Mahaputra Maharana Pratap#2 26

Tulsidas menghentikan kudanya. Mahaputra melompat turun, menatap si pelayan, “Pak, kalau kau sakit, harusnya kau periksa dulu pada tabib”. Tulsidas memberi alasana, “Tidak, sudah tidak terlalu sakit, aku akan segera sembuh”. Sesuatu jatuh dari tubuh si pelayan. Mahaputra melihat benda yang jatuh itu dengan matanya. Tulsidas menatap Mahaputra dengan wajah pucat, kemudian menatap kegulungan kecil yang jatuh dari tubuhnya.

Mahaputra membungkuk, mengambilkan gulungan yang jatuh, saat akan langsung menyerahkan, ia terkejut, melihat gulungan yang dipegangnya dengan wajah berfikir. Tulsidas menunggu dengan wajah cemas. Mahaputra selesai berfikir, tersenyum sedikit, menyerahkan gulungan yang terjatuh itu ke tangan Tulsidas, “Ini, ambillah”. Sambil menelan ludah dan gerakan cepat, Tulsidas menarik gulungan itu, hingga membuat Mahaputra terkejut lagi.

Tulsidas dengan wajah tegang berkata, “Kau pergi saja dulu, nanti aku susul”. Mahaputra mengangguk dengan senyum tipis. Tulsidas membelokkan kudanya, tidak memasuki benteng. Mahaputra menatap kepergian pelayannya itu dengan tatap berfikir.

Mahaputra membalikkan badannya, melangkah pelan, wajahnya mengernyit, terbayang saat dia mau menyusup mengambil mangga sebelumnya, ia sempat memperhatikan orang-orang yang mau masuk Shamli dan memperlihatkan gulungan itu ke prajurit penjaga Shamli waktu itu, baru mereka diijinkan masuk. Mahaputra melangkah dengan wajah semakin berfikir, penjaga memberi jalan untuknya.

Mahaputra Maharana Pratap#2 27

Saat melewati prajurit yang sebelumnya dipinjamkan sekantong koin emas oleh Tulsidas, Mahaputra bertanya, “Oya, apakah orang-orang kita juga diberikan surat untuk memasuki wilayah Shamli?”. Si prajurit dengan sikap prajurit patuh, tak memandang langsung mata kaum bangsawan memberikan jawaban, “Tidak pangeran, menyentuh barang apapun yang datang dari Shamli, kami anggap sebagai kesalahan pangeran”.

Mahaputra membalikkan badan, berdiri tertegun, ia jadi semakin berfikir, membathin, ‘Lalu kenapa surat ijin masuk wilayah Shamli ada pada pak Tulsidas?’. Mahaputra terbayang kembali kejadiannya, surat ijin masuk Shamli jatuh dari tubuh pelayannya. Tulsidas sangat cemas saat ia mengambilkan dan mengembalikannya. Terbayang saat Tulsidas menjatuhkan sekantong emas pada prajurit penjaga yang adiknya akan menikah.

Mahaputra menganalisa kejadian yang dilihatnya, “Jangan-jangan pelayan kepercayaan ayah, adalah mata-mata Shams?”. Mahaputra berlari kedalam istana, menaiki langkah istana dengan cepat. Ratu Bhatiyani yang sedang menuruni anak tangga sampai tak dilihatnya, dan langsung memanggil, “Pangeran”.

Mahaputra yang sudah terlanjur naik beberapa anak tangga, turun kembali menemui Bhatiyani, “Ibu Bhatiyani, apa kau melihat ibuku?”. Ratu Bhatiyani memberitau, “Ibumu sedang ada di kuil, ada apa?”. Mahaputra menunjukkan wajah cemas, “Ibu Bhatiyani, aku baru saja melihat sesuatu, yang aku pikir aku harus melakukan sesuatu untuk mencegahnya”, bermaksud langsung pergi.

Mahaputra Maharana Pratap#2 29

Ratu Bhatiyani menahan Mahaputra, memegang pipi pangeran dengan kedua tangannya, “Kau harus tenang dulu. Ada apa? Apa yang sudah kau lihat? Apa yang ingin kau cegah? Katakan padaku”. Mahaputra menjawab, “Selama aku masih tidak yakin, aku tidak akan memberitau siapapun ibu Bhatiyani. Tapi aku ingin mencegah dulu masalah itu ibu Bhatiyani”.

Ratu Bhatiyani memegang pundak pangeran, “Apapun itu, kau harus menunggu sampi raja Udai datang”. Mahaputra menunjukkan wajah risau, “Tapi itu sudah terlambat ibu Bhatiyani!”. Ratu Bhatiyani berfikir, kemudian menatap pangeran, “Ya sudah kalau begitu, pergilah lakukan apa yang dikatakan hatimu, aku tidak akan menghalangimu”, sambil memegang pipi putra mahkota itu. Pratap mengucapkan, “Terima kasih ibu Bhatiyani”, sambil berlari menuruni tangga.

Mahaputra kemudian berlari menuruni benteng, kembali menuju gerbang yang dijaga dua penjaga sebelumnya, begitu melihat pangeran berlari ke arah mereka, dengan cepat mereka menyilangkan tombak mereka. Prajurit yang diberi pinjaman oleh Tulsidas berkata, “Tidak pangeran, tidak tanpa pengawal”. Mahaputra mencoba bernegosiasi, “Kau dengarkan aku dulu penjaga”. Si prajurit tak bertoleransi, “Kami terikat pada perintah”.

Mahaputra tak bisa berdebat lama-lama, “Baiklah, kau patuhi saja perintah itu”, dengan wajah kesal menatap ke luar gerbang lewat tangkai tombak yang menghalanginya. Mahaputra melangkah lunglai kembali ke arah dalam benteng, dari arah belakangnya muncul dua penunggang kuda yang melewatinya. Mahaputra berhenti, bergumam, “Aku harus melakukan sesuatu”.

Raja Udai dan teman-temannya sudah memacu kuda mereka masing-masing meninggalkan area pertemuan rahasia.

Di benteng, Pratap mengambil tali tambang. Dengan membawa tali tambang ditangan, Pratap menatap dinding benteng di depannya, membathin, ‘Ma’afkan aku ayah, sekali lagi bangsa membuat aku tidak berdaya untuk melanggar perintahmu’. Pratap menoleh ke kiri dan kanannya, kemudian mengayunkan ujung tali tambang yang sudah diberi pengait, melemparkannya ke dinding benteng paling atas, tali tersangkut pada tempat yang diinginkannya.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :