Mahaputra Maharana Pratap#2 43

Pratap menatap marah, meraih akar-akar beringin di didepannya sebagai pegangan, melompat ke hadapan dua prajurit Shams yang langsung mencabut pedang mereka dan menyerang Mahaputra. Mahaputra merunduk, melompat, merendahkan dada, memukul balik tangan salah satu prajurit, menendang prajurit lain, menyikut prajurit yang tangannya dia pegang, menendang hingga tersungkur. Membalikkan badan dengan cepat, memegang tangan prajurit satunya, mencabut belati dipinggangnya, menusukkan ke prajurit yang akan menangkapnya sebagai hadiah tawanan.

Pratap membalikkan badan, mau mengambil posisi menghadapi prajurit satunya, kakinya tertusuk duri, spontan ia jongkok dan mencabut duri dikakinya, dibelakangnya, si prajurit yang sudah terluka ternyata masih bisa berdiri, mengayunkan pedang ke arah Mahaputra, tapi ada yang menusuk prajurit itu dengan lemparan belati hingga benar-benar tersungkur bersamaan dengan ringkik kuda.

Mahaputra berdiri melihat kedatangan beberapa prajuritnya dan Chundawat yang langsung turun dari kudanya dan mengejar prajurit Shams yang masih hidup dan memegang krah bajunya, “Bagaimana mungkin kau menyerang pangeran kami”sambil menghabisi si prajurit. Chundawat membalikkan badan, menatap Mahaputra dengan cemas, “kau tidak apa-apa pangeran? sepertinya tanganmu terluka!”. Mahaputra menjawab dengan tenang, “Aku tidak apa-apa, ini hanya luka kecil saja”.

Mahaputra Maharana Pratap#2 45

Chundawat memegang pundak Mahaputra, “Pangeran, kita harus segera ke istana, kita tidak aman disini”. Mahaputra menjawab, “Tunggu sebentar, sebelum itu aku harus mencari seseorang”.

Chundawat menggeleng, “Ma’afkan aku pangeran, aku tidak bisa membari ijin padamu. Ini adalah perintah raja Udai agar aku segera membawamu pulang sekarang juga, dan lagi pula pangeran raja Udai tidak bisa menerima perintahnya dilanggar untuk kedua kalinya, kau mengerti itukan”. Mahaputra setuju, “Baiklah kalau begitu, terserah kau saja, dan siapa tau, orang yang kita cari itu, bisa kita temukan dengan sendirinya”.

Tiba-tiba dibelakang Chundawat, prajurit Shams yang sebelumnya hajar Chundawat bangkit dan mau menyerang Chundawat dari belakang, prajurit Mewar ada yang berteriak, “Awas!”. Dengan gerak cepat Chundawat mencabut pedangnya kembali dan mengayunkanya ke belakang, si prajurit benar-benar tersungkur. Chundawat membalikkan badan lagi, menatap Pratap, memegang sebelah pipi putra mahkota itu dengan tersenyum meyakinkan.

Di kamp panglima Shams bicara pada salah satu prajurit kepercayaannya, “Aku tidak senang, dua prajurit kita pergi menemui Tulsidas, cepat cari tau tentang mereka! Aku tidak senang!”. Si prajurit dengan wajah cemas mundur, “Baik Yang Mulia”, kemudian berlari keluar. Mata Shams melotot marah.

Mahaputra Maharana Pratap#2 46

Chundawat yang duduk dibelakang Mahaputra di atas kudanya, ingin tau apa yang dilakukan putra mahkota itu, “Pangeran, untuk kesembilan kalinya aku tanya padamu, apa yang kau lakukan dengan dua prajurit disana, katakan”. Mahaputra tetap dengan pendiriannya, “Aku sudah bilang padamu kan, aku tidak akan menjawab pertanyaan itu disini”.

Chundawat tak memaksa, “Baiklah, kau boleh tidak menjawab pertanyaanku, tapi kau adalah pangeran Mewar, kau tidak boleh membiarkan dirimu dalam bahaya”. Mahaputra memberikan pendapatnya, “Tapi aku pikir aku berhasil mengatasi keadaan disana”. Mereka memasuki sebuah pasar, Chundawat mengingatkan, “Keadaan bisa saja berubah pangeran”.

Chundawat turun dari kudanya, berjalan menuntun kuda ditengah keramaian itu, “Khususnya setelah melihat apa saja yang terjadi untuk pertamakali kau masuk ke Shamli. Sebenarnya aku mencemaskan dirimu dan itu sudah melewati batas. Saat ini, aku hanya bisa berdoa pada Dewa agar kau bisa mengarang sebuah cerita yang baik untuk diberitaukan pada raja Udai nanti, agar dia juga percaya padamu”.

Mahaputra Maharana Pratap#2 47

Mahaputra meyakinkan orang kepercayaan ayahnya itu, “Kau juga harus percaya, apa yang ku lakukan ini karena aku punya alasan yang kuat, dan akan ku beritau alasan itu pada ayah dihadapan semua orang”.

Chundawat memperhatikan keadaan sekitar, matanya melihat seseorang, “Tulsidas? sedang apa dia disini?”. Di depan mereka Tulsidas sedang berjalan menuntun kudanya searah mereka. Mahaputra bergumam, “Pak Tulsidas?”. Chundawat heran, “Dia mau kemana? Tulsidas!”, memanggil sambil mengangkat tangan. Tulsidas menoleh dengan wajah terkejut.

Chundawat menuntun kuda yang masih dinaiki Mahaputra mendekati pelayan kepercayaan raja Udai itu, “Tulsidas, katakan apa yang kau lakukan disini? Apakah, kau tidak tau ada musibah yang terjadi di istana? Dan kau malah berjalan-jalan disini”. Tulsidas tergagap, “A, aku, aku datang untuk membeli obat, aku sudah bilang pada pangeran”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :