Para prajurit itu berdiri berjajar menghadang jalan. Noor dan Siyamak yang terkejut memperhatikan prajurit. Noor tercekat, menarik nafas dalam, menatap Siyamak, memberikan anggukan kecil. Beberapan prajurit itu perlahan mendekat. Siyamak menunggu dengan wajah geram. Noor menatap waspada.

Prajurit mengayunkan pedangnya, Noor merunduk, mengincar lengan si prajurit, begitu juga dengan Siyamak, menghadapi prajurit yang menyerangnya. Mereka berhasil merebut masing-masing satu pedang lawan. Noor yang memang jago main pedang menghadapi dua musuh, begitu juga dengan Siyamak. Noor berhasil menjatuhkan satu musuh.

Khorasan yang muncul di lorong itu, terkejut, “Noor? Siyamak!”. Ia kaget melihat putri dan cucunya bertarung dengan beberapa prajurit. Tanpa melihat situasi, Khorasan berlari mau membantu, seseorang memukul kepalanya dengan gagang pedang. Khorasan memegang kepalanya, jatuh telentang.

Ashoka #111 episode 101 23

Ternyata yang memukul salah satu prajurit Nicator. Si prajurit menghunuskan pedangnya ke tubuh Khorasan yang tergeletak menahan sakit. Sebelum ayunan pedang musuh menancap ke tubuh Khorasan, pedang Justin sudah menusuk tubuh prajurit dari belakang. Khorasan lega menatap justin yang datang tepat waktu.

Di lorong lain, Agnishikha menyeret tangan Ahankara. Setelah sampai di tempat lorong yang tak jauh dari pintu rahasia, Agnishikha memarahi Ahankara, “Kemana saja kau! dari tadi aku mencarimu! Aku sudah bilang kalau bersamaku terus! Gara-gara kau kami semua jadi terlambat. Ayo”, sambil menarik tangan Ahankara. Ahankara diam saja, menatap Agnishikha dengan tatap tak percaya.

Agnishikha memegang tangan adik sepupunya itu, “Ahankara, kita semua harus pergi dari sini, apa kau tidak mengerti? Ayo!”. Ahankara tetap diam, tetap dengan tatap tak percaya. Agnishikha menunjukkan wajah setengah marah, “Ada apa lagi?”.

Ashoka #111 episode 101 25

Ahankara bersuara, “Jadi kau terlibat dengan siasat ini kak?”. Agnishikha menunjukkan wajah penuh dendamnya, “Bukan siasat, tapi balas dendam! Balas dendam atas pembunuhan ayahku!”. Ahankara menanggapi, “Pembunuhan? Kakak, itu bukan pembunuhan! Tapi dia tewas di medan perang pada saat itukan?!”. Agnishikha melunakkan suaranya, “Nanti saja kita bicarakan hal ini Ahankara. Ayo kita pergi sekarang”, memegang tangan Ahankara, menariknya.

Ahankara menahan tangannya, “Kalau kau ingin balas dendam! Kenapa tidak langsung berhadapan saja! Dengan melakukan hal seperti ini, itu telah membuktikan dirimu sebagai pengecut kak!”. Agnishikha meras tersudut dengan ucapan Ahankara. Ia memegang pipi adik sepupunya itu, memegang pundak Ahankara, “Nanti saja kita bicarakan hal ini Ahankara. Kita harus segera pergi dari sini! ayo, istana ini semuanya akan terbakar, siapapun yang ada disini pasti akan mati, kau mengerti? Ayo!”.

Ahankara tetap menahan tangannya, “Apa kau bisa memikul beban dosa ini? Apa kau tidak akan merasa bersalah?! Lagipula! kau balas dendam pada Yang Mulia! Kenapa kau tidak adil pada istrinya dan pada anak-anaknya kak?! Aku tidak mengharapkan hal sekeji ini terjadi dari dirimu!”. Agnishikha hanya melototkan matanya, “Ayo!”.

Ahankara menahan tangannya yang ditarik Agnoshikha. Agnishikha menoleh, “Apa kau ingin mati?”. Ahankara menjawab, “Daripada mengkhianati orang, lebih baik aku mati!”. Ahankara mengibaskan tangannya yang dipegang Agnishikha, berlari meninggalkan Agnishikha yang berteriak memanggilnya, “Ahankara!”. Agnishikha menoleh panik ke arah yang sudah dekat terowongan, menoleh lagi ke arah lari sambil memanggil, “Ahankara!”. Agnishikha merentakkan tubuhnya, akhirnya berlari menyusul Ahankara.

Ashoka #111 episode 101 27

Di lorong Khorasan terkapar, ia mengingatkan Justin yang masih terpana, “Justin, selamatkan Noor dan Siyamak! Cepat!”. Justin berlari membantu Siyamak dan Noor yang masih bertarung pedang dengan prajurit musuh. Siyamak berhasil menendang satu musuh dengan kakinya, Noor yang melihat, berlari membantu, dibelakangnya musuh siap menebaskan pedang ke punggungnya. Pedang Justin menahannya. Noor menoleh, Justin menatap prajurit yang berusaha melukai Noor dengan tatap marah. Dengan mudah Justin merobohkan musuh.

Prajurit lain datang menyerang Justin. Noor yang berdiri terpana, hendak membantu, seorang prajurit memukul kepalanya, Noor mengaduh, Justin menusuk si prajurit dengan pedang. Siyamak terkejut. Noor memegang kepalanya dan mau roboh, Justin berteriak, “Noor”. Siyamak juga berteriak, “Ibu!”. Sebelum tubuh Noor jatuh, Justin berhasil menangkapnya. Justin memegang pipi Noor yang pingsan.

Ashoka sampai dilorong istana yang seperti sama aja dengan wajah panik. Tiba-tiba wajahnya tersenyum, ingat saat mengambil peta istana di bagian konstruksi dulu. Ia mulai menganalisa dengan bicara sendiri, “Melihat gambaran peta terowongan, seharusnya jalan keluarnya ada di, sebelah Barat!”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :