Mahaputra menatap pelayannya itu, diwajahnya terbayang saat Tulsidas menerima sekantong keping emas dari prajurit Shams sambil membocorkan rahasia ,’raja Udai telah menyiapkan sebuah strategi untuk menyerang Shams’. Mahaputra kemudian menjawab, meyakinkan pelayannya itu, “Ya, yang dikatakan dia itu benar sekali”. Chundawat menatap pelayan raja itu dengan tatap tajam.

Tulsidas menatap Mahaputra yang duduk diatas kuda, “Dan pangeran apa yang kau lakukan disini, seharusnya kau di benteng”. Chundawat bicara, “Lupakan pertanyaan itu Tulsidas, karena untuk mengetahui jawaban inilah raja Udai sedang menantinya di istana, dan kau setelah beli obat, maka kau harus datang kesana. Raja Udai sedang marah besar, kau tau itu”. Mahaputra memperhatikan ekspresi Tulsidas dari tas kuda. Tulsidas mengangguk pada Chundawat, “Baik, aku akan segera ke istana”, berjalan menuntun kudanya.

Mahaputra Maharana Pratap#2 49

Mahaputra berpikir cepat, “Pak Tulsidas, tunggu!”. Tulsidas menghentikan langkahnya, menoleh kebelakang. Mahaputra terus bersuara, “Tunggu sebentar”, kemudian menoleh ke Chundawat, “Paman Rawat, aku akan ikut dengannya”, sambil turun dari kuda. Chundawat bingung, “Tapi pangeran,,”.

Mahaputra sudah dihadapan pelayan ayahnya, “Pak Tulsidas, aku akan mengajakmu ke istana dan menunggang kudaku”. Tulsidas hanya mengangguk. Mahaputra memberi kesan dia tak tau apa-apa tentang pelayan ayahnya itu, “Habisnya Paman Rawat dia berkali-kali mengatakan ayah marah besar dan itu membuatku takut”. Tulsidas berfikir.

Mahaputra memberi kesan bersikap merajuk, “Aku tidak mau ikut dengannya”. Chundawat yang tau apa yang dipikirkan pangeran muda itu, mencoba membujuk, “Tapi pangeran, aku mengatakan untuk kebaikan dirimu”. Mahaputra beralasan, “Paman Rawat, sebagai seorang pangeran, apa aku tidak punya hak untuk memilih orang yang akan mengantarku ke istana?”. Menoleh ke Tulsidas, “Aku akan ikut dengan dia, ayo pak”. Tulsidas merasa tersanjung, “Ya, boleh saja, ayo, duduklah dikuda. Aku akan mengantarmu ke istana lebih cepat daripada dia”. Chundawat hanya menatap tingkah pangeran muda itu sambil menggeleng-geleng tersenyum.

Mahaputra Maharana Pratap#2 50

Di istana, Raja Udai bersama dengan beberapa orang petinggi istana dan kaum bangsawan berdiri di depan istana menunggu Mahaputra dengan wajah marah. Mereka yang hadir hanya berdiri dengan diam dan wajah tertunduk. Raja Udai mondar mandir sambil menatap ke arah gerbang. Rana Surbhan mencoba menenangkan, “Yang Mulia, pangeran tidak mungkin pergi melalui benteng tanpa alasan. Pasti ada sesuatu”. Rana Bahadu Raj ikut memberi pendapat, “Ya Yang Mulia, tanyakan pada siapapun, pangeran sangat patuh”.

Raja Udai mengangkat tangannya, “Hentikan!”. Semua tertunduk. Raja Udai menoleh ke orang-orang kepercayaannya itu, “Pujian bukan ditujukan dengan patuh pada penguasa dan putra bangsawan, tapi dengan mencemaskan tanah air kita! Kasih sayang semulah yang membuat mereka menjadi pemberontak dan tidak punya aturan! Mengerti kalian! Kali ini aku juga ingin mengetahui alasan apa yang dikemukakan pangeran atas pelanggaran perintahku ini”.

Mahaputra Maharana Pratap#2 53

Di luar istana, Mahaputra masih diatas kuda bersama Tulsidas, dia membuat pelayan itu merasa nyaman, “Kalau memang sakit sekali, kita istirahat saja dulu”. Tulsidas menolak, “Tidak pangeran, kita harus segera sampai di istana”. Mahaputra tetap menunjukkan sikap cemas pada kesehatan pelayan itu, “Tapi, minumlah air sedikit saja”. Tulsidas tak menolak, ia turun dari kuda, begitu juga dengan Mahaputra yang langsung mengambil wadah yang terselip di samping kuda dan mengambilkan air, kemudian menyerahkan pada pelayan kepercayaan ayahnya itu, “Ini ambillah”. Tulsidas mengambil dan meminumnya.

Mahaputra merapikan pelana kudanya. Tulsidas mengajaknya bicara, “Pangeran”. Mahaputra menoleh, “Ya”. Tulsidas menatapnya, “Aku tidak tau apa yang kau lakukan, tapi begitu sampai di istana, sebaiknya kau berlutut dan langsung minta ma’af pada ayahmu. Aku sudah mengenal benar Yang mulia sejak lama. Beliau kelihatan keras dari luar, tapi dari dalam beliau sangatlah lembut, walaupun beliau marah, tapi jika ada yang meminta ma’af kepadanya, apalagi ada orang yang meminta ma’af dengan hati yang tulus, maka beliau akan mema’afkannya dengan mudah. Percayalah kata-kataku”.

Mahaputra merespon, “Semua ucapanmu itu benar sekali. Tapi kata ibu, kalau ada masalah yang timbul dihadapan ayah, yang menyangkut permasalahan negeri atau keamanannya, maka beliau pasti akan menjalankannya dengan keras. Dan beliau tidak akan peduli, apakah orang itu keluarganya atau bukan, lalu beliau hanya akan memperlihatkan keadilan”.

Tulsidas memegang pundak Mahaputra, “Kau jangan khawatir nak, kau tidak terlibat dalam masalah negeri ini ataupun keamanannya. Karena itu, untuk menyelamatkanmu dari Yang Mulia, aku rela melakukan apa saja, semua akan baik-baik saja nak”. Tulsidas memegang kedua tangan Mahaputra, “Kau tidak perlu takut, aku ada bersamamu, aku tidak akan pernah membiarkan sesuatu terjadi”, sambil mengusap punggung tangan Mahaputra yang terluka kena goresan pedang. Mahaputra menatap pelayannya itu dengan tatap sedih.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :