Ashoka #107 episode 97 15

Agnishikha menaroh wadah lilin tersebut dipojokan dekat pintu. Justin menatap ke dalam istana yang terlihat megah tersebut, wajah Helena tetap tegang. Agnishikha menyerahkan nampan ke pelayang yang dekat situ, ia sudah selesai menjalankan ritual yang penuh ketegangan tersebut, kembali ke tempatnya berdiri. Agnishikha menatap Helena sambil tersenyum menarik nafas lega.

Helena kemudian menoleh kebelakang, “Mari! semuanya, silahkan masuk”. Bindusara diikuti yang lain melangkah melewati undakan pintu memasuki ruangan. Dharma mengintip situasi dari balik tiang tempatnya berdiri. Helena dan Nicator masih diluar, memastikan semua tamu yang diinginkannya masuk semua. Khorasan juga masih berdiri di luar memperhatikan orang-orang yang masuk.

Helena menatap Khorasan yang terlihat gelisah, “Mir? Siapa yang kau tunggu. Bagaimana acara pernikahan ini daapt terlaksana tanpa kehadiran orang-orang penting yang ada di istana itu, ayolah masuk. Hari ini lupakan saja bahwa kau seorang panglima, hari ini ada anggota keluargamu yang akan menikah, nikmati acara ini”. Nicator ikut memperhatikan Khorasan, sambil membuka tangan mempersilahkan. Khorasan sendiri tak ingin menimbulkan kecurigaan kalau dia sedang mencari Dharma, ia pun mengangguk.

Ashoka #107 episode 97 18

Khorasan melangkah masuk bersama dua prajurit yang mendapat tugas mencari Dharma. Begitu melihat Khorasan masuk barisan orang yang memasuki ruangan, dengan cepat Dharma juga ikut kedaalm barisan. Setelah melewati pintu masuk, dengan cepat Dharma berbelok ke ruangan lain.

Helena dan Nicator tetap menunggu diluar sampai semua tamunya masuk. Begitu semua masuk, dengan cepat ia mematikan lilin dekat pintu dengan kakinya, kemudian dengan langkah ringan dan wajah penuh senyum memasuki ruangan.

Wadah lilin sudah tak lagi menyala. Nicator yang didampingi Raajaajiraaj menjelaskan pada Bindusara, “Sesuai tradisi, mempelai wanita harus dimandikan dulu setelah itu kedua mempelai hadir dan mengucapkan janji pernikahan”. Bindusara tersenyum mendengarkan, begitu juga dengan Raajaajiraaj, sementara Justin yang ikut berdiri disitu nampak gelisah. Nicator masih menjelaskan, “Dan setelah itu kedua mempelai serta seluruh keluarganya memuja Dewa Yunani. Setelah memuja disana, jamuan makan disajikan”. Bindusara tersenyum menatap Justin.

Ashoka #107 episode 97 19

Justin membalas tersenyum kemudian bicara, “Ma’af Yang Mulia, aku, aku akan segera kembali”. Bindusara mengangguk, Nicator tak bisa mencegah Justin. Dengan wajah tegang, Justin melangkah pergi dari tempat itu. Nicator terus mengajak Bindusara bicara, “Karena pernikahan ini, aku mendapatkan kesempatan berada dekat anda, dan aku bisa melewatkan waktu bersama anda”. Bindusara hanya mengangguk tersenyum. Raajaajiraaj juga tersenyum.

Bindusara tanpa kentara mengidarkan pandangannya ke sekeliling ruangan sambil membathin, ‘Dharma, dimana kau berada, buktikan bahwa itu bukan khayalanku, buktikan penglihatanku tidak salah, buktikan bahwa cinta kita adalah abadi Dharma”. Bindusara menatap dengan wajah gelisah.

Ashoka #107 episode 97 22

Di ruangan lain di depan meja makanan, Charumitra menjelaskan pada Dharma dan pelayan lain, “Ladu ini dari Ujjayani, dan ibu suri mengatakan padaku, jangan ada tamu yang pergi tanpa mencicipinya. Dharma menjawab, “Perintah anda akan dilaksanakan permaisuri”. Dharma mengambil senampan ladu, begitu juga dengan pelayan lain, membawanya keluar ruangan.

Dari balik sebuah tiang, di dekat meja makanan yang sedang diawasi Charumitra, Agnishikha memperhatikan dengan diam-diam, ia membathin, ‘setelah makan ladu itu, kekuatan untuk berfikir dan memahami akan menurun. Ketika istana ini dibakar, tidak ada yang sanggup untuk menyelamatkan diri’, sambil tersenyum senang.

Dharma membagikan ladu ke tamu, muncul pangeran Dhrupad, mengambil banyak ladu dari nampan yang dipegang Dharma. Dharma tersenyum melihat tingkah pengeran cilik tersebut. Khorasan berkeliling dengan mata awas. Dhrupad yang setelah mengambil ladu berlari menjauhi Dharma berpapasan dengan Khorasan, ia langsung dihentikan Khorasan, “Pangeran Dhrupad, dimana para pembantu ibumu”. Dhrupad tersenyum, “Sevika ada disana! Itu disana”. Khorasan tersenyum mengangguk. Dhrupad melanjutkan larinya ke ruangan lain.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :