Ashoka #111 episode 101 07

Raajaajiraaj sampai di lorong dekat Helena dan Nicator menunggu. Ia heran hanya ada dua orang itu aja, “Mana pangeran Justin dan putri Agnishikha?”. Helena menjawab dengan wajah keteledoran ini bukan salahnya, “Agnishikha pergi mencari Ahankara, dan Justin. Justin melihat Noor”. Raajaajiraaj semakin bingung lagi, “Melihat Noor? Sekarang bagaimana?”.

Nicator yang dari menengadah, nyahut, “Apinya menyebar”. Helena dan Raajaajiraaj ikut menengadah, yup, mereka melihat api sudah mulai menjalar kebagian istana yang lebih luas. Nicator menatap Raajaajiraaj, “Kita tidak bisa menunggu lagi!”. Raajaajiraaj panik, “Tapii,, kita tidak pergi tanpa Agnishikha dan Ahankara!”. Nicator menjawab dengan nada kesal, “Mereka berdua seharusnya bisa mengerti hal ini!”.

Raajaajiraaj memberitau, “Tapi Ahankara, sama sekali tidak tau tentang rencana kita ini! Aku hanya mengatakan pada dia, setelah upacara selesai, temui aku ditempat itu dan dia tidak ada disana”. Nicator bicara tegas, “Kami tidak bisa menanggung kesalahan yang dilakukan oleh keponakanmu dan putrimu! Dan kami, tidak ingin mati terbakar disini! Karena itu kami mau pergi!”.

Helena yang juga cemas, mengingatkan ayahnya, “Tapi kita tidak bisa pergi meninggalkan Justin! Untuk dialah aku melakukan semua ini!”. Raajaajiraaj juga cemas. Nicator menjawab dingin, “Cintanya pasti akan membakar dia! Api akan membakar kita juga. Ayo kita pergi dari sini! Kita menunggu diterowongan! Ayo!”. Helena juga setuju, “Ayo!”. Raajaajiraaj ikut.

Ashoka #111 episode 101 09

Di bagian lain istana, orang-orang berlari panik minta tolong, sementara di belakang mereka, pasukan Ujjayani dan pasukan Nicator mengejar. Akramak membawa beberapa prajurit mendekati tempat keluarga kerajaan sambil melawan prajurit musuh yang menghadang.

Dibagian lain, Calata juga sibuk berputar-putar melihat kesibukan orang-orang. Permaisuri Subrasi panik, matanya mulai pedih oleh asap, ia masih memegang anaknya sambil menangis, “Dhrupad”. Sementara Dhrupad memperhatikan orang-orang yang panik berlarian. Subrasi memeluk Dhrupad agak ke tiang.

Bindusara masih belum memahami juga apa yang terjadi, begitu juga dengan Calata, walau ia berdiri di barisan depan Bindusara dan dua permaisuri itu. Mereka belum sepenuhnya bisa memahami apa yang terjadi.

Ashoka #111 episode 101 10

Teriakan kepanikan itu terdengar ke ruangan Chanakya di pulihkan. Dharma, Ashoka, Radhagupt, semua cemas mendengar suara kepanikan itu. Chanaya bicara dengan susah payah, “Ashoka, kita harus melindungi, keluarga kerajaan”. Dharma langsung memegang lengan Ashoka.

Ashoka bicara pada Radhagupt, “Kau lindungi ibu dan Acharya Chanakya dari sini”. Radhagupt mengangguk. Ashoka bicara dengan wajah penuh tekad, “Aku akan pergi untuk melindungi keluarga istana”. Dharma memegang lengan Ashoka sambil menangis, “Tidak, tidak, kau tidak akan kemana-mana”. Ashoka menjawab dengan tegas, “Hari ini jangan mencegahku bu. Hari ini masalahnya tentang tanah airku”. Radhagupt menatap Ashoka terpana, Chanakya dengan nafas sesak juga menatap murid kesayangannya itu.

Ashoka menatap ibunya dengan wajah memohon, “Bu, berikan saja restu pada putramu ini, dan berdoalah supaya aku bisa melindungi mereka”. Dharma tetap menggeleng, “Tidak, Ashoka”. Ashoka menangis sedih, “Kalau terjadi sesuatu pada Acharya, meskipun aku menyelamatkan keluarga kerajaan, aku tidak akan bisa menyelamatkan kehancuran tanah airku”.

Ashoka #111 episode 101 12

Chanakya bersuara masih dengan nada lemah, “Pergilah Ashoka”. Dharma menatap Chanakya sambil menangis. Chanakya dengan susah payah memberitau, “Tapi pertama-tama. Pertama-tama kau harus cari tau, jalan rahasia yang disiapkan oleh musuh untuk melarikan diri. Dan ingat baik-baik, ingatlah satu hal, jika orang yang butuh bantuan, menolak untuk membantu, dan melarikan diri dari keadaan dimana orang butuh bantuan, disebut seorang pengecut”. Ashoka mendengar dengan baik. Dharma menangis, Radhagupt mendengar dengan wajah serius.

Chanakya mengingatkan Ashoka lagi, “Karena itu, dijalan ini, setiap rintangan menghadangmu Ashoka, menghancurkan rintangan itu, itu menjadi tugasmu! Karena itu ingatlah, membinasakan semua musuh yang ada dijalan ini, adalah kewajiban dari dirimu. Dan untuk membinasakan musuh, kau harus selalu siap. Dan jika kau sudah siap, maka kau boleh menerima tugas ini”. Dharma menangis mendengar penuturan Chanakya itu.

Ashoka dengan wajah yakin menjawab, “Aku menerima tugas ini Acharya. Dan untuk memenuhi tugas ini, apapun yang perlu aku lakukan, pasti akan aku lakukan”. Teriakan-teriakan diluar makin keras terdengar, Chanakya mempertajam pendengarannya. Dharma menangis, Ashoka menatap ibunya itu, jongkok, menyentuh kaki wanita yang sangat dipatuhinya itu. Dharma memegang kepala Ashoka sambil terus menangis, “Semoga kau berhasil anakku”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :