawab pertanyaan panglima Shams. Raja Udai balas menatap putranya. Mahaputra menatap Shams dengan tatap penuh rasa percaya diri dan tanpa takut apapun, “Itu semua karena ayahku dan ibuku. Keduanya sejak kecil telah mengajarkanku bahwa seorang kesatria, tidak ada yang melebihi dharmanya. Dan dharmaku hari itu, mencegah aku melakukan, serangan pada orang yang tidak bersenjata sepertimu”.

Mahaputra melangkah lebih dekat kehadapan Shams sambil terus menatap matanya, “Dan seorang kesatria juga tidak akan menyerang tamunya, ataupun menyerang dari belakang”. Shams tersenyum tipis mendengarnya. Raja Udai tersenyum penuh kebanggaan mendengar jawaban putranya. Chundawat memimpin untuk mengelukan pangeran Mewar itu, “Hidup pangeran Mahaputra! Hidup!”.

Mahaputra #9 04

Bendera kerajaan Mewar telah berkibar di benteng Chittor dan dijaga oleh prajurit Mewar. Rana Bahadur yang sudah berkalung bunga, didudukkan di atas kayu pembakaran untuk kremasinya. Mahaputra menghapus air matanya yang tak berhenti mengalir. Raja Udai menatap sahabatnya itu dengan tatap berkabung.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Iklan

2 responses to “Mahaputra: Pangeran Masa Depan Kerajaan dan Pesta Kebebasan Mewar

  1. Min,,, mahaputra mendadak mnghilang serialnya. Yg di India udah slesai blm sih??? Bisa kali min dikasih bocoran akhirnya gmn itu, penasaran!!!

    Suka

    • Itu serial kan panjang, lha perjalanan hidup seorang raja pejuang yang mau diserialkan, belum lagi bumbu-bumbu percintaannya. Sama kayak Ashoka, jalan hidupnya kan panjang sampai dia berkuasa sepuh dan bingung jg nyari penggantinya. Ntar tak cariin yaa, kakak. Ga bisa cepat yaa 😀

      Suka

Gimana Menurutmu Kawans? :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s