Ashoka: Setetes Darah di Peletakan Batu Pertama Istana Justin. Sumpah Ashoka Untuk Menjadi Kuat, Kepercayaan Solusinya


Serial Ashoka episode sebelumnya, Ashoka yang melarikan diri dari kurungan kerangkeng prajurit Sushima, melihat ibunya di hutan, Ashoka terharu karena doanya terjawab. Tapi Ashoka marah tau Dharma (ibunya) masih hidup, tapi menjauh darinya selama ini, mana ibunya meminta Ashoka berjanji dengan tetap menganggapnya tiada dihadapan semua orang. Ashoka meninggalkan ibunya dengan rasa marah. Sementara itu, rencana Helena terus berjalan, Seleucus Nicator sudah datang di istana dengan keinginan terpendam menaklukkan Magadh.

Ashoka #73 episode 63 00

Sinopsis serial #73, Seleucus Nicator memasuki ruang pertemuan istana Magadh diikuti beberapa pelayan yang membawa nampan. Sedang di ruang sidang Yang Mulia Bindusara dan pejabat kerajaan lain sudah menunggu.

Yang Mulia Bindusara tersenyum menatap Nicator yang masih berjalan dengan langkah tegap menuju ke arahnya. Chanakya memperhatikan Nicator dengan wajah serius. Helena, Justin, Agnishikha menatap Nicator dengan wajah menunggu. Sepanjang area menuju ke depan singgasana kerajaan Magadh dimana Bindusara duduk, Nicator dan rombongan mendapatkan taburan bunga dari pelayan penyambutan ke rajaan Magadh. Chanakya menatap tetap dengan wajah menyelidik tanpa wajah basa basi.

Ashoka #73 episode 63 01

Nicator menganggukkan kepala, sebagai tandan hormat pada Yang Mulia Bindusara yang langsung berkata, “Kami menyambutmu di Magadh”. Nicator membalas dengan ucapan basa basi, “Aku sangat berterima kasih pada anda, karena telah mengirimkan undangan untuk hadir di pernikahan cucuku”. Justin tersenyum. Chanakya tetap dengan wajah serius. Agnishikha melirik tempat Helena duduk.

Nictaor masih melanjutkan ucapan basa basinya, “Sudah bertahun-tahun aku tidak bertemu dengan putriku Helena dan cucuku Justin”. Helena, Justin dan Agnishikha makin tersenyum. Bindusara merespon, “Aku bisa mengerti, karena itulah ketika ibu suri mngutarakan keinginannya yang satu ini, aku menerimanya sebagai sebuah perintah yang harus kulaksnakan”. Helena tersenyum lebar mendengar ucapan Bindusara, Raajaajiraaj mengulum senyum. Chanakya memperhatikan wajah orang-orang tersebut.

Nicator melirik ke pelayannya, “Cepat serahkan oleh-oleh yang aku bawakan”. Bindusara tersenyum, begitu juga Helena. Nicator memberi tau bawaannya di atas nampan yang dipegang pelayannya, “Ini arak terbaik dari Yunani dan kurma Yunani terbaik khusus untuk anda”. Chanakya menarik nafas melihat basa-basi tersebut.

Bindusara tanpa prasangka pada tamunya merespon, “Bahkan setelah sekian tahun berlalu kau pun masih ingat pada apa yang aku sukai”. Nicator membalas dengan ucapannya, “Mengingat yang anda sukai adalah hal yang membanggakan bagiku Yang Mulia”. Chanakya hanya memperhatikan.

Nicator membuka kedua tangannya, menatap ke arah Helena yang duduk dikursi kebesarannya sebagai ibu suri di sisi kiri singgasana Bindusara, “Putriku Helena”. Helena langsung berdiri, “Aku disini ayah”, kemudian melangkah turun mendekati Nicator, memeluknya. Nicator berujar, “Semoga bahagia”. Bindusara tersenyum melihat ayah dan putri yang berangkulan itu. Chanakya memperhatikan dengan wajah dingin. Justin tersenyum tipis. Agnishikha tersenyum memberi kesan sangat senang. Calata tersenyum lebar.

Ashoka #73 episode 63 03

Helena melepaskan pelukannya, “Entah sejak berapa tahun, aku menunggu saat-saat seperti ini”. Nicator merespon, “Begitu juga aku, ketika aku mendengar tentang pernikahan Justin, aku tidak dapat menahan diri”, sambil melirik Justin, “Hah, Justin”, yang sudah berdiri menyambut bersama Agnishikha. Nicator menyerahkan hadiah yang dibawanya, “Ini untuk kalian berdua” Justin memberi isyarat agar Agnishikha yang menerima. Agnishikha tersenyum menerima bulu merak yang diserahkan Nicator. Bindusara tersenyum menyaksikan itu semuanya, Chanakya memperhatikan semua ekspresi dengan serius.

Nicator menjelaskan oleh-oleh yang diberikannya, “Anakku itu adalah pertanda Dewi Hera dalam kepercayaan Yunani. Itu adalah sebuah restu, agar kehidupan rumah tangga kalian penuh dengan kebahagiaan dan impian kalian berdua akan selalu terwujud”. Justin dan Agnishikha saling tatap dengan senyum.

Raajaajiraaj bangun dari duduknya, ikut menghampiri Nicator, “Selamat datang, selamat datang, seharusnya kami yang memberikan bingkisan karena kami dari pihak perempuan”. Nicator menjawab seakan mereka belum pernah bertemu, “Jangan anggap aku sebagai tamu, tapi sebagai kakeknya Justin, aku juga punya kewajiban, punya hak”. Raajaajiraaj tersenyum lebar, “Tentu”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Iklan

One response to “Ashoka: Setetes Darah di Peletakan Batu Pertama Istana Justin. Sumpah Ashoka Untuk Menjadi Kuat, Kepercayaan Solusinya

  1. Ping-balik: Ashoka: Memenuhi Undangan Makan Bindusara, Sushima Marah, Noor Tidak Percaya Cinta Justin | Dizaz·

Gimana Menurutmu Kawans? :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s