Ashoka: Marah, Tau Dharma (Ibunya) Masih Hidup, Tapi Menjauh Darinya


Serial Ashoka episode sebelumnya, Dhrupad yang ingin kesekolah menemui kakaknya Sushima dan Siyamak meminta ijin ibunya. Permaisuri Subrasi menyuruh Dharma ke sekolah bangsawan, rencana Sushima, restu ibu menyertai Ashoka dalam setiap langkahnya bukan hanya di yakini Ashoka, tetapi kehadirannya juga dirasakan. Sushima yang ingin menyingkirkan Ashoka dari babak ketiga pertandingan membuat siasat. Ashoka masuk perangkap yang dibuat Sushima, ditahan prajurit suruhannya dalam kerangkeng di hutan. Dharma yang mendengar rencana jahat Sushima pada Ashoka dari Dhrupad, tak berhasil menemui Chanakya, akhirnya ia sendiri yang berlari ke hutan untuk menyelamatkan Ashoka.

Ashoka #72 episode 62 00

Sinopsis serial Ashoka #72, Ashoka berhasil melengkungkan jeruji kerangkeng tempatnya dikurung, kemudian dengan memiringkan badan, mengempeskan perut dengan menahan nafas, Ashoka keluar dari kerangkeng lewat jeruji yang sudah melengkung itu. Ashoka berdiri sebentar memperhatikan para prajurit yang masih tertidur pulas, kemudian berlari menjauh dari situ.

Sementara itu, Dharma juga terus berlari di dalam hutan mencari Ashoka mengikuti arah dedaunanan kering yang terlihat habis menyeret sesuatu.

Salah satu prajurit yang tidur dengan posisi miring ke arah kerangkeng Ashoka dikurung sebelumnya, terbangun kaget melihat kerangkeng yang sudah kosong. Ia pun menggoyang lengan temannya yang tidur di sebelah, “Heh, dia sudah kabur. Ayo, cepat bangun cari dia, kalau tidak pangeran Sushima akan marah”. Parjurit lain juga terbangun, berlari mengejar Ashoka yang sudah pasti menuju arah sekolah.

Ashoka #72 episode 62 01

Tiba-tiba, angin bertiup kencang, menerbangkan dedaunan kering di dalam hutan, alam sepertinya ikut melindungi Ashoka dari kejaran prajurit, dan memang harus bertemu ibunya. Dharma yang masih berlari ke arah dalam hutan mulai merasakan debu dan daun kering, begitu juga Ashoka yang sedang berlari menuju ke arah luar hutan.

Awalnya Ashoka dan Dharma dari arah berlawanan masih bisa berlari ditengah tiupan debu dan dedaunan kering, tapi, lama-lama, mata Dharma ga bisa menahan debu yang tertiup angin, ia pun berhenti melindungi mata dari kemasukan debu dengan tangan, begitupun dengan Ashoka, ia terpaksa menghentikan larinya, mengernyitkan mata sambil terus melindungi dengan dua tangan. Dharma bisa melindungi mata dengan menggunakan selendangnya hingga ia bisa melihat ke depan.

Sambil bertahan dari tiupan angin yang tiba-tiba kencang ia melihat, tak jauh di depannya, Ashoka sedang berusaha melindungi mata dari debu yang tertiup angin. Dharma menangis bahagia melihat Ashoka baik-baik saja, Dharma pun bergumam, ‘Ashoka’, sambil tersenyum memperhatikan Ashoka yang masih sibuk melindungi matanya dari debu dan angin.

Dharma yang terus memperhatikan Ashoka melihat kedatangan dua orang lelaki di belakang Ashoka yang membawa pedang, mereka berjalan mengendap ditengah kencangnya tiupan angin mendekati Ashoka. Dharma bingung, “Mereka, bagaimana aku akan memberi taukan pada Ashoka”. Mata Ashoka masih belum bisa melihat, arahnya berdiri menantang arahnya angin yang bertiup, ia masih sibuk melindungi matanya agar tak kemasukan debu. Dua lelaki dibelakang Ashoka semakin dekat.

Dharma mulai panik karena Ashoka masih belum menyadari keberadaan dua orang dibelakangnya, ‘Ashoka’. Melihat dua orang yang membawa pedang di belakang Ashoka semakin dekat, Dharma pun berteriak untuk mengingatkan, “Ashoka!!!!”. Dua orang itu pun berlindung di belakang pohon, kemudian kabur.

Ashoka #72 episode 62 02

Angin perlahan reda, Ashoka bisa melihat dengan jelas ke depan. Ashoka berdiri terpana. Dharma berdiri menatap Ashoka dengan menahan tangis. Ashoka ditempatnya berdiri, bergumam, “Ibu?”, mengedipkan mata, tersenyum. Dharma ditempatnya berdiri juga tersenyum melihat senyum Ashoka.

Ashoka dan Dharma tetap berdiri terpaku di tempat berdiri masing-masing, saling tatap. Ashoka kemudian mengernyitkan wajahnya, karena diawal-awal kehilangan ibunya, dia sering melihat sosok ibunya seperti itu, yang ternyata hanya ruang hampa. Ashoka pun bergumam dengan sedih, “Aku pasti berkhayal”, kemudian bersiap melanjutkan langkah dengan wajah tertunduk menahan kesedihan. Dharma yang mulai menangis melihat kesedihan Ashoka, bersuara, “Kau tidak berkhayal, ini memang aku, ibumu”.

Ashoka menatap, seakan memastikan suara yang di dengarnya juga nyata. Dharma menganggukkan kepalanya. Ashoka menangis. Dharma mengangkat ke dua tangannya, membuka pelukan agar Ashoka mendekat. Ashoka makin menangis ditempatnya berdiri, “Ibu”. Dharma juga menangis dengan tetap mengangkat tangannya, menunggu Ashoka.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Iklan