Permaisuri Jaivanta mengangguk, “Kau tau, karena hal ini Yang Mulia harus membayar banyak sekali keping emas dari khasanah kerajaan. Sehingga mau tidak mau dia harus menambah dari penghasilannya sendiri. Karena itu, para pekerja malah berhenti menerima upah mereka. Seorang raja, bukan hanya di medan perang, bahkan diluar medan perang, setiap saat, harus memberi ujian tentang kesadarannya”.

Pratap berlutut di depan ibunya, “Aku melakukan kesalahan besar, dan sekarang juga aku akan minta ma’af kepada ayah”. Permaisuri Jaivanta tersenyum, memegang pundak Pratap mengajaknya bangkit, kemudian mengangguk.

Mahaputra Maharana Pratap#2 07

Sementara itu, raja Udai berdiri terpaku dikamarnya, di depan meja perlengkapan pakainya, ia terbayang ucapan Shams, ‘setelah dananya terkumpul, aku yang akan memberikan dananya untuk kebutuhan sehari-hari’. Raja Udai menyarungkan belatinya, menyelipkan dipinggang sisi kanan, terngiang ucapan Pratap putranya, ‘kami keturunan bangsawan rela menerima hukuman’. Raja Udai mengangkat pedangnya, terngiang ucapan Pratap selanjutnya, ‘tapi Shams terus menerus menekan kita, tapi tidak ada pedang bangsawan yang melawannya’. Raja Udai menyarungkan pedangnya dengan tatap geram.

Dengan wajah kaku, Raja Udai menyelipkan pedang ke pinggang sisi kiri. Raja Udai mengambil bubuk merah denga jempol kanannya, menempelkan ke jidatnya, mengambil penutup kepala, memasang di kepala. terakhir memasang perhiasan dipundak kiri menyilang badan. Raja Udai berdiri dengan tatap mata yang tajam.

Terdengar di telinganya rantai pinggang permaisuri kesayangannya. Wajah raja Udai terbias senyum, ratu Bhatiyani melangkah mendekat. Raja Udai memblikkan badan, menatap permaisuri kesayangannya itu dengan tatap dalam. Ratu Bhatiyani mengalungkan selendang di leher raja Udai, “Kau mau kemana Yang Mulia”.

Mahaputra Maharana Pratap#2 10

Raja Udai menjawab, “Untuk kebebasan Mewar, aku akan mengambil langkah pertama. Nanti kau akan lihat permaisuri, pada saat itu Shams akan menyesal, ketika dia datang ke istanaku untuk mempermalukan aku di depan keluargaku sendiri disini. Dia akan sangat menyesal”. Bhatiyani memegang dada raja Udai, “Aku yakin Dewa selalu melindungimu”.

Raja Udai mengalihkan pandangannya dari ratu Bhatiyani yang menatapnya dengan tatap penuh cinta, “Kenapa aku merasa kau ingin menanyakan sesuatu”. Raja Udai menjawab, “Bukan pertanyaan penting, hanya saja, pangeran sudah keluar dari tahanannya dan baik-baik saja?”. Bhatiyani tersenyum dan mengangguk, “Iya, putramu sudah keluar dari kurungannya. Ia akan segera datang untuk mengucapkan salam padamu”.

Raja Udai menengadah, memerintahkan Bhatiyani, “temuilh dia, sampaikan padanya, pelajaran yang di dapatnya, jangan pernah dilupakan”, kemudian mau beranjak keluar. Bhatiyani memanggil, “Yang Mulia”. Raja Udai berhenti, Bhatiyani mengusap pundak sang raja, “Ingatlah satu hal, cepatlah kembali, rasanya jauh darimu sedetik saja, sudah seperti seabab bagiku”. Raja Udai menoleh, memegang tangan ratunya yang memegang bahunya, mengangguk, kemudian melangkah keluar.

Mahaputra Maharana Pratap#2 12

Pratap melangkah keluar ruang ruang kuil, dilorong istana ia terngiang ucapan ibunya, ‘sebagai seorang kesatria, demi kebaikan rakyatnya raja Udai berkompromi dengan kewajibannya sebagai seorang penguasa. Jika karena itu raja Udai mengambil satu saja langkah salah, dia tidak bisa mencabut Shamli dari akarnya’. Pratap berhenti, bertanya pada prajurit yang berjaga, “Apa ayah ada di kamar?”. Si prajurit memberitau, “Yang Mulia baru saja pergi”. Pratap terkejut, “Apa? Sudah pergi?”. Prajurit mengiyakan. Pratap tertegun sesaat, “Tidak!”, kemudian berbali, berlari di sepanjang lorong dengan cepat.

Pratap sampai di halaman, bertemu dengan pelayan kepercayaan ayahnya yang sedang menuntun kuda, “Pak Tulsidas, aku tau kau akan menemani ayahku, ajak aku bersamamu!”. Tulsidas menjawab, “Ma’afkan aku pangeran, aku tidak bisa melakukan itu, Yang Mulia akan sangat marah”. Pratap meyakinkan, “Aku bersumpah! Aku tidak akan menimbulkan masalah padamu. Aku hanya ingin minta ma’af pada ayahku saja. Aku mohon, ajaklah aku”.

Tulsidas mengangguk, “Baiklah”. Pratap tersenyum, bergegas kesamping kuda, menaiki pelana kuda. Tulsidas menuntun kuda sampai ke pintu gerbang. Penjaga di gerbang pertama menunduk hormat para Pratap.

Mahaputra Maharana Pratap#2 14

Di gerbang, penjagaan kedua, dua prajurit yang berjaga dengan menyilangkan tombak mereka, mengangguk, memberi salam, sambil membawa tombak kesamping tubuh masing-masing.

Tulsidas mengambil kantung dari pinggangnya, mengangkat di depan penjaga yang berdiri disebelah kananya, kemudian menjatuhkan kantong tersebut ke tangan si penjaga, terdengar bunyi krincingan, “Ini untuk pernikahan adikmu, tapi jangan lupa, dikembalikan ya”. Si penjaga mengangguk. Pratap memperhatikan semuanya dari atas kuda.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :