Raja Udai bergegas menaiki kudanya, Chundawat menghadang di depan kuda, “Yang Mulia, jangan keluar istana, sangat berbahaya! Biarkan kami saja, kami yang akan mencari pangeran”. Raja Udai yang marah hanya menjawab, “Cepat menyingkirlah Chundawat! Sangat penting agar membawa pangeran kembali ke tempat ini! Minggir”.

Chundawat tak beranjak, “Ma’af Yang Mulia, bagiku mewujudkan impian memerdekakan Mewar juga tidak kalah pentingnya”. Chundawat memberikan sikap memohon, “Turutilah Yang Mulia, ada kami, biarkan kami yang membawa pangeran kembali, aku janji padamu Yang Mulia. Yang Mulia tau, setiap kali aku berjanji pada Yang Mulia, aku selalu menepati janjiku”.

Raja Udai berfikir, kemudian turun dari kudanya, melangkah ke hadapan Chundawat yang langsung memerintahkan beberapa prajuritnya untuk jalan, “Ayo”. Raja Udai dan yang lain menatap kepergian pasukan kecil itu.

Mahaputra Maharana Pratap#2 40

Di luar istana, pangeran masih berjumpalitan melewati jalan pintas mengejar kuda yang membawa Tulsidas. Ia memperhatikan sejenak wajah pelayan diatas kuda yang tak tau kalau diikuti. Kuda Tulsidas sudah melewati gurun, begitupun dengan Mahaputra Pratap. Saat memasuki hutan, Mahaputra berhenti dibawah pohon besar, mengatur nafas, kemudian bergegas ke rumpun pohon besar yang mempunyai ceruk, ia memperhatikan Tulsidas yang datang dengan kudanya dari tempat itu.

Tulsidas menghentikan kudanya tak jauh dari tempat Mahaputra bersembunyi, kemudian ia membuat suara dengan mulutnya yang ditutup tangan seperti angin bertiup sambil mengawasi sekeliling. Mahaputra memperhatikan dengan wajah mengernyit. Tulsidas membuat suara lagi, tak berapa lama, muncul dua prajurit Shamli. Mata Mahaputra membesar, terkejut.

Kedua prajurit musuh itu mendekati Tulsidas. Tulsidas tersenyum menatap keduanya. Mahaputra memperhatikan. Salah satu prajurit itu berbicara, “Shams sudah menantikan kabarmu dengan tidak sabar Tulsidas, katakan, kau bawa kabar apa”. Tulsidas turun dari kudanya, “Kabarnya sangatlah penting, tapi aku minta tepatilah dulu janjimu”. Mahaputra memperhatikan dengan serius ditempatnya bersembunyi.

Salah satu prajurit Shams mengeluarkan sekantung koin emas dari pinggangnya, menyerahkan ke tangan Tulsidas. Mata Mahaputra semakin membesar. Prajurit yang menyerahkan uang bicara, “Sekarang katakan, ada kabar apa”.

Mahaputra Maharana Pratap#2 42

Tulsidas memberitau, “Saat ini raja Udai sudah mempersiapkan strategi untuk menghadapi Shamli, *Mahaputra sampai berpegangan saking terkejutnya mendengar pelayannya itu membocorkan rencana ayahnya*, Untuk itu dia mengadakan rapat rahasia bersama dengan teman-temannya para chendikiawan Mewar menetukan hari yang baik untuk perang setelah empat hari. Aku pergi dulu, aku harus kembali ke istana sekarang”. Mahaputra saking kagetnya melihat dan mendengar pelayannya itu membocorkan rencana ayahnya kemusuh, tanpa sadar kakinya mendorong batu yang menimbulkan bunyi.

Tiga orang yang sedang berbicara itu terkejut, menatap ke arah rumpun pohon. Mahaputra menutup mulutnya dengan tangan agar tak bersuara. Prajurit yang memberi koin emas bersuara, “Sudahlah mungkin binatang liar, sekarang kau pergi, tapi ingat ya, jika berita bohong, maka Shams akan menghukummu dan juga, seluruh keluargamu mereka semua pasti akan mati”. Tulsidas menjawab, “Ya, aku tau”, sambil memasukkan kantong koin yang diterimanya, kemudian menaiki kuda.

Melihat hal itu, Mahaputra dari tempat persembunyiannya, membathin, ‘aku harus segera memberitau hal ini pada ayah’. Tulsidas memutar balik kudanya, meninggalkan tempat itu. Salah satu prajurit Shams langsung bicara, “Lihat saja keberanian raja Udai, dia berfikir untuk menyerang Shamli”. Temannya nyahut sambil tertawa, “Hehehe, mungkin dia tau, sebentar lagi, Shams pasti akan mengalahknnya dan mempermainkannya, hahaha”. Kedua prajurit itu tertawa. Mahaputra yang mendengar pembicaraan itu dari tempatnya bersembunyi, menahan geram, tanpa sengaja ujung kakinya kembali menyentuh batu hingga menggelinding.

Mahaputra Maharana Pratap#2 41

Prajurit Shams langsung menghentikan tawanya, “Ayo, siapa disana!”, mereka mendekat ke rumpun pohon besar tempat Mahaputra bersembunyi, “Jangan bergerak! Angkat tangan!”. Mahaputra tetap dengan posisi tubuh rebah mengangkat tangan. Prajurit Sham memerintahkan, “Ayo berbalik!”. Mahaputra mengatur posisi kakinya, membalikkan wajah menatap kedua prajurit.

Salah satu prajurit Shams mengenalinya, “Ini putranya raja Udai! Dia yang masuk ke Shamli!”. Mahaputra bangkit, “Ya, kalian mengenalnya dengan baik, sekarang kalian berdua akan sangat menyesal karena mengatakan kata-kata pada Yang mulia”.

Salah satu prajurit berteriak, “Hei pangeran! Ada maut dihadapanmu! Kau bukannya takut malah mengancam kami!”. Mahaputra menatap tajam, “Kau lihat saja nanti dengan mata kepalamu sendiri!”. Si prajurit yang mengenalinya berkata, “Ayo, kita tangkap saja dia dan kita bawa dia kepada Shams!”. Temannya setuju, “Iya, kita beri hadiah tawanan ini kepada Shams”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :