Mahaputra: Seorang Raja Harus Berkompromi Dengan Kewajibannya Sebagai Kesatria, Dikhianati Orang Kepercayaan


Kisah serial Mahaputra episode sebelumnya menceritakan sejarah orang-orang asing mulai menjajah India dalam usaha menaklukkan dunia. Bangsa Rajput di India termasuk salah satu yang selalu melawan pendatang demi mempertahakan tanah air mereka, tapi pertarungan yang tak imbang dalam jumlah pasukan, membuat bangsa ini akhirnya bisa dikuasai asing. Tapi dengan berjalannya waktu lahirlah seorang penerus, Mahaputra simbol kerajaan Mewar, arti ketergantungan, kehormatan dan kebebasan, dipertanyakan oleh putra mahkota, pangeran muda dari kerajaan tersebut, Pangeran Pratap. Ia seakan terpanggil untuk melawan penguasa yang menguasai tanah airnya. Dan ingin sekali mengangkat pedang warisan leluhurnya untuk melawan musuh.

Mahaputra Maharana Pratap #2 00

Sinopsis serial Mahaputra-Maharana Pratap #2 (episode ), Pratap menuruti kemauan Ratu Bhatiyani, dia memasukkan pedang warisan kembali ke sarungnya, mencium dengan jidatnya, kemudian mengembalikan ketempatnya.

Pratap menoleh ke Bhatiyani yang menatapnya sambil mengeluarkan air mata, “Kenapa kau menangis ibu Bhatiyani”. Ratu menjawab, “Karena kau tidak tau apa yang kau lakukan”. Pratap merasa tidak seperti itu, “Tapi ibu, ibuku mengatakan kalau,,”, tak melanjutkan ucapannya. Bathiyani sudah semakin sedih, “Ayo, bersumpahlah demi aku, apapun yang terjadi di ruangan ini, kau tidak boleh menceritakannya pada siapapun. Kalau sampai ayahmu mengetahuinya, tidak akan ada yang bisa menenangkan amarahnya”.

Pratap heran, “Tapi ibu,,”. Ratu Bhatiyani menggenggam tangan kanan Pratap kedepan dadanya, “Bersumpahlah, berjanjilah padaku, bahwa kau tidak akan menceritakan ini”. Pratap meyakinkan, “Aku berjanji ibu Bhataiyani, aku tidak akan menceritakan pada orang lain”. Ratu Bhatiyani menyentuh dagu Pratap, “Baiklah, ayo makan dulu, sudah beberapa hari kau tidak makan, itu adalah sebabnya, kau sampai tidak sadar dengan sikapmu. Ayo”.

Mahaputra Maharana Pratap #2 02

Selanjutnya, Pratap sudah duduk di meja makan, siap dilayani Ratu Bhatiyani, “Ayo, cicipi makanannya, kau berdoa, biar aku yang menyuapi”. Pratap sudah membuka mulutnya saat ibunya, permaisuri Jaivanta muncul, “Tunggu pangeran!”. Suapan ratu Bhatiyani terhenti, Pratap menoleh ke permaisuri Jaivanta. Permaisuri Jaivanta menatap anaknya itu, “Apa aku harus mengingatkan kembali peraturan di rumah kira?! Apa kau dengan mudah melupakan segala ritual sehari-hari di rumah ini?”.

Ratu Bhatiyani membela Pratap, “Kakak, memangnya apa yang dilakukan pangeran? Sudah dua hari dia tidak makan, aku sekalian mengajaknya makan bersamaku”. Permaisuri Jaivanta tetap tegas, “Saudariku Bhatiyani, pangeran tau betul apa yang aku katakan, dan kenapa akau katakan”. Pratap akhirnya bicara pada Bhatiyani yang kebingungan, “Ibu, aku bisa melakukan kesalahan tadi, sebelum ritual, mana mungkin aku makan”, kemudian bergegas berdiri. Bhatiyani mencoba menahannya, “Tapi pangeran, tidak baik meninggalkan makanan begitu saja”.

Pratap menatap ratu Bhatiyani, “Tidak ibu Bhatiyani, sebelum makan melakukan ritual adalah kewajiban kita. Ayo ibu”, mengajak permaisuri Jaivanta menuju ruangan ritual. Bhatiyani bersuara, “Kakak, terkadang aku merasa bingung, siapa yang harus aku puji, kaukah, atau pangeran”. Pratap dan ibunya sama-sama tersenyum menatap Bhatiyani.

Mahaputra Maharana Pratap#2 04

Di ruang kuil, setelah pemujaan, Pratap bertanya pada ibunya, “Ibu, aku bertanya pada ayah karena aku ingin tau, aku tidak bisa mengerti, kenapa seorang raja pemberani seperti ayah tidak bisa melakukan kewajibannya ibu. Shams sudah menuntut ayah dihadapan semua orang, tapi kenapa, ayah tidak bisa menjawabnya dengan baik”.

Permaisuri Jaivanta bukannya menjelaskan langsung, tapi balik mengajukan permasalahan, “Apa aku boleh bertanya padamu? Apakah melakukan ritual setiap hari adalah kewajibanmu?”. Pratap dengan cepat menjawab, “tentu ibu”. Jaivanta mengingatkan, “Lalu kenapa kemaren kau tidak melakukannya”. Pratap memberikan alasan, “Ibu taukan, aku dijadikan tahanan dalam dua hari”.

Permaisuri Jaivanta tersenyum, “Baiklah, aku tanyakan satu hal lagi, kita semua tau, bahwa pangeran Shakti yang mulai menghasut prajurit Shamli untuk mulai bertarung, apa menceritakan sejujurnya disana bukan menceritakan kewajibanmu? Aku hanya mencontohkan dua kejadian, dalam kedua kejadian itu, kau tau kewajibanmu, tapi kau tidak dapat menjalankan kewajibanmu”.

Permaisuri Jaivanta kemudian menjelaskan, “Ketika Yang Mulia menyerah pada panglima Shams dan menyerahkan kunci khasanah, saat itu dia berkompromi dengan kewajibannya sebagai kesatria, tapi dia juga menjalankan kewajibannya, sebagi penguasa sejati. Oleh karena itu meskipun sebagai seorang pemberani, kebaikan rakyatnya yang membuat dia berkompromi dengan kewajibannya sebagai seorang pemberani”.

Mahaputra Maharana Pratap#2 06

Pratap tetap ingin tau, “Dan yang terjadi kemaren ibu”. Permaisuri kembali menjelaskan, “Jika karena emosi, raja Udai mengambil satu saja langkah salah, maka semua rencananya mencabut Shamli dari akarnya akan hancur berantakan. Kau tau, betapa mahal kompromi yang dilakukan raja Udai dengan Shams”. Pratap heran, “mahal?”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Iklan

Gimana Menurutmu Kawans? :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s