Mahaputra Maharana Pratap#2 54

Di istana, Raja Udai menunggu masih dengan wajah marah, seorang bangsawan memberitau, “Yang Mulia, itu pangeran datang”. Raja Udai menatap Mahaputra yang duduk dipunggung kuda yang dituntun Tulsidas. Para permaisuri juga segera muncul di halaman istana dengan wajah cemas.

Mahaputra turun dari kuda, ditemani Tulsidas menaiki undakan tangga istana. raja Udai berdiri menatapnya. Dari belakang raja Udai juga muncul Chundawat. Mahaputra melangkah menuju kehadapan ayahnya, para permaisuri berpegangan ke tiang dekat mereka berdiri, menunggu apa yang akan terjadi.

Tulsidas berbisik pada Mahaputra, “Kalau Yang Mulia marah nanti, jangan pernah membalasnya, ingat kata-kataku”. Raja Udai langsung bersuara, “Tulsidas! Kau tidak usah ikut campur urusanku dengan pangeran”. Tulsidas mengangguk, mundur beberapa langkah di belakang Mahaputra. Chundawat menatap Mahaputra dengan wajah tegang.

Raja Udai melangkah mendekati putranya, menatap tajam, “Katakan pangeran, apa yang sudah kau lakukan hari ini, karena untuk itu aku harus melupakanmu sebagai putraku, barulah aku memberikan hukuman yang tepat”. Semua yang mendengar menunjukkan wajah cemas. Mahaputra tetap menatap raja Udai dnegan tenang, “Setiap hukuman ayah merupakan sebuah berkah bagiku ayah, karena itu, apa yang ku lakukan hari ini, untuk itulah aku siap menerima hukuman dari ayah”.

Mahaputra Maharana Pratap#2 55

Raja Udai menatap putranya itu dengan wajah seorang raja, “Bagus sekali”, kemudian membalikkan badan, “Jadi atas kesalahan yang kau lakukan, hukuman yang tepat adalah!”. Mahaputra bersuara dengan tenang, “Tunggu sebentar ayah, sebelum ayah menjatuhkan hukuman, aku ingin mengatakan satu hal yang penting pada ayah, dan aku ingin ayah memberikan ijinku memberitaukan hal itu”.

Raja Udai menoleh dengan tatap marah. Tulsidas dari belakang Mahaputra menatap tak mengerti apa yang dilakukan pangeran yang sudah dinasehatinya itu. Permaisuri Jaivanta mengernyitkan wajah, begitupun dengan dua permaisuri lain.

Raja Udai menatap Mahaputra, “Kataka, ada apa”. Mahaputra meminta syarat, “Sebelum aku mengatakan hal ini, ayah harus memastikan dulu kalau ayah percaya pada semua orang yang ada disini. Ayah harus percaya pada mereka yang disini”. Mata Tulsidas bergerak cepat, perlahan melangkah mau meninggalkan tempat itu.

Raja Udai memenuhi permintaan Mahaputra, “Tunggu Tulsidas, tetaplah disini, kau tidak perlu kemana-mana, *Tulsidas mengangguk*, Kau sudah seperti bayangan bagiku, bagaimana aku bisa mencurigaimu”. Tulsidas berdiri dengan wajah menunduk. Raja Udai berkata pada semua, “Aku bisa mengatakan bahwa aku percaya pada semua yang hadir di istana ini, karena jika pangeran ingin mengatakan sesuatu, silahkan utarakan diantara mereka yang hadir, katakan di depan mereka. Tapi ingat satu hal, kau sudah melakukan satu kesalahan, yaitu melarikan diri dari benteng dan aku masih belum tau alasannya, jadi jangan, melakukan kesalahan besar lagi sekarang. Katakan, ada hal penting apa yang ingin kau sampaikan pada kami”.

Mahaputra Maharana Pratap#2 58

Mahaputra tetap tenang menatap ayahnya, “Sebelum aku menyampaikan hal itu, aku ingin memberitaukan”. Mahaputra berjalan beberapa langkah menjauh dari ayahnya, “Bahwa ada seorang pengkhianat yang hadir diantara kita!”. Raja Udai membalikkan badan menatap kearah putranya yang membelakanginya dengan terkejut, “Apa!”. Mata Tulsidas terkejut, bergerak cepat, menunduk. Semua permaisuri terkejut.

Raja ingin tau, “Dimana dia! Kau sadar dengan yang kau katakan ini!”. Mahaputra membalikkan badan menatap raja Udai, “Dia ada disini ayah”. Tulsidas menelan ludah, semakin menundukkan wajahnya. Raja Udai tak sabar melihat putranya, “Dimana dia!”. Mahaputra menjawab,”Dia ada disini! Meski tinggal bersama kita, tapi dia bekerja sebagai mata-mata musuh kita”. Tulsidas semakin gelisah.

Raja Udai mencoba sabar mendengarkan putranya, yang masih menjelaskan, “Dia selalu mengirimkan kabar penting pada musuh-musuh kita”. Chundawat menatap pangeran dengan wajah serius, begitu juga dengan ketiga permaisuri. Raja Udai menarik nafas, “Aku tau benar bahwa kau anak yang sangat cerdik pangeran, tapi kalau kau gunakan kecerdikanmu untuk menghindari hukuman yang kau terima, pasti kau akan menyesal”, sambil menatap Mahaputra dengan kepala menggeleng-geleng.

Mahaputra Maharana Pratap#2 57

Mahaputra meyakinkan, “Percayalah padaku ayah, aku bisa membawa pengkhianat itu hadir disini, *Tulsidas makin gelisah*, dan saat dia ada disini”. Raja Udai kehilangan kesabarannya, “Cukup Pangeran, hentikan!”. Mahaputra menatap ayahnya. Tulsidas bersikap menunggu. Chundawat memperhatikan ekspresi Mahaputra. Permaisuri berpandangan dengan ratu Bhatiyani dengan cemas.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :